Pernikahan Bukanlah Ajang Gengsi Memamerkan Kekayaan yang Dimiliki

Endah Wijayanti17 Jul 2019, 09:42 WIB
Couple

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Cynthia Kwesnady - Tangerang

Persiapan Pernikahan = Ujian Kebersamaan Seumur Hidup (My Wedding Matters)

Rasanya baru kemarin saya menyelesaikan project event tahunan terbesar yang menguras waktu, tenaga, dan pikiran untuk saya pribadi dan bukannya untuk urusan perusahaan. Nyatanya sudah tujuh bulan berlalu sejak kami dideklarasikan sebagai pasangan suami istri di dalam ikatan suci pernikahan yang disatukan Tuhan, sah secara negara maupun agama. Bahkan sekarang inipun masih terbayang jelas betapa campur aduknya perasaan saya ketika menengok bulan-bulan persiapan ke belakang.

Perasaan bahagia dan bersemangat ketika kami memulai persiapan kami di bulan Desember 2017 dengan melakukan survei ke beberapa pameran pernikahan dan mengumpulkan vendor-vendor terbaik yang sesuai dengan dana kami. Perasaan malu dan haru ketika pasangan memuji saya dalam berbagai balutan gaun pengantin untuk menemukan gaun pengantin impian. Dan juga perasaan berdebar-debar ketika melakukan sesi foto pre-wedding untuk kami yang jarang sekali berfoto. Di balik itu semua, ada juga perasaan sedih, takut, cemas, khawatir, marah, dan kecewa yang melengkapi setiap langkah perjalanan kami menuju hari pernikahan. Ah, rupanya inilah yang disebut oleh banyak orang sebagai drama pernikahan.

Sebagai pasangan yang kerap kali dikategorikan orang sebagai #CoupleGoals karena selalu terlihat mesra, harmonis, dan adem ayem, saya sendiri pun tidak menyangka akan mengalami drama pernikahan yang begitu berarti. Namun semesta berkata lain. Semakin mendekati hari H, semakin banyak drama yang terjadi. Alih-alih menganggapnya cobaan, kami berdua sepakat menganggap ini adalah ujian sebelum kami benar-benar memutuskan untuk bersama sebagai pasangan seumur hidup.

 

Mengurus Pernikahan

Couple
ilustrasi/copyright pexels.com/Inna Lesyk

Pernah membayangkan betapa riwehnya mengurus persiapan pernikahan dan renovasi rumah bersamaan dengan waktu yang sempit di tengah-tengah kesibukan kerja masing-masing? Itu cobaan pertama kami. Apalagi saya kerapkali harus mengurus event kantor di luar kota dan bahkan luar negeri sehingga banyak waktu yang dialokasikan untuk pekerjaan.

Pasangan saya pun tak kurang sibuknya mengingat dalam seminggu, hanya 1-2 kali ia bisa sampai di rumah kurang dari pukul 00.00. Dengan jadwal seperti itu, praktis kami harus cepat dalam mengambil keputusan dan banyak melakukan riset masing-masing. Untungnya, komunikasi kami terjalin sangat baik, sehingga banyak hal yang kami bisa diskusikan via chat ataupun telepon.

Sebagai konseptor, saya juga sering mencuri-curi waktu sisa ketika makan siang atau menunggu meeting dimulai ataupun di perjalanan pulang untuk sekedar mencari referensi setiap detil pernikahan dan desain rumah di akun Pinterest, Google, dan Instagram saya. Barulah ketika weekend datang, kami akan berdiskusi secara tatap muka. Ya, fleksibilitas dan time management menjadi kunci penting dalam menyelesaikan ujian kami yang satu ini.

Hal yang tidak kalah penting dalam menyiapkan pernikahan adalah mengetahui apa kebutuhan utamanya dan bukannya mengikuti keinginan semata. Hal ini sangat berdampak pada kemudahan proses pencarian segala detil pernikahan kami. Tak terkecuali masalah tempat resepsi. Terlepas dari rumah kami yang jauhnya ujung Jakarta dengan ujung Jakarta yang lain, kami mengambil keputusan bahwa tempat resepsi kami harus mudah diakses oleh seluruh tamu undangan, yaitu di pusat Jakarta.

Kami juga memutuskan untuk mengambil tempat resepsi di Ballroom karena tidak menyukai makanan di hotel dan tidak menyukai suasana restoran untuk hari istimewa kami. Meskipun sudah mengetahui apa yang kami cari dan melakukan penyaringan sedemikian rupa, kami tetap mengalami kesulitan. Ada kalanya kami mengalami kebuntuan karena selalu saja ada yang tidak bisa kami tolerir. Baru pada ballroom ke-15 yang kami survei lah, kami berhasil menemukan tempat resepsi impian kami.

Drama Hingga Hari H

Couple
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Ujian dana juga menjadi salah satu ujian terberat bagi kami kala itu. Mengingat kami sepakat untuk membiayai sendiri semua pengeluaran pernikahan, kami harus benar-benar jeli dalam menilai setiap harga dari vendor. Sebagai orang yang terorganisir kami telah melakukan budgeting di awal persiapan pernikahan, namun nyatanya dana yang harus dikeluarkan terus menerus bertambah seiring berjalannya waktu karena ada berbagai dana yang tidak kami perkirakan sebelumnya. Sebut saja, dana untuk uang konsumsi pemberkatan, dana untuk gaun, transport, akomodasi dan berbagai keperluan pre-wedding, dana untuk seserahan, dana untuk gaun dan make up para penerima tamu dan penerima angpao, dan bahkan dana deposit untuk penyewaan gaun pengantin.

Kalau kita berpikir bahwa drama pernikahan akan berakhir tepat sebelum hari pernikahan, hal itu salah besar. Di hari H pun ada saja drama yang terjadi. Ketika sampai di tempat resepsi, ternyata bunga dekorasi berbeda warna padahal resepsi akan diadakan kurang dari 4 jam lagi. Untunglah ujian ini pun berhasil dilalui dengan baik. Oleh bantuan koordinasi WO dan tim dekor, warna bunga berhasil diganti sesuai warna yang disepakati di awal. Begitulah akhirnya satu tahun persiapan kami berakhir dengan hari pernikahan yang mengukir banyak kegembiraan dan penuh rasa syukur bagi saya dan pasangan serta keluarga besar.

Dari semua ujian pernikahan tersebut, saya percaya bahwa segala sesuatu terjadi untuk mendatangkan kebaikan bagi kita semua. Setiap ujian pernikahan yang berhasil dilalui menempa kita untuk menjadi pasangan yang lebih baik lagi satu dengan lainnya untuk kebersamaan seumur hidup. Dengan adanya ujian tersebut, kita juga menjadi lebih paham dan yakin mengenai karakter pasangan kita nantinya ketika mengalami masalah atau cobaan hidup ke depannya.

Yang perlu diingat mengenai persiapan pernikahan adalah pemikiran bahwa pernikahan bukanlah ajang gengsi untuk memamerkan kekayaan yang dimiliki dan menimbulkan kesan “wah” bagi semua undangan. Ingat bahwa pesta pernikahan hanya berlangsung beberapa jam dan selang beberapa hari kemudian orang-orang pun sudah lupa akan pesta tersebut. Tapi makna pernikahan yang sakral, dikelilingi oleh keluarga terkasih, teman-teman terdekat, dan orang-orang yang kita kenal baik akan selalu menimbulkan memori yang hangat membekas di setiap hari jadi pernikahan nantinya. Selamat mempersiapkan pernikahan impian terbaik versi Anda sendiri!

Tangerang, 16 Juli 2019

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓