Sering Diabaikan di Tempat Kerja, Resign atau Bertahan?

Endah Wijayanti29 Apr 2019, 15:25 WIB
diabaikan di kantor

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: N - Semarang

Aku merasakan apa yang sedang kamu rasakan, dan kamu pun pernah merasakan apa yang aku rasakan. Welcome to working world, selamat datang di dunia kerja, dunia yang penuh dengan ribuan drama dimana kamu dituntut untuk menjalaninya dengan sebaik mungkin.

Kita para pekerja, pasti pernah merasakan banyak hal yang tidak menyenangkan di dunia kerja ini, hinaan, tekanan, kesepian, kesulitan, drama, fraud, dan banyak lagi. Satu per satu kita hadapi hingga kita mulai enggan dan berat langkah untuk kembali ke meja kerja. Sadar akan sulitnya mencari pekerjaan membuat kita melangkah untuk kembali bekerja namun ribuan tekanan membuat kita kembali berhenti melangkah, seolah malaikat sayap kanan dan kiri sedang berdiskusi dengan sang hati nurani.

Hari ini aku berbagi kisah, kisah yang sama dengan ribuan pekerja di luar sana, itu yang membuat aku memikirkan kembali tentang keluhanku pada pekerjaan ini sampai usahaku untuk melawan pikiran buruk, ya fight the bad feeling. Saat ini, Tuhan sedang menakdirkanku bekerja di salah satu perusahaan manufaktur sebagai admin manajer.

Aku cukup bersyukur karena proses tes seleks ku dulu tidak berlangsung lama, hanya membutuhkan waktu sehari untukku bisa bergabung. Hari dan bulan pun berganti hingga akupun merasakan titik kejenuhan, bukan aku tak menyukai pekerjaanku tetapi rasa kesepian ini membuatku merasa aneh dan serba bingung.

Aku bekerja bersama manajer dan asisten manager. Hanya ada kami bertiga di dalam ruangan, dan merekapun lebih sering ke lapangan. Kau tahu, tidak ada yang bisa bersahabat dengan kesendirian. Mereka baik, tapi tidak cukup akrab denganku, mungkin posisiku yang masih awam membuat mereka tidak bisa langsung mendekatan diri kepadaku dan aku paham itu.

Kadang mereka juga seolah tak menganggapku. Aku mencoba bersabar dan tetap berusaha menyesuaikan diri karena ini bagian dari tanggung jawabku. Aku berterimakasih kepada pegawai lain yang mudah akrab denganku dan tak enggan menebarkan senyuman kepadaku. Kau tahu, itu sepele tapi penting untuk orang-orang baru seperti kami. Kami juga berhak dengan senyum dan sapa hangat dari kalian, bukan?

 

Lelah dengan Kesendirian

kerja rodi
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Hari demi hari aku lewati hingga aku mulai lelah dengan kesendirian ini, mereka tak mesti berbicara kepadaku. Kami lebih sering larut dalam pekerjaan kami masing-masing, seakan lupa bahwa komunikasi dan canda tawa penghuni ruangan bukanlah hal yang bisa disepelekan. Sekali lagi, tak ada orang yang bisa bersahabat dengan kesendirian.

Sempat aku berpikir apakah aku harus resign? Bagaimana dengan statusku sebagai pegawai baru. Ah, rasanya tidak mungkin jika aku melakukannya sekarang. Terkadang aku juga merindukan teman-teman tempatku bekerja dulu, aku sudah menganggap lebih dari sekadar teman di kantor. Bukan hanya teman tetapi juga keluarga. Satu alasan yang membuatku harus meninggalkan mereka yang tak bisa aku ceritakan. Jalan baik yang ingin aku tempuh dan Tuhan telah menakdirkanku disini.

Saat ini aku masih berusahan melawan pikiran buruk ini. Pikiran yang selalu membayangiku. Apakah mereka bisa menerimaku? Apakah aku bisa menjadi yang seperti mereka harapkan? Apakah pekerjaanku bisa maksimal?

Aku melawan itu semua dengan keyakinanku bahwa aku bisa melakukannya dengan baik. Cepat atau lambat aku pasti bisa menyesuaikan lingkungan ini. Harapan besar ada di dalam hati, aku ingin mereka bisa menerimaku, menganggapku seperti keluarga sendiri. Aku ingin di ruangan ini, kami bisa berbagi canda tawa, sama seperti suasana dengan teman-temanku tempat bekerja dulu. Semoga tidak ada lagi catatan kesepian setelah ini.

Kalian, yang saat ini sedang mengalami hal yang sama... bertahanlah lebih dulu. Tuhan pasti akan menunjukkan jalan baik. Yakinlah bahwa segala sesuatu yang baik pasti akan diterima cepat atau lambat. Dan aku berharap mereka menerimaku seperti keluarga. Hingga tak ada lagi suasana berdiam diri.

Pikiran buruk akan menganggu raga dan batin, dan aku memilih untuk melawan pikiran buruk itu dengan keyakinan. Yakin bahwa Tuhan yang Maha baik akan memberikan yang terbaik untuk orang-orang yang baik.

Lanjutkan Membaca ↓