Adat Menikah Pasangan Jurep, Perempuan Sulung dan Pria Bungsu

Endah Wijayanti31 Jul 2019, 08:48 WIB
adat menikah pasangan jurep

Fimela.com, Jakarta Setiap perempuan punya cara berbeda dalam memaknai pernikahan. Kisah seputar pernikahan masing-masing orang pun bisa memiliki warnanya sendiri. Selalu ada hal yang begitu personal dari segala hal yang berhubungan dengan pernikahan, seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Fimela Juli: My Wedding Matters ini.

***

Oleh: Agustina Kumala - Lamongan

Menemukan belahan jiwa di antara miliaran manusia adalah anugerah. Apalagi dia ada di depan mata sesuai dengan pengharapan yang dilangitkan lewat doa. Dia datang di saat yang tepat, di waktu yang tepat, di tempat indah yang kan terkenang sepanjang masa, yaitu di bangku pascasarjana.

Kami sekelas, duduk pun berhadapan karena meja didesain berbentuk huruf “U”. Meski satu kelas tidak lebih dari 20 orang, nyatanya tak sekalipun kami saling sapa. Sepertinya sekitar satu semester, kami hanya sekedar tahu nama masing-masing. Itu pun melalui absen ketika dosen mengecek kehadiran satu persatu.

Hingga suatu hari, aku terlambat masuk kelas dan mendapati hanya tersisa satu kursi kosong, tepat di samping lelaki pemilik hidung segitiga, berkulit bersih dengan garis wajah tegas dan alis lebat. Duduk berdampingan membuat kami saling berkenalan, kemudian dengan bergulirnya waktu kami pun bercerita tentang banyak hal, hingga tak terasa semakin hari kami semakin dekat.

Tiga bulan selepas percakapan yang pertama, kami memutuskan untuk menikah. Bermula dari sebuah pesan pendek yang membuat perasaan campur aduk, tubuh lemas, nafas sesak dan air mata luruh tanpa bisa ditahan.

“Kenapa kamu terus menghubungi saya?” bunyi pesan pendeknya kala itu. Padahal sebelumnya dia terlihat baik-baik saja dengan kebersamaan kami.

“Karena aku ingin dekat denganmu,” jawabku

”Kalau ingin dekat, nikah saja yuk!” balasnya.

Seketika bumi berhenti berputar. Serasa terperangkap di zona pause. Tenggorokan tercekat, membuat saliva sulit tertelan. Aku dilamar? Benarkah? Beginikah rasanya dilamar? Apakah dia serius? Ataukah hanya bercanda? Beragam pertanyaan berkelindan memenuhi kepala, campur aduk tak beraturan. Betapa sungguh tak bisa diungkapkan melalui kata. Hanya bisa dirasakan ketika mengalaminya.

 

Anak Sulung dan Bungsu

adat dalam menikah
Konflik jelang pernikahan./Copyright shutterstock.com

Hari setelahnya, kami disibukkan dengan persiapan menjelang acara yang kami nantikan. Aku anak sulung sedangkan dia anak bungsu. Dalam tradisi Jawa, kami disebut “jurep” yang berarti ruju dan mbarep atau ada juga yang menyebutnya setuju dan karep. Seharusnya dengan bekal itu, semua sempurna. Perpaduan pasangan berjuluk jurep adalah pertanda baik tanpa cela dan konon katanya akan dilingkupi kebahagiaan sepanjang masa. Apalagi kedua belah pihak keluarga juga merestui hubungan kami. Namun setelah diteliti lagi, hitung sana dan sini, ternyata ada sedikit kendala yang aku juga tidak terlalu paham di mana letak kendalanya.

Kami, terutama aku, sungguh khawatir saat itu. Bagaimana tidak, jika diri ini sudah telanjur mencintainya dan sudah mengkhayalkan banyak hal indah akan kami lalui bersama. Haruskah pernikahan gagal terlaksana karena terganjal legenda? Ingin rasanya mengesampingkan tata cara adat, namun juga tak ingin mengecewakan kakek yang tentu mengharapkan kebaikan senantiasa melingkupi rumah tangga kami nantinya. Kebetulan kakek adalah tetua yang sering diminta tolong oleh warga untuk menghitung hari baik dilangsungkannya sebuah pernikahan, maupun menghitung kecocokan tanggal lahir pasangan.

Beruntung setelah diskusi panjang, kendala itu bisa diselesaikan dengan syarat, yaitu ketika hari pernikahan, mempelai pria tidak diperkenankan masuk ke dalam rumah mempelai wanita hingga matahari terbenam. Jadilah aku mencari tempat yang tepat untuk dia berdiam menunggu hingga batas waktu persyaratan. Pilihanku jatuh pada rumah kerabat yang berjarak dua rumah dari tempat tinggal keluarga kami. Pelaksanaan akad nikah dan resepsi pernikahan pun disepakati untuk diselenggarakan di luar rumah. Sungguh lega tak terperi karena kendala teratasi.

Bisa Berlangsung Lancar

menikah beda 14 tahun
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Ternyata kendala tak hanya itu, souvenir yang kami pesan sudah ada di tangan, siap untuk dikemas. Namun ternyata hingga sehari sebelum pelaksanaan acara, goidie bag untuk pengemasan belum juga tiba. Mulailah komplain ke tempat pemesanan. Mereka menginfokan kalau pesanan kami sudah ada di kantor pos kecamatan. Namun saat itu telah lewat maghrib, tentu kantor pos sudah tutup. Sedangkan besok adalah waktu berlangsungnya acara. Lobi sana dan sini, akhirnya barang bisa diambil pukul delapan malam. Tak ada yang lebih indah selain menghela nafas lega.

Malam semakin larut, menanti upacara panggih esok, membuatku tak ingin tidur. Tapi pengantin wanita harus tampil segar bukan? Maka jalan satu-satunya adalah memaksa mata terpejam sembari terus merapal doa untuk suksesnya perhelatan.

Kini, tujuh tahun sudah biduk rumah tangga kami dayung bersama, ibarat kata mutiara berbahasa Jawa omah gendheng disaponi, abot entheng dilakoni, suka duka berumah tangga kami hadapi bersama dan berusaha untuk menjadi pasangan yang saling menyempurnakan, serta menjadi orang tua terbaik untuk putra putri tercinta.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓