Bersabar Menanti Momongan, Berfokus pada Tujuan Awal Pernikahan

Endah Wijayanti20 Jul 2019, 10:15 WIB
menanti momongan setelah menikah

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Rizky Swastika - Malang

Kami sudah menikah tiga tahun. Meski usia pernikahan ini masih terbilang muda, banyak hal yang sudah mengguncang hati kami, menguji kesabaran kami dan semakin menguatkan hubungan kami.

Dimulai dari tahun lalu, saya operasi kista. Sampai setahun ini masih juga belum diberi amanah keturunan. Sejak vonis sakit hingga menjalani operasi, saya sering pesimis dan merasa tidak mampu berdamai dengan keadaan. Saya merasa menjadi beban bagi suami dan keluarga besar. Saya belum bisa memaafkan diri sendiri dan terus-menerus menutup diri dari kenyataan. Terlebih pada saat itu, sahabat yang dulu pernah dekat dengan saya berubah.

Di masa-masa saya memulihkan diri setelah operasi, sahabat saya justru membuat “panas” keadaan dengan pamer sudah punya anak. Setiap kali membuka Instagram saya hanya melihat hal-hal indah yang belum saya miliki. Ego dan kesedihan semakin menguasai saya, merasa bahwa hidup teman saya lebih menyenangkan. Akhirnya saya memutuskan menutup diri dari media sosial.

 

Suami yang Selalu Menguatkan

menikah teman SMA
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@alexander-kolomin-30854

Seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari selama ini ada suami yang berusaha menguatkan saya, yang berusaha tidak menampakkan kesedihan di matanya karena sepi yang kami rasa. Saking lemahnya saya, saya lupa kalau suami saya berusaha kuat demi saya. Justru seharusnya saya yang bisa mendukungnya, kuat di hadapannya.

Saya seharusnya selama ini bersyukur, karena waktu bersama kami tak terganggu dengan kesibukan lain yang tak perlu, tak terganggu dengan urusan pamer di media sosial hanya untuk terlihat bahagia. Saya tidak menyadari bahwa kami ini baik-baik saja. Selama ini saya hanya mengeluhkan hal yang sia-sia. Jika saya sedikit saja bisa menikmati hidup, sedikit saja meluangkan waktu untuk bersyukur, maka saya akan bisa memaafkan diri saya sendiri.

Menikah, punya rumah, punya anak. Setiap orang pasti mengharapkan itu. Namun di saat semua itu sudah di tangan, kita lupa bahwa itu ujian, bukan penghargaan. Terkadang kita berharap terlalu tinggi. Saat hasil tak sesuai harapan, kita kecewa, bahkan menyalahkan Tuhan. Padahal kekuatan dalam pernikahan itu bukan tentang kekayaan, banyak keturunan atau dianggap hebat di mata sosial. Kekuatan yang sebenarnya ada pada diri kita dan pasangan. Kekuatan untuk bisa saling menutupi kelemahan dan menerima kekurangan. Kekuatan untuk mau membuka diri dan belajar dari pengalaman orang lain (terutama orang tua) dan tidak menyerah untuk setiap keadaan. Kita cenderung fokus pada hal-hal yang sepele, yang kadang tidak bermanfaat sampai kita lupa tujuan awal pernikahan itu apa.

Indahnya Pernikahan

menikah usia 20
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Mengapa saya harus menyerah jika orang-orang yang menyayangi saya selalu mendoakan saya? Saya hanya perlu fokus pada satu hal, yaitu melanjutkan hidup dengan sebaik-baiknya. Jika hidup ini diibaratkan arisan, kami hanya tinggal menunggu saatnya nama kami muncul di hadapan takdir, maka akan tiba giliran kami mendapatkannya.

Terima kasih untuk suami saya yang selalu menguatkan, yang tak pernah mengeluh, yang selalu sibuk berangkat pagi pulang malam untuk terus menjadi pribadi yang tangguh dan lebih baik. Saya sangat bersyukur masih diberi kesempatan bangun setiap harinya. Saya masih bisa berdoa, masih mampu berusaha, dan menerima hal-hal buruk dengan sudut pandang yang baik.

Hikmahnya, tidak semua kesedihan itu membawa dampak buruk dalam hidup kita. Kita hanya perlu waktu untuk bangkit, membenahi hati dan pikiran kita. Dengan begitu kita bisa melanjutkan lagi mewujudkan harapan kita. Pernikahan itu indah, seindah setiap proses perjalanannya.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓