Kepuasan Kerja Seringkali Tak Dapat Dinilai dengan Nominal Uang

Endah Wijayanti06 Mei 2019, 04:15 WIB
menjadi guru

Fimela.com, Jakarta Punya pengalaman suka duka dalam perjalanan kariermu? Memiliki tips-tips atau kisah jatuh bangun demi mencapai kesuksesan dalam bidang pekerjaan yang dipilih? Baik sebagai pegawai atau pekerja lepas, kita pasti punya berbagai cerita tak terlupakan dalam usaha kita merintis dan membangun karier. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis April Fimela: Ceritakan Suka Duka Perjalanan Kariermu ini.

***

Oleh: Nia Kurniawati - Cianjur

Bagi para pecinta MCU, tentunya mengenal pym particle yang digunakan para Avengers dalam sekuel End Game untuk membawa mereka kembali ke entitas masa tertentu, memperbaiki keadaan dan kembali ke masa kini. Lalu seandainya pym particle itu benar-benar nyata dan saya diberikan kesempatan untuk menggunakannya dan mengubah apa yang telah saya putuskan dalam kehidupan saya di masa lalu, apa yang akan saya ubah? Maka jawabannya adalah tidak ada.

Meski saya hanya perempuan biasa yang bekerja sebagai guru. Profesi yang seringkali dianggap sangat biasa, jika diukur dari sudut pandang finansial dan popularitas. Pendapatan saya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan standar hidup minimal saja, tidak bisa bermewah-mewahan seperti para hype-beasts, pemain sinetron, atau selebgram, yang mungkin hanya membutuhkan waktu beberapa jam untuk mendapatkan penghasilan saya selama satu bulan. Wajah pun saya tidak pernah menghiasi halaman depan majalah, dan followers media sosial saya pun hanya anak didik yang saya temui setiap hari. Hidup saya hanya ditemani gelak tawa dan isak tangis di ruang kelas.

Menjadi seorang guru pada awalnya memang bukan opsi utama saya. Opsi saya ada pada sederatan profesi yang secara finansial dan prestise sangat menjanjikan. Namun, seperti ungkapan bahwa Tuhan seringkali memberikan apa yang kita butuhkan bukan yang kita inginkan, meskipun seringkali pada awalnya sama sekali tidak kita pahami. Saya pun memerlukan waktu yang cukup lama untuk menyadari bahwa menjadi guru adalah my calling. Tapi kini saya benar-benar mencurahkan hidup saya 150% untuk menjalani profesi ini, karena ternyata untuk menjadi guru, banyak peran yang harus dimainkan secara bersamaan, menjadi motivator, sumber ilmu, kawan, rekan kerja, bahkan orang tua yang bisa diandalkan anak didik. Peran yang menuntut guru memiliki superpower, menguasai banyak ilmu, keterampilan, dan wawasan.

 

 

 

 

Bangga dan Bahagia Menjadi Guru

anak didik
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Suatu ketika saya pernah terdiam, ketika keputusan saya menjadi guru dipertanyakan mengingat prestasi akademis saya di sekolah. Kenapa tidak menjadi dokter, akuntan atau profesi lain yang seringkali dianggap lebih bergengsi daripada menjadi guru. Profesi guru memang seringkali dipandang sebelah mata meski sesungguhnya sangat berperan dalam membentuk wajah peradaban dunia.

Dengan penghasilan yang tidak sepadan dengan tuntutan yang diberikan, diperlukan integritas dan loyalitas tinggi untuk tetap mempertahankan idealisme sebagai guru yang bertujuan mendidik manusia untuk menjadi generasi yang lebih baik dan mampu menghadapi tantangan zaman yang semakin pelik. Dan ternyata menjadi seorang guru memberikan kepuasan yang mungkin tidak dimiliki profesi lain. Kepuasan melihat anak didik bertumbuh menjadi manusia luar biasa yang seringkali melaju melebihi apa yang saya bayangkan ketika pertama kali mata saya bertemu dengan mata malu-malu mereka di ruang kelas. Kepuasan yang seringkali tidak dapat dinilai dengan jumlah nominal.

Jika Thanos harus mengumpulkan enam infinity stones sebelum menjentikkan jarinya untuk mengubah dunia, maka guru tanpa harus mengumpulkan infinity stones juga mampu mengubah dunia. Seperti bangsa Jepang yang pernah terpuruk setelah peristiwa bom Hiroshima dan Nagasaki, maka penyintas yang dicari pertama kali adalah para guru, karena di tangan para gurulah nasib bangsa ditentukan. Terbukti beberapa dekade kemudian Jepang tumbuh menjadi negara maju yang diperhitungkan dunia. Jika ada yang berkata your job is not your career. Maka bagi saya, my job is not only my career, it is my life. Menjadi guru adalah salah satu keputusan terbaik dalam hidup saya. Dan saya akan tetap bangga menjadi guru yang membersamai anak didiknya mengahadapi dunia for whatever it takes. 

Lanjutkan Membaca ↓