Pernikahan Impian Berjalan Lancar Berkat Bantuan Banyak Pihak

Endah Wijayanti27 Jul 2019, 15:05 WIB
mewujudkan pernikahan impian

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: MNF - Malang

Pernikahan Impianku

Kisah ini dimulai pada bulan september 2017, di mana saat itu saudaraku yang di Jakarta akan melangsungkan sebuah pernikahan. Acara itu melambangkan sebuah mimpi bagi perempuan untuk ke jenjang yang lebih serius dengan restu orang tua. Akad nikah dilangsungkan di rumah dengan suasana lebih privat, namun ketika resepsi pernikahannya lebih mewah di salah satu rumah makan di Jakarta. Maklum saat itu keluarga kami lebih cenderung ke wajah Jawa sedangkan keluarga besan wajah oriental dan bergaya modis. Secara bersamaan ibu bilang, “Jomblang to awak dewe iki, Nduk pean golek wong jowo seng sekufu ae ben marem atine ibu iki.” Cari jodoh orang Jawa saja biar tenang hati ibu, begitu kira-kira pesannya.

Ketika ibu memberi wejangan seperti itu, maka pikiranku pun harus demikian. Di saat bersamaan pacarku sudah membawa keluarganya ke rumah, selang seminggu keluargaku pun mengunjungi kediamannya. Serta memastikan tanggal pernikahan kami. Sempat ada perbedaan tanggal saat itu, keluargaku tak mementingkan namanya weton dan adat jawa. Keluargaku lebih pada sah dan pas waktu libur, agar semua keluarga yang jauh bisa ikut kumpul.

Kemudian diputuskanlah akad dan resepsi di tanggal yang berbeda, resepsi dilakukan di rumah dan akad dilakukan di gedung. Persiapannya pun memerlukan pemikiran yang luar biasa menguras tenaga. Perdebatan antara pernikahan biasa saja hingga pernikahan yang bergaya ala-ala "wong sugih". Padahal tergolong orang biasa dikatakan sederhana saja. Berdasarkan hasil perdebatan, pernikahan dilakukan dengan besar-besaran disebabkan hajatan pertama dan putri, putu pertama dari ibu yang menikah. Maklum orang tuaku tak pernah melakukan hal-hal yang besar-besaran.

 

Berjalan Sesuai Harapan

menikah batal
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Semua dana disiapkan oleh orang tuaku, disebabkan saat itu aku baru selesai studi dan langsung dipinang. Undangan desainnya digarap adik dan calon adik iparku, dan souvenir aku sendiri yang menyiapkannya. Make up dan adat disiapkan oleh teman gengku pas MTS, dekorasi disiapkan oleh saudara papiku, katering disiapkan oleh saudara mamiku, pengisi acara disiapkan oleh teman ortu, dan fotografernya adik kelasku waktu MAN. Alhasil semua persiapan didiskon dengan harga kekeluargaan, serta bersyukur pada Allah diberi kemudahan.

Hari demi hari pun terlewati, hingga tanggal 15 Desember pun tiba. Akad pun digelar pada pukul 09.00 pagi, sempat ada insiden calon suamiku mengalami kemacetan di jalan akibat ada kecelakaan. Sempat berpikiran bahwa pernikahanku tak akan terlaksana karena sudah kelamaan nunggu hingga penghulunya akan pergi. Namun dengan izin Allah acara tersebut dilaksanakan dengan lancar dan sah. Penuh dengan air mata kebahagiaan dan kesedihan akan terlepas dari pangkuan orang tua.

Waktu pun berlalu, pada tanggal 24 Desember kami melaksanakan resepsi di gedung pada pukul 08.00–13.00 WIB. Pukul 08.00–10.00 merupakan acara untuk keluarga dan adat Jawa modern dengan dresscode biru. Alhamdulillah, acara resepsi berjalan lancar, meskipun sempat terjadi drama keluarga. Tetapi hasilnya sesuai dengan pernikahan impian yang aku harapkan, hingga menjadi salah satu inspirasi bagi teman-temanku untuk menikah saat itu. Tentunya aku mengucapkan terima kasih kepada Allah, keluarga dan tim hore yang sudah melancarkan the wedding of my dream.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓