Mewujudkan Pernikahan Impian Tak Semudah yang Dibayangkan

Endah Wijayanti16 Jul 2019, 11:13 WIB
menikah tanpa pelaminan

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Lina - Langsa, Aceh

Pernikahan impian, aku sama sekali tidak muluk-muluk dalam memimpikan sebuah pernikahan, pernikahan yang aku inginkan hanyalah sebuah pernikahan yang sederhana yang dikemas secara syar’i yang berjalan lancar dan dapat menyenangkan para tamu yang datang, yang kemudian dapat mendoakan kami agar pernikahan kami menjadi sakinah mawaddah warohmah serta diberkahi Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Persiapan pernikahan belum lama ini aku lakukan, karena pernikahanku dilangsungkan pada tanggal 8 Juni 2019 kemarin, kurang lebih pernikahanku baru berjalan sekitar 1 bulan 1 minggu, tidak terasa sudah satu bulan lebih, setelah perjuangan yang sangat melelahkan maasya Alla. kenapa aku katakan melelahkan? Ya, karena memperjuangkan pernikahan ini memiliki proses yang sangat panjang, dikarenakan keluargaku.

Pada awalnya aku sama sekali tidak tahu kalau lelaki itu yang akan meminangku. Aku mengenalnya dalam sebuah organisasi di kampus kami di salah satu universitas di Kota Yogyakarta, aku menempuh pendidikan di jurusan Psikologi, sedangkan lelaki itu menempuh pendidikan di jurusan Teknik Elektro, hanya saja organisasi itu yang mempertemukan kami. Aku saat itu menjabat sebagai sekretaris, dan dia ketuanya (baiklah mungkin cerita ini akan seperti di novel-novel yang dulunya pernah aku baca atau yang seperti kalian baca, tapi inilah kisahku).

Dua bulan sebelum wisuda digelar, aku pulang ke kampungku di Sumatera Utara, karena semua tugas kuliah sudah selesai, dan aku hanya tinggal menunggu waktu wisuda saja, sekitar seminggu aku di rumah, aku mendapat telepon dari ibu lelaki itu. Beliau mengabarkan kalau beliau dan keluarganya akan ke rumahku, tentunya hal ini sangat-sangat mengejutkanku, sangat tidak mungkin hanya silaturahmi, kalau tidak ada hal yang lain bukan? Yah walaupun aku tidak menyimpan perasaan apa-apa terhadap lelaki itu, tetapi jika seorang wanita dikabarkan hal seperti itu wajar saja jika dia ge-er kalau akan ada sesuatu yang akan mengacu kepada kata me-la-mar (oke anggap saja aku ge-er, hoho).

Setelah menimbang-nimbang percakapan kami, dan menata hati agar tidak terlalu berharap apa-apa akupun memberitahu keluargaku, tentunya ayah dan mamaku. Mereka menyambut dengan senang hati, walhamdulillah.

 

 

Masih Sama-Sama Baru Lulus Kuliah

Doa Ramadan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Waktu itupun tiba, mereka sampai kerumahku dalam keadaan sehat wal afiyat alhamdulillah. Oh iya, sekadar informasi rumahku kan berada di Sumut, sedangkan lelaki itu dari Aceh, jadi perjalanan yang ditempuh untuk sampai ke daerah tempat tinggalku adalah sekitar 6 jam kurang lebih. Lelaki itu datang bersama ayah dan ibunya serta bibinya dan adiknya yang paling kecil. Setelah berbincang sebentar akhirnya mereka menyatakan niat mereka datang ke rumahku. Kalian pasti penasaran bagaimana perasaanku? Aku kaget. Benar-benar kaget, terselip kebahagiaan ternyata dugaanku bukan hanya dugaan ge er, hehe.

Karena jarak yang cukup jauh, jadi pada hari itu langsung ditanyakan mengenai mahar, dan mengenai persyaratan pernikahan. Aku hanya ingin mahar semampu calon suamiku, seberapapun yang dia berikan aku akan terima, karena pernikahan yang barokah itu dengan tidak memberat-beratkan mempelai laki-laki terkait mahar. Untuk masalah agama, akhlak, dan lainnya aku sudah cukup mengenalnya in syaa Allah, karena organisasi dan KKN yang juga kami jalani bersama ketika di akhir kuliah kemarin. Dan di sini letak perjuangan itu.

Kami sama-sama baru selesai kuliah, aku dan dia belum bekerja sudah pasti, aku sama sekali tidak mempersyaratkan apapun, tetapi lain halnya dengan ayah dan pamanku (adik ayahku) beliau berdua mempersyaratkan agar calon suamiku memiliki pekerjaan sebelum menikahiku. Aku hanya diam ketika mereka mengatakan hal itu, lelaki itu beserta keluarganya menyambut baik persyaratan itu. Semoga Allah memudahkan jalannya batinku.

Dua bulan berlalu, kami dan orang tua kami bertemu kembali di acara wisuda. Aku menganggap semuanya biasa saja, seperti tidak ada apa-apa, begitu juga dengannya sama denganku, walaupun dia sudah melamarku tapi komunikasi kami berjalan biasa layaknya teman semasa organisasi. Begitu juga dengan teman-teman yang lain, mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Seperti ini aku nyaman, semuanya berjalan seperti biasa dan kami merayakan acara wisuda bersama teman-teman organisasi.

Memberi Pemahaman

Doa Ramadan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Hari demi hari terus saja berjalan, aku sangat-sangat tahu bagaimana perjuangannya dalam mencari pekerjaan untuk bisa secepatnya menghalalkanku. Dia selalu mengabarkanku bagaimana perkembangannya, dia diterima atau tidak. Begitulah perjuangannya, aku tahu dia juga sempat menghubungi ayahku, untuk membicarakan tentang persyaratan itu, namun ayahku kekeuh untuk tetap dengan pendiriannya. Beliau malu jika calon menantunya tidak memiliki pekerjaan ketika menikahi anaknya, ini merupakan alasan yang sama sekali tidak bisa aku terima. Pernikahan ditunda-tunda hanya karena pekerjaan. Bukankah Allah menjamin rezeki setiap hambanya? Bahkan Allah akan memudahkan rezeki setiap hamba jika dia mau menikah. Waktu itu aku hanya bisa pasrah.

Aku sangat bersyukur kepada Allah, karena Dia mengirimkanku seseorang yang berprinsip sama denganku untuk bangun dan berjuang bersama-sama, begitu juga prinsip dari calon suamiku, karena itu dia berani melamarku di saat dia baru selesai kuliah dan belum mendapatkan pekerjaan sama sekali. Di sela-sela perjuangannya mencari pekerjaan aku terus memberinya semangat dikejauhan, mendoakannya agar jalan ini dimudahkan.

Aku di sini dirumahku, bukan hanya diam menunggu hasil. Aku juga berjuang, aku tidak pernah bosan meyakinkan ayah dan keluargaku terutama pamanku akan hal itu, bukan hanya itu aku juga berjuang agar aku tidak disuruh mencari pekerjaan, ini juga hal yang sangat sulit.Semenjak aku lulus menjadi seorang sarjana, aku disibukkan oleh orang-orang di sekelilingku untuk mencari pekerjaan, bukannya aku tidak mau bekerja, hanya saja prinsipku dari dulu, jika sudah ada yang meminangku aku akan berhenti bekerja dan total menjadi ibu rumah tangga. Qodarullah Allah mempercepat jodohku sehingga aku tidak perlu bekerja seperti yang aku pikirkan dulu.

Tidak mudah melakukannya, berulang kali aku bersikap dingin terhadap ayah, jika beliau terus saja mendesakku untuk bekerja, dan satu lagi tentang syarat nikah itu. Mama tidak berkomentar sama sekali jika melihat kami sedang perang dingin.

Delapan bulan berlalu pasca lamaran, calon suamiku masih sibuk berkutat dengan berbagai macam review dari perusahaan-perusahaan yang ia lamar. Aku sudah tidak sanggup untuk menunggu dan sudah bosan dengan desakan keluargaku untuk bekerja, aku tidak akan bekerja titik dan itu sudah prinsipku. Aku pun akan memulai kehidupan rumah tanggaku dari titik nol tidak ada tawar menawar lagi.

Akhirnya aku memutuskan untuk berbicara dengan ayah dan pamanku secara hati ke hati, karena yang membuat pernikahan ini tertunda adalah karena persyaratan dari mereka. Aku menumpahkan segala sesak yang ada di dada, hingga membuat air mata tak terbendung lagi, aku meyakinkan mereka tentang adanya Sang Pemberi Rezeki, jadi masalah rezeki tak perlu dikhawatirkan lagi, banyak hal yang aku luapkan saat itu. Hingga akhirnya ayah dan pamanku mengiyakan untuk melangsungkan acara pernikahan kami dalam waktu dekat. Alhamdulillah, perjuangan kami tidak sia-sia, kesabaran selama berbulan-bulan ada hasilnya.

Ketika persetujuan itu terucap dari mulut ayah, semangatku kian membuncah, rasa hari ini hari yang paling bahagia, aku memeluk mereka berdua (ayah dan paman) dengan penuh rasa haru. Masyaa Allah!

Pernikahan Impian

Doa Ramadan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Dengan semangat aku memberitahu ibunya (calon mertuaku) bahwa keluargaku sudah setuju untuk menggelar acara pernikahan dalam waktu dekat. Setelah sama-sama dibicarakan akhirnya hari sakral itu direncanakan dilaksanakan pada hari keempat lebaran, yaitu tanggal 8 juni 2019, waktu itu masih dua bulan lagi dari hari H.

Sebelumnya ayahku mengatakan akan mempersiapkan acara pernikahan yang besar dan mewah. Ya aku memang berasal dari keluarga yang berada, tapi aku sama sekali tidak menyukai kemewahan, apalagi untuk acara pernikahanku, aku hanya ingin yang sederhana dan khidmat. Ayahkupun menerimanya, beliau akhirnya menyerahkan semuanya kepadaku.

Aku mulai mempersiapkan semua kebutuhan untuk hari pernikahan nanti, dari undangan, aku mendesain semuanya, sisanya aku serahkan ke percetakan, percetakan hanya tinggal mencetak undangannya saja, tidak perlu membuat dari awal (memang aku semangat sekali melakukannya, hehe). Katering aku juga yang menentukan semua menunya dengan bantuan mama dan bibi-bibiku, tenda dan teratak semua aku yang pilih, aku menginginkan nuansa yang serba putih, bunga-bunga untuk hiasan juga aku pilih yang putih.

Gaun pernikahan juga aku yang pilih, kalau untuk mempelai laki-laki, calon mertuaku yang persiapkan, karena jarak yang tidak memungkinkan, jadi hanya menyamakan warna saja yaitu warna putih. Acara pernikahan digelar di kediamanku. Aku ingin semua tamu dipisah antara laki-laki dan perempuan, jadi tidak bercampur baur. Jadi halaman rumahku dibagi dua, ada area laki-laki dan ada area perempuan, tidak ada alunan musik yang mengiringi, tidak ada fotografer, tidak ada pelaminan, jadi kami sepakat untuk tidak dipajang di depan orang-orang.

Jadi tugas kami sebagai pengantin adalah menerima tamu (walaupun aku dalam keadaan memakai baju pengantin dan dirias). Aku menerima tamu perempuan, dan suamiku menerima tamu laki-laki, menyuguhkan makanan, berbincang dengan para tamu, meminta doa agar rumah tangga kami sakinah mawaddah warohmah.

Aku sangat menikmati acara pernikahanku, bisa dekat dengan para tamu, berbincang langsung rasanya nyaman sekali daripada setelah dirias. Hanya duduk berdampingan dengan suami di atas pelaminan dan dilihat orang-orang, itu sangat canggung sekali bagiku. Masing-masing orang memiliki pernikahan impian untuk dirinya, pernikahan impianku seperti ini, dan alhamdulillah Allah melancarkan segalanya bulan lalu.

Alhamdulillah tidak henti-hentinya aku berucap syukur kepada Allah, perjuangan itu akhirnya berbuah manis. Semoga teman-teman sekalian dilancarkan juga persiapan pernikahannya dan sesuai keinginan. Aamiin.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓