Martha Christina Tiahahu, Pahlawan Perempuan Maluku yang Angkat Senjata Melawan Penjajah di Usia 17 Tahun

Vinsensia Dianawanti14 Agu 2019, 06:00 WIB
Martha Christina

Fimela.com, Jakarta Kemerdekaan Republik Indonesia yang diraih pada 1945 tidak lepas dari peran pahlawan yang memperjuangkannya. Di antara jejeran pahlawan yang berjuang hingga titik darah penghabisan, tidak sedikit di antaranya adalah perempuan. Salah satunya ialah Martha Christina Tiahahu.

Perempuan asal Maluku ini sudah mengokohkan kakinya untuk berjuang melawan penjajah sejak ia berumur 17 tahun. Ya! Di usianya yang masih sangat belia, Martha Christina Tiahahu sudah turun ke medan perang melawan kolonial Belanda yang hendak menjajah tanah Maluku.

Di kalangan para pejuang dan masyarakat, Martha Christina Tiahahu dikenal sebagia gadis pemberani dan konsisten terhadap cita-cita perjuangannya. Tak heran, jika ia pun dijuluki sebagai srikandi dari Tanah Maluku.

Martha Christina Tiahahu lahir pada 4 Januari 1800 di Desa Abubu, Nusalaut. Terlahir sebagai seorang putri sulung dari Kapitan Paulus Tiahahu, salah satu pemimpin tentara rakyat Maluku, membuat rasa berani tumbuh dalam diri Martha Christina.

Sosok Martha Christina begitu identik dengan rambut ikal panjang yang terurai ke belakang dengan sebuah kain merah terikat kepalanya. Dengan tampilan khasnya ini, ia mendampingi sang ayah dengan mengangkat senjata untuk mengusir penjajah di Pulau Nusa Laut maupun Pulau Saparua.

 

Bertempur bersama sang ayah

Maluku
Monumen Martha Christina Tiahahu, Maluku. (dok. Instagram @ekylumbantoruan/https://www.instagram.com/p/BptUDpTHP_f/?utm_source=ig_web_copy_link/Asnida Riani)

Dalam perjuangannya, Martha mengobarkan semangat para pasukan Nusa Laut untuk menghancurkan musuh. Suara Martha yang begitu lantang pun membakar semangat kaum perempuan untuk mendampingi para laki-laki.

Pada pertempuran ini, seorang pemimpin pasukan Belanda bernama Richemont berhasil dibunuh oleh pasukan Martha Christina. Dengan kematian pemimpinnya, pasukan Belanda semakin membabibuta untuk menyerang masyarakat Maluku.

Pertempuran sengit pun mulai terjadi ketika Vermuelen Kringer memerintahkan serangan umum terhadap pasukan rakyat pada 12 Oktober 1817. Berbagai serangan balasan pun dilakukan hingga akhirnya persediaan peluru pasukan rakyat telah habis.

Mengetahui hal tersebut, pasukan Belanda dikomando untuk keluar dari kubu untuk melakukan serangan kembali. Pasukan rakyat pun memilih bertahan di hutan, sementara seluruh wilayah Ulath dan Ouw diratakan di tanah.

Sayangnya, Martha, ayahnya, dan beberapa tokoh pejuang ditangkap dan dibawa ke dalam Kapal Eversten. Mereka diinterogasi dan dijatuhi hukuman. Namun Martha dibebaskan karena pertimbangan usia yang masih belia. Sedangkan ayahnya dijatuhi hukuman mati.

 

Dibawa ke Pulau Jawa untuk dipekerjakan paksa

martha
Monumen Pahlawan Nasional Martha Christina Tiahahu di bukit Karang Panjang, Kota Ambon, Maluku. (Liputan6.com/Abdul Karim)

Perjuangan Martha pun tidak berhenti. Dalam sebuah Operasi Pembersihan pada Desember 1817, Martha dengan 39 orang lainnya ditangkap dan dibawa ke Pulau Jawa menggunakan Kapal Eversten. Untuk kemudian dipekerjakan secara paksa di perkebunan kopi. Namun sepanjang perjalanan ke Pulau Jawa, Martha terus melakukan pemberontakan melawan Belanda.

Kondisi kesehatan Martha Christina Tiahahu pun semakin memburuk. Ia menolak untuk makan dan menjalani pengobatan. Hingga akhirnya Martha Christina Tiahahu menghembuskan nafas terakhir pada 2 Januari 1818. Jenazahnya pun disemayamkan dengan penghormatan militer di Laut Banda.

Nama Martha Christina Tiahahu dipatenkan sebagai Pahlawan Nasional pada 20 Mei 1969. Pemerintah Maluku pun membuatkan sebuah monumen untuk mengenang semua jasa dan pengorbanan Martha Christina.

Simak video berikut ini

#GrowFearless with Fimela

Lanjutkan Membaca ↓