Dalam Pernikahan, Kesedihan dan Kebahagiaan Saling Berdampingan

Endah Wijayanti23 Jul 2019, 12:31 WIB
risiko menikah

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Rosalina Arrasid - Tasikmalaya

Pernikahan. Satu kata yang mampu membelenggu pemikiran juga perasaan. Pro dan kontra yang saling bersahutan. Kesedihan dan kebahagiaan yang saling berdampingan. Kesetiaan dan tanggung jawab yang dipertanyakan. Kemapanan dan juga ketulusan yang katanya harus menjadi modal. Tentang sebab dan akibat yang terlalu berisiko untuk dihadapi. Dan masih banyak lainnya.

Pada dasarnya apapun yang kita pilih, semua memiliki risikonya masing-masing. Hanya saja, argumen orang-orang terdekat dengan kita sering kali melebih-lebihkan. Salah satu hal yang membuat seseorang enggan untuk memulai jalan untuk siap terikat dalam sebuah pernikahan. Mereka yang berusaha menghindari risiko, takut atau bahkan malas akan sebab dan akibat yang hasilnya negatif adalah ia yang selalu mendengarkan cerita orang sebagai sugesti bukan sebagai pembelajaran dan pemaham.

Jika memang pernikahan akan menimbulkan sebab dan akibat yang terlalu berisiko, lantas apa yang sedang kita hadapi saat ini berisiko? Semua hal berisiko. Dari hal sederhana pun memiliki risiko. Bernapas saja ada risikonya. Lubang hidung jadi kotor, virus penyebab sakit bisa masuk dan banyak lagi yang lainnya. Tetapi, orang-orang terlalu fokus dengan sisi negatifnya. Lalu lupa bahwa keburukan akan berdampingan dengan kebaikan. Contohnya adalah orang tidak banyak sadar dari bernapas yang memiliki berbagai risiko di mana terkandung hal baik yang sangat besar yaitu, salah satu ciri makhluk hidup adalah bernapas. Iya, kita hidup karena bernapas. Tapi orang-orang meremehkan itu.

 

Pernikahan Juga Berisiko

menikah teman SMA
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@alexander-kolomin-30854

Begitu pun pernikahan. Risiko yang katanya terlalu berat adalah bagaimana diri kita beranggapan dan menyikapi diri kita terhadap apa yang dihadapi. Pernikahan pada dasarnya adalah saling belajar untuk memahami satu sama lain. Hingga mampu saling menghargai. Lalu saling mengasihi. Dan timbul rasa saling menyayangi. Bersama-sama saling membahagiakan yang mampu memperkuat masing-masing dalam menghadapi setiap sebab dan akibat. “Saling” adalah hal yang dilakukan oleh segala pihak yang terlibat.

Tidak usah memanjakan ketakutan. Hingga takut itu bersemayam dalam diri. Lakukan saja yang terbaik untuk kita. Bukan aku atau kamu. Dari dua orang yang awalnya tidak saling kenal. Lalu mampu membuat dua keluarga yang juga tidak saling kenal ikut serta melakukan yang terbaik. Semua ada pada bagaimana dirimu memperlakukan pikiranmu untuk mempertimbangkan, hatimu yang memberi rasa dan ragamu yang bertindak untuk kebaikan hubunganmu.

Jika nanti mendapatkan hasil yang negatif. Entah perngkhianatan ataupun perpisahan yang nantinya akan terjadi. Hadapi saja. Jika kau terlalu takut akan hasil negatifnya, maka kau akan enggan memulai sedikitpun. Dari sebuah sebab akibat yang berisiko selalu ada pembelajaran yang mampu menyadarkan. Tidak saling menyalahkan dan introspeksi diri masing-masing adalah salah satu cara agar hubungan baik yang telah dirajut tidak terlalu kusut. Beranikan untuk memulai. Bukan untuk menantang. Dengan niat, doa, serta tindakan yang baik. Hal-hal buruk tidak akan terlalu membuat kacau.

Selamat memulai bagi kalian yang sedang diambang kebingungan. Biarkan pemikiran dan rasa beriringan. Jangan menyakiti jika tidak ingin disakiti. Jangan memberi harapan jika hanya untuk jadi angan. Pernikahan tanpa risiko tidak akan pernah kalian temui. Pernikahan tanpa kesedihan tidak akan ditemui. Semua akan beriringan. Semangat berproses.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓