Maaf Itu Murah, Gengsinya yang Mahal

Endah Wijayanti27 Mei 2019, 10:15 WIB
maaf gengsi

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: J - Jember

Ramadan selalu memiliki kisah tersendiri mengenai memaafkan dan dimaafkan. Ramadan tahun ini cukup membekas di hati. Let me tell you, dear.

Setiap hubungan yang kita mulai, tidak lantas berujung pada pernikahan. 2012 aku mengiyakan ajakan teman SMA-ku untuk memulai apa yang namanya pacaran. Tentu saat itu tidak banyak pertimbangan yang aku pikirkan, jalani saja dululah asalkan sama-sama happy. Seperti cinta monyet pada umumnya, hubungan kami hampir tak pernah tidak indah. Masalah-masalah yang menghampiri paling-paling hanya seputar cemburu tanpa alasan, lupa tanggal jadian hingga absen malam mingguan. Dasar ya anak ABG.

Meskipun dijalani apa adanya, hubungan kami berlanjut hingga masa perkuliahan. Kebetulan kami mengambil studi pada universitas yang sama. Kesibukan di bangku kuliah menyita waktu masing-masing. Dia sibuk sebagai ketua sebuah organisasi olahraga kampus, aku juga memiliki banyak kegiatan sebagai Asisten Laboratorium. Dari sinilah banyak cekcok mulai bermunculan karena komunikasi yang mulai tidak seimbang. Beberapa kali hubungan kami berada di ujung tanduk, nyaris sekali berpisah.

Ego masing-masing terus meruncing, sudah tidak saling menghargai, tanpa pengertian dan saling menyalahkan terus terjadi. Kami kehilangan arti hubungan kami. Pada tahun ketiga, kami memutuskan untuk break sekitar satu minggu. Satu minggu tanpa komunikasi, tanpa bertemu, tanpa sepatah katapun. Kami berkomitmen untuk saling introspeksi diri. Kemudian memikirkan dengan matang, apakah akan berlanjut atau justru lebih baik hubungan ini diakhiri. Bukankah hubungan untuk saling men-support sama lain?

 

 

Sempat Break

Ilustrasi putus cinta (iStockphoto)
Ilustrasi (iStockphoto)

Satu minggu terlewati, satu minggu yang berat. Kami bertemu untuk pertama kalinya, senang sekali melihatnya sehat-sehat saja, senang melihatnya dalam kondisi baik. Suasana sangat cair saat itu, seperti teman lama yang bertemu kembali. Tidak ada sedikitpun marah dan kesal yang tersisa. Well, kurasa kami mulai bijak dan dewasa.

Setelah berdiskusi dan mencurahkan isi hati, sekali lagi kami sepakat untuk tetap bersama. Tentu dengan catatan, saling memperbaiki kekurangan masiing-masing, dan tidak boleh ada yang memelihara ego.

Pada semester akhir perkuliahan kami masih bersama. Meskipun sempat menjalani LDR selama sekitar dua bulan, karena aku harus mengikuti kegiatan magang di luar kota, hubungan kami stabil. Kami sama-sama merasa sangat beruntung masih bersama, bahkan kami sudah memiliki banyak rencana ke depan untuk menuju ke jenjang yang lebih serius. Tidak hanya omong kosong, dia banyak membawaku ke acara keluarga, hingga aku bersahabat dengan mamanya. Mulai dari mempersiapkan acara pengajian bersama, masak berdua, hingga sekadar jalan jalan untuk membunuh waktu.

Aku sangat bangga dan bahagia karena bisa mengambil hati kedua orang tuanya. Siapa sih yang tidak happy bukan kepalang jika bisa diterima dengan calon keluarga kita di masa depan?

Pada satu kesempatan, aku hang out dengan mamanya, di mobil kami membuka percakapan tentang pernikahan. Mamanya mengatakan bahwa tahun depan keluarga siap untuk melamarku. Mamanya juga mengutarakan harapannya, agar kami dapat bertahan hingga pernikahan nanti. Aku banyak menerima nasihat ketika menjadi istri kelak, hingga informasi-informasi dasar mengurus anak-anak. Percakapan kala itu sangat hangat, hatiku tersentuh dengan ketulusan mamanya menerimaku.

Berpisah

Ilustrasi putus cinta (iStockphoto)
Ilustrasi(iStockphoto)

Pernikahan adalah sebuah perjalanan, pasangan kita nantinya adalah partner untuk berkembang. Bagiku, pernikahan bukan hanya soal meraih kebahagiaan. Menikah adalah ruang untuk menjadi pribadi yang lebih produktif dan optimis setiap harinya. Untuk memantapkan hati, aku sering mendiskusikan pandangan-pandangannya mengenai suatu hal, cara dia menilai suatu permasalahan hingga apa makna pernikahan baginya. Aku akan menghabiskan seluruh hidupku dengannya, maka sangat diperlukan untuk memastikan bahwa kami se-visi dan se-misi.

Bukannya makin yakin, aku justru berhadapan dengan keraguan. Pandangan hidup masa depan kami sangat berseberangan. Jujur saja aku orang yang sangat serius dengan hidup, sementara dia punya cara menjalani hidup dengan santai. Aku punya banyak mimpi, ingin memiliki usaha yang memperkerjakan banyak orang, membangun sebuah yayasan sosial pada usia empat puluhan, hingga studi doktoral ke luar negeri. Intinya aku ingin membangun kebermanfaatan bagi orang lain, syukur-syukur bagi orang banyak. Mendengar mimpi-mimpiku, dia tak banyak komentar. Dia menegaskan bahwa hidup yang santai-santai saja lah, yang penting kita jadi orang baik saja sudah cukup. Hari itu aku sangat sedih dan kecewa. Dalam hati aku bertanya, “Is he the right man for me?”

Keputusan ada di tanganku, setelah mempertimbangkan banyak hal ke depan, berdiskusi dengan beberapa sahabat dekatku, dan kejadian-kejadian yang tak bisa aku ceritakan di sini. Dengan sepenuh hati dan rasional, aku memutuskan untuk berpisah dengannya, demi kebaikan bersama di masa depan.

Mendengar keputusan dan penjelasanku, dia marah besar. Aku tentu paham, pada tahun ke enam, hubungan ini harus berakhir, ketika pernikahan nyaris di depan mata. Berulang kali aku meminta maaf, berulang kali pula maafku ditolak atau bahkan tak digubris sama sekali.

Meminta Maaf

maaf dan trauma
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Life must go on. Hari demi hari berlalu, kami menjalani hidup masing-masing. Tak banyak yang kutahu tentangnya, karena di media sosial pun kami sudah tak saling terhubung. Namun, mendengarnya sudah bersama orang lain dari beberapa temanku, jujur aku sangat bahagia karena hingga saat ini aku masih merasa bersalah. Aku sadar memutuskan hubungan secara sepihak bukanlah hal yang bijaksana. Karma does exist. Tanpa maaf darinya, hari-hariku tak damai, seperti memanggul beban yang berat. Kadang sesekali aku menangis di malam hari, mengingat betapa jahatnya aku dulu. Aku salah, aku sadar aku salah, dan aku terus menyalahkan diriku. Aku tidak bisa memaafkan diriku.

Aku ingin mengakhiri masalah hati yang sudah lama kuderita ini. Setelah mengumpulkan banyak keberanian, aku menelpon dia. Sangat kikuk di awal, dari basa basi menanyakan kabar, hingga aku mengutarakan niat baikku, aku menyadari beberapa tahun yang lalu aku sangat egois, dan aku membutuhkan maafnya, agar akupun bisa memaafkan kesalahan yang dulu kulakukan.

Aku sangat beruntung, katanya bahwa yang terjadi di masa lalu bukanlah sepenuhnya salahku, kami berdua saat itu masih sama-sama belum dewasa hingga menyisakan permasalahan di akhir hubungan. Dan yang lalu-lalu sudah dia maafkan, dia pun memohon agar aku dapat melanjutkan pertemanan dengannya, dan tetap menjalin silaturahmi. Aku sangat senang, beban di pundak tiba-tiba rontok dengan sendirinya. Aku menutup telepon dengan tersenyum.

Dari pengalaman ini, aku sadar bahwa maaf itu mudah, maaf itu tidak berat untuk diucapkan baik yang meminta maaf dan yang memaafkan. Kini dengan maaf dari seseorang, aku terbebas dari kebiasaanku menyalahkan diri sendiri. Aku telah memaafkan diriku. Aku berharap siapapun yang sedang membaca tulisan ini, dapat memberi maaf dengan ikhlas dan meminta maaf atas kesalahan yang sudah di buat dengan tulus, karena maaf itu mudah, yang mahal adalah gengsinya.

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓