Intip Pengalaman 6 WNI Jalani Puasa Selama Ramadan 2019 di Luar Negeri

Karla Farhana04 Jun 2019, 12:00 WIB
Ilustrasi Ramadan

Fimela.com, Jakarta Tidak terasa hari ini umat Muslim di Indonesia menjalani ibadah puasa di hari terakhir. Pasalnya, Pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Fitri 1440H atau 1 Syawal 1440H jatuh pada Rabu (5/6/2019) besok. Di hari terakhir Ramadan ini, umat Muslim di seluruh dunia pasti bersuka cita untuk menyambut Lebaran besok. 

Apa lagi, para Warga Negara Indonesia (WNI) Muslim yang menjalankan ibadah puasa di luar negeri. Mereka telah melalui berbagai rintangan selama menjalani puasa di Ramadan 2019 ini. 

Selain waktu puasa yang lebih panjang di beberapa negara, umat Muslim yang menjadi kaum minoritas di negara Barat juga mengalami berbagai kendala lainnya.

Meskipun banyak rintangan, ternyata berpuasa di negeri orang lain juga kaya akan pengalaman menarik. Bukan hanya di Eropa saja, ternyata banyak kisah-kisah menarik lainnya dari para WNI yang menjalankan ibadah puasa Ramadan di berbagai negara berikut ini. 

Dreses Putranama - Sydney, Australia

[Fimela] Dreses Putranama
Dreses Putranama | dok. pribadi

Ramadan kedua di Australia, tepatnya di kota Sydney, Dreses Putranama mengalami pengalaman menarik selama menjalani puasa. Berbeda dengan tahun sebelumnya saat dia berpuasa sendirian di kota kecil, Dimbulah, Queensland. Pasalnya, dia saat itu tinggal bersama housemates dari China dan Indonesia, serta landlord yang merupakan warga Australia. Tahun lalu, meski harus tetap bekerja di perkebunan, Dreses harus tetap puasa sendirian. 

Nampaknya, tahun ini dia menjalani Ramadan dengan lebih ramai. Di Sydney, dia kini tinggal bersama para WNI. Jadi, mereka berpuasa bersama-sama. Termasuk menikmati takjil. 

Mengenai waktu berpuasa, ternyata menurut Dreses tidak beda jauh dengan Indonesia. Saat di Dimbulah tahun lalu, dia menjalani ibadah puasa selama sekitar 13 jam. Sementara di Sydney, dia hanya berpuasa 12 jam. 

Meskipun lebih pendek satu jam, cuaca musim dingin di Sydney cukup menjadi tantangan baginya.Dia mengaku bisa menahan lapar, namun kurang kuat saat menahan haus. 

"Sekarang ini di Sydney lagi winter. Jadi cuaca dingin banget bagiku yang tumbuh di daerah tropis. Kemarin subuh bisa sampai 11 derajat. Aku tipe orang yang kuat menahan lapar, tapi kurang kuat menahan haus. Jadi tidak masalah kalau lapar. Mungkin kalau puasa saat summer bakal lebih susah. Apalagi kalau summer, jam 9 matahari baru terbenam. Jadi puasanya bakal lebih lama," ceritanya. 

Reza Fakhrurrozi - Abu Dhabi, Uni Emirat Arab

[Fimela] Reza Fakhrurrozi
Reza Fakhrurrozi | dok. pribadi

Pertama kali menjalani puasa Ramadan di luar Indonesia, membuat Reza Fakhrurrozi cukup kangen dengan takjil khas Indonesia. Biasanya, dia berbuka puasa dengan sop buah, kolak, dan takjil kesukaan lainnya. Namun semua takjil favoritnya tidak ada di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. 

Ramadan tahun ini jatuh pada musim panas. Tentu saja, suhunya bisa sampai 40 derajat celsius di sana. Alhasil, Reza cukup kepanasan selama menjalani ibadah puasa di sana. Apa lagi, lama berpuasa Ramadan kali ini dari hari ke hari semakin lama.

"Waktu imsak dan subuh, semakin hari semakin maju kalau di Indonesia. Dan jam buka puasanya otomatis ikut maju juga, ya kan? Tapi di sini puasa semakin lama, meski cuma beberapa menit," kata Reza. 

 

Wina Mawardani - Dubai, Uni Emirat Arab

[Fimela] Wina Mawardani
Wina Mawardani | dok. pribadi

Wina Mawardani sudah menjalani 4 kali Ramadan di Dubai, Uni Emirat Arab. Tentu saja, Wina mengalami banyak perbedaan selama menjalani 4 kali Ramadan di kota serba mewah tersebut. Namun, perbedaan yang paling signifikan menurutnya adalah makanan dan suasana. 

Di Dubai, meskipun berada di negara Islam, dan Indonesia memiliki mayoritas warga beragama Islam, namun makanan dan suasanya tetap berbeda selama Bulan Puasa. Misalnya, cerita Wina, jajanan pasar khas Indonesia yang ngangenin. Di Dubai, takjil seperti kolak dan lainnya tidak ada. 

Sayangnya, Wina tidak menyukai makanan khas lokal di sana. Termasuk menu utama. Alasannya, nasi yang digunakan di sana tidak sesuai dengan selera lidah Asianya. Jadi, dia kerap memasak rendang yang tahan lama atau juga pesan makanan dari luar. Untungnya lagi, ada manisan khas India, rasmalai, yang dia suka. 

"ini sperti roti, yang dibasahi, (juga ada) kayu manis, ada susunya, dan ada almond sedikit di atas rasmalai itu. Karena orang India banyak di Dubai, jadi makanan mereka lebih familiar dengan makanan lokal itu sendiri," katanya. 

Selain itu, suasana saat sahur dan berbuka puasa pun jauh berbeda dengan di Tanah Air. Tak ada budaya membangunkan orang untuk sahur.

"Misalnya sahur, di semua daerah Indonesia memiliki ciri khas untuk membangunkan warga sekitar menjelang waktu sahur, namun di Dubai tidak ada yang seperti itu. Kalau sahur, ya sahur. Jadi tidak ada tanda-tanda seperti di Indonesia. Selain itu, ngabuburit di sini mungkin ada, namun ciri khasnya aku tidak terlalu tahu," jelasnya. 

Selain itu, Wina bercerita, ada Ramadan Fridge di Dubai. Jadi, kata Wina, ini merupakan kulkas bulan puasa. Warga Emirati mengeluarkan kulkas mereka, baik kulkas dari rumah, atau juga kulkas khusus untuk Ramadan, yang diisi dengan stock makanan untuk orang-orang di jalan. 

"Memang, tidak terlalu kelihatan di kota, tapi adanya di komplek-komplek. Ini sudah menjadi budaya di sini," jelasnya. 

Zelda - Sakarya,Turki

[Fimela] Zelda
Zelda | dok. Pribadi

Baru 7 bulan, Zelda yang merupakan pelajar asing di kota Sakarya, Turki, memiliki pengalaman unik selama Ramadan. Meski belum pernah berpuasa di tengah cuaca esktrem, namun Sakarya yang terkenal dengan 4 musim dalam 1 hari cukup menjadi kendala baginya. Pasalnya, di kota ini curah hujan masih cukup tinggi meski selama awal Ramadan saja sudah memasuki musim panas. 

Bagi para pelajar asing seperti Zelda, perbedaan makanan selama Ramadan menjadi faktor utama rindu Tanah Air. Meski ada manisan khas Turki, namun takjil jajanan pasar seperti di Indonesia tidak ada.

Meskipun begitu, Zelda sangat menyukai manisan lokal. Terutama sutlac. Menurutnya, manisasn di Turki sanga enak. Walaupun, dia mengaku masih dalam proses untuk menyukai menu utama ala Turki. 

Tinggal di asrama bersama pelajar asing lainnya, Zelda ternyata kerap mendapat tawaran untuk buka puasa bersama warga lokal. Udangan itu biasanya datang dari guru-guru mereka, atau mahasiswa Turki, atau juga orang-orang Turki lainnya. 

Undangan ini bagi Zelda merupakan kesempatan emas. Pasalnya, para keluarga Turki sangat baik menjamu para tamunya. Di sinilah Zelda dan pelajar asing lainnya akan disuguhi berbagai hidangan lokal dan tradisional. 

"Mereka sangat merajakan tamu saat iftar. Jadi disediakan manisan Turki, seperti baklava, itu manisan buka puasa. Kemudian ada makanan pembuka, chorba, yang seperti sop krim. Kemudian ada menu utama juga. Biasanya nasi dengan lauk yang tidak terlalu banyak. Biasnaya, nasi sudah dicampur dengan lauknya. Makanan ini dihidangkan per piring, jadi tamu tidak mengambil makanan sendiri," cerita Zelda. 

 

Rahma - Lund, Swedia

[Fimela] Rahma
Rahma | dok. pribadi

Sejak Agustus 2018, Rahma tinggal di Swedia. Kini, dia merupakan mahasiswa di Lund University, Lund, Swedia. Lund merupakan sebuah kota kecil yang juga dikenal sebagai kota pelajar di Selatan Swedia. 

Ramadan 2019 ini merupakan Ramadan pertama bagi Rahma. Tentu saja, suasana Ramadan di sana sangat berbeda dengan di Tanah Air. Di sini, cerita Rahma, tidak ada suasana Ramadan sama sekali. Orang-orang di sini pun, menurutnya, jarang yang paham mengenai puasa di bulan Ramadan. 

"Aku pernah ngobrol besama teman-temanku di sini soal berpuasa bagi orang Muslim. Ternyata mereka cuma paham kalau puasa itu hanya menahan makan tapi masih boleh minum," ungkap Rahma. 

Di negara dengan sedikit orang yang memeluk agama Islam, tentu saja masjid tidak mudah ditemukan seperti di Indonesia. Rahma tinggal di lokasi yang cukup jauh dari masjid. Sehingga, dia belum pernah mencoba buka bersama di masjid. Paling-paing dia berbuka puasa bersama teman-teman Indonesia di sini. Selain itu, jika berbuka puasa dan tarawih di masjid, akan selesai sangat larut, yaitu sekitar jam 11-12 malam. 

Selama Ramadan, Rahma biasanya makan prep-meal yang dibuat untuk 3-4 hari. Biasanya tumis sayur, sup, ayam kecap manis atau hidangan sederhana yang mudah dibuat. 

Lama berpuasa di Indonesia dan di Swedia juga tentu saja berbeda. Puasa di sana lebih lama. Awal-awal Ramadan ini, bisa sampai 18 jam 30 menit. Sementara di minggu kedua Ramadan, Rahma dan umat Muslim lainnya di sana menjalani puasa selama 20 jam! 

Meskipun berat, namun Rahma cukup beruntung. Pasalnya, Ramadan kali ini jatuh di bulan Mei, bukan Juni atau Juli. Sehingga, puasa tidak langsung 20 jam. Meskipun panjang waktu berpuasanya, cuaca tidak sepanas di Indonesia. Sehingga dia mengaku tidak mudah mengalami dehidrasi. 

Tapi sayang, jadwal tidurnya jadi berubah. Karena Rahma dan teman-teman Muslimnya berbuka puasa pukul 9 malam, mereka jadi harus tidur jam 11-12 malam. Mereka pun harus sudah bangun lagi jam 2 atau 2.30 dini hari. 

"Terus, suka bingung kalau ada kelas atau kegiatan jam 8, habis sahur tidur lagi atau tidak. Takut kesiangan tapi kalau tidak tidur ngantuk," pungkasnya.

Panca Syurkani - Moskow, Rusia

Sudah satu setengah tahun, Panca Syurkani kuliah dan bekerja di Moskow, Rusia. Tahun ini merupakan Ramadan kedua baginya. Meskipun harus berpuasa selama 18-19 jam, aktivitas selama bulan Ramadan tetap full. 

Seperti WNI lainnya yang menjalankan ibadah puasa Ramadan di luar negeri, Panca biasanya berbuka puasa dan sahur di rumah. Biasanya, sang istri yang memasakkan nasi dan lauk seperti ayam dan ikan. Pernah juga dibuatkan bakwan. Namun, jika harus sahur atau berbuka puasa di luar rumah, biasanya Panca memilih Shaurma yang mudah didapat. 

"Paling enak kalau buka di KBRI. Bisa makan makanan khas Indonesia," ungkapnya. 

Panca mengaku cukup sulit untuk berpuasa di Rusia pada saat Ramadan pertama di sana. Karena, durasi berpuasa yang jauh lebih panjang dari pada di Indonesia. Di tahun kedua ini, nampaknya dia sudah mulai terbiasa. Untungnya, dari 2 Ramadan yang dijalaninya, belum pernah berpuasa di tengah cuaca yang ekstrem. 

Sayangnya, menurut koresponden di Moskow ini, tradisi Ramadan di sana tidak ada yang menarik. Soalnya, mayoritas penduduk di Rusia merupakan Ortodoks. 

"Mungkin, di republik yang mayoritas Islam seperti Tatarstan, Checnya, dan lainnya memiliki tradisi sendiri. Tapi di Moskow, tidak ada. Di sini (pula) tidak ada tradisi takbiran," jelasnya. 

#GrowFearless wih FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓