Memaafkan adalah Obat Terbaik

Endah Wijayanti28 Mei 2019, 14:15 WIB
maaf adalah obat

Fimela.com, Jakarta Punya cerita mengenai usaha memaafkan? Baik memaafkan diri sendiri maupun orang lain? Atau mungkin punya pengalaman terkait memaafkan dan dimaafkan? Sebuah maaf kadang bisa memberi perubahan yang besar dalam hidup kita. Sebuah usaha memaafkan pun bisa memberi arti yang begitu dalam bagi kita bahkan bagi orang lain. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela: Sambut Bulan Suci dengan Maaf Tulus dari Hati ini.

***

Oleh: D - Sragen

Tepat bulan ini aku memasuki usia dua puluh tahun. Usia yang membuatku semakin mengerti apa itu dewasa. Memang, dewasa bukanlah sesuatu hal tentang umur, tapi pola pikir. Menurutku pola pikir itu terbentuk karena kita bangkit selepas jatuh. Seperti diriku satu tahun yang lalu.

Selepas melewati satu hal yang membuatku merasakan patah yang menyakitkan dan hilangnya harapan serta mimpi mimpi yang telah disusun seketika lenyap entah kemana. Tapi aku sadar terpuruk dalam patah dan sakit yang tak berujung adalah suatu hal sia sia dalam hidup. Ada kutipan yang membuatku bangkit kala itu yaitu, Allah tak akan mematahkan hati seseorang kecuali untuk mendewasakan. Tepat saat itu aku mengerti, hal-hal yang terjadi dalam hidup adalah terbaik untukku dan untuk suatu alasan. Aku mengerti hidup ini sepenuhnya milik Sang Kuasa, aku tak berhak menuntut hal-hal yang melebihi garis takdirku. Semenjak itu ada dua hal yang selalu aku pegang dalam hidup yaitu, memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain.

Memaafkan diri sendiri bukanlah suatu hal yang mudah dilakukan, pun diriku. Sebelum memaafkan diri sendiri berarti harus menerima kekurangan diri dan mengakui kesalahan. Ini sangat berat awalnya. Seperti aku satu tahun yang lalu, ketika patah. Aku menuding orang lain atas patahnya aku. Tapi apa yang terjadi ? Justru membuatku semakin patah dan semakin jatuh. Aku sadar apa yang aku lakukan adalah suatu hal yang salah. Dari sinilah titik balik dalam hidupku.

 

Memaafkan Orang Lain

terlambat minta maaf
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku mencoba menyadarkan diri berkali-kali bahwa kegagalan, patah, hilangnya harapan adalah suatu hal yang biasa dalam hidup, bukan suatu hal yang memalukan. Aku tak ingin menyalahkan orang lain atas patah dan jatuhnnya aku. Saat itu, aku menuding diriku sendiri penyebab dari jatuh dan patahnya aku. Justru dari sinilah semangat menyusun ulang impian dan mimpi mulai terangkai. Menurutku menjalani hari-hari selepas patah adalah salah satu bagian hidup yang paling bahagia. Karena dengan memaafkan diri sendiri aku lebih bahagia dan merasa tidak ada beban. Pun dalam menjalani rintangan yang tersaji dalam hidup kujalani begitu mudah. Ya, semua itu karena memaafkan diri sendiri.

Beberapa bulan yang lalu aku tertabrak sebuah mobil, dan pemilik mobil itupun tak menyampaikan kata maaf, bahkan tak turun dari mobil. Dari sini membuatku berpikir, semahal itukah kata maaf? Mungkin bagi sebagian orang, maaf dan memaafkan adalah suatu hal yang mahal, tapi tidak denganku. Dari sudut manapun, bagiku kata maaf dan memaafkan adalah kata yang sangat murah.

Memaafkan orang lain adalah prinsip dalam hidupku. Aku sangat mudah memaafkan orang lain meskipun orang tersebut tidak menyampaikan kata maaf kepadaku. Hal ini sudah diajarkan orang tua ku semenjak kecil. Malah, kata orang tuaku, “Dadio wong sing sugih pangapuro, ben Gusti Allah gampang ngekekki pangapuro marang awakmu.” Artinya jadilah orang yang mudah memaafkan, agar kelak Allah juga mudah memaafkan kesalahanmu. Dan sampai sekarang aku berumur kepala dua, memaafkan adalah kata yang sudah biasa dalam hidupku. Tak hanya itu, bagiku dengan memaafkan orang lain membuatku mudah dalam menjalani hari-hari. Dan memunculkan rasa ‘lega’ di hati yang berakibat kepada perasaan bahagia serta aku begitu mudah menebar senyum dan energi positif kepada lingkungan sekitar.

Memaafkan adalah Obat

pemaaf bahagia
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Setiap hari aku bertemu teman-teman dan orang baru. Di sinilah terkadang ada salah kata dan ucap yang mungkin menyakiti hatiku. Walaupun aku sendiri tak ambil pusing dengan itu, yang aku lakukan tiap hari sebelum tidur adalah mensyukuri apapun yang terjadi sepanjang hari dan memaafkan orang orang yang membuat salah kepadaku. Ada pula kegagalan ataupun rencana yang tak terealisasikan, dan rencana yang tak tereksekusi dengan baik atau juga hari yang berantakan. Dari sinilah aku mengakui kesalahanku, memaafkan diri sendiri dan mengapresiasi diri.

Memaafkan diri sendiri dan memaafkan orang lain adalah paket khusus dalam hidupku. Bahkan sudah masuk ke dalam daftar prinsip hidup. Karena aku menyadari memaafkan, baik memaafkan diri sendiri maupun memaafkan orang lain harus dilakukan, agar kita mempunyai kelapangan dada sehingga kita mudah dalam menjalani aktivitas sehari hari. Ada begitu banyak orang menyakitiku, dan aku tak peduli akan hal itu. Mungkin saja membalas dendam aku bisa, tapi aku tak ingin. Balas dendam akan memunculkan penyakit hati dan memaafkan adalah obat terbaik.

 

Simak Video di Bawah Ini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓