Cinta Itu Indah tapi Juga Rumit

Endah Wijayanti10 Sep 2019, 18:15 WIB
cinta rumit

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagan yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Vniagave - Jakarta

Aku adalah apa yang aku tulis dan aku adalah apa yang selalu kau lewatkan. Ada banyak kisah yang datang bertubi-tubi, menyerang, menerjang, hingga membuatku patah. Bacalah dengan hatimu dan kau akan melihat serpihan patahan itu. Tenang saja, aku hanya bercerita bukan untuk mengajakmu terluka, itu saja.

Patah. Iya, seperti ranting kering yang patah, kemudian hancur, lalu dibuang ke dalam perapian, panas, sakit, dan lenyap menjadi debu. Aku menyebutnya begitu, karena memang sesungguhnya seperti itu. Aku tidak peduli kau akan menganggapku berlebihan atau bahkan menganggapku seperti bermain peran. Namun nanti kau akan melihat betapa buruknya kisah yang menenggelamkan ku dalam kesesakan dan kesepian.

Kisah sederhana yang membuatku masuk pada ruang yang belum pernah aku singgahi. Sangat nyaman dan tentram. Aku menikmati keindahan di depan mata dengan sejuta harap untuk hidup bersama selamanya. Keindahan itu terus menemaniku hingga waktu yang lama, aku bersamanya, dia bersamaku. Aku nyaman, dia nyaman, dia bilang begitu. Aku sayang, dia sayang, dia bilang begitu. Aku bahagia, dia bahagia, dia bilang begitu. Aku setia, dia setia, dia bilang begitu. Aku cinta, dia cinta, aku bilang begitu.

Aku menyebutnya sebuah keindahan, karena berjalan di sisinya adalah keindahan bagiku, digenggam olehnya adalah keindahan bagiku, membayangkan wajahnya adalah keindahan bagiku, semua tentangnya adalah keindahan bagiku. Feromon tubuhnya adalah keindahan bagiku. Tapi aku ? Aku adalah keindahan baginya. Aku bilang begitu.

Kata mereka aku yang paling beruntung, dicintai dengan segala keindahan yang aku cinta. Kata mereka aku yang paling beruntung mendapatkan keindahan yang orang-orang inginkan. Ya, aku bahagia karena aku beruntung bersama keindahan milikku.

Cinta sejati... Oh tentu aku memilikinya. Keindahan ada di depan mataku. Maka cinta sejati itu juga di depan mataku, dia ada, dia terlihat dan dapat kuraih, hingga aku tersadar semua itu hanya aku yang bilang begitu.

Cinta yang Indah Itu Hilang

Patah hati (iStock)
Ilustrasi patah hati (iStockphoto)

Aku melihat dunia masih tetap dengan segala isinya, tapi aku tidak mau melihat hatiku. Aku ingin melihat hatinya, keindahanku. Tak terhitung jumlah musim yang kulalui bersamanya, hidupku dengan keindahan miliku. Indah, iya indah seperti yang aku sebutkan. Tapi adakah aku di dalam keindahan itu?

Ingin rasanya menelisik hatinya, masuk ke dalamnya, sebenarnya apa yang terjadi di dalamnya? Tak kusangka keindahan dapat berubah dan hilang. Padahal yang kutahu keindahan akan tetap utuh hingga dunia berakhir, ternyata aku salah.

Kini aku paham keindahan milikku sama seperti seorang manusia yang akan berubah, menua, dan tentunya tidak sama, manusia kan seperti itu, lahir, menjadi bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, hingga pada akhirnya manusia akan lenyap dan mati. Aku menyadari bahwa yang selama ini kusebut keindahan sudah lenyap.

Remuk dan hancur saat kutahu bahwa keindahan yang menemaniku selama ini adalah kepalsuan. Rasanya seperti ada yang menancapkan benda tajam tepat di ulu hatiku. Aku menyebutnya indah, ternyata tidak. Dia memberikan keindahan begitu lama, tapi tidak bertahan lama. Apa yang menjadi masalahnya? Keindahan tidak pernah mengeluh, keindahan akan tetap menebarkan keindahannya sampai kapan pun, dia akan menularkan keindahan pula, iya benar. Aku bilang begitu. Ternyata aku tak menyadari bahwa sebuah keindahan yang kusebut akan menebarkan keindahan pada yang lain, bukan hanya untukku saja. Akan ada banyak yang menikmati keindahan yang kusebut itu.

Ya, sekarang aku paham aku salah. Aku salah menyebutnya keindahan, harusnya aku tidak pernah menyebutnya keindahan. Tidak.

Kusebut dia keindahan, karena hanya aku yang akan menikmati indahnya. Kusebut dia keindahan karena hanya aku yang akan diberi keindahan. Keindahan itu milikku, aku bilang begitu. Tapi?

Keindahan itu pergi, hilang, seperti debu yang dihempaskan angin.

Kehilangan dan Keindahan

jatuh cinta patah hati
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/wilaiporn+Hancharoenkul

Aku menjadi ranting, setelah keindahan yang kumiliki hilang, oh salah bukan hilang tapi menjadi milik ranting yang lain. Ranting yang lain ? Iya aku bilang begitu. Aku percaya, pada akhirnya dia akan menjadi ranting yang sama seperti aku.

Sedihnya, keindahan itu mimilih diam dan hilang. Seakan tidak ada yang ia tinggalkan, tanpa sadar dia telah menebarkan keindahan yang sangat amat banyak pada sebuah ranting kering yang membutuhkannya. Diam seperti indahnya tetap diam.

Ada banyak hal yang membuatku patah, karena sudah cukup banyak keindahan darinya yang tersisa dalam diriku. Dengan mudahnya keindahan yang kubilang sempurna itu hilang tanpa jejak, padahal sejuta kebaikan dan keindahan masih tersisa. Kemudian dia hilang, pergi, dan meninggalkan serpihan.

Bayangkan saja sesuatu yang tiba-tiba hilang tanpa kata terus membuat pikiran dan hatimu bertanya-tanya, namun jawabannya tak kunjung ada. Lebih indah rasanya jika aku melihatnya mati dalam dekapanku, aku masih bisa memiliki keindahannya hingga dia mati, tapi ini? Aku tidak tahu semua itu pergi ke mana, entah apa alasan dan maksudnya.

Rasanya hari-hariku hanya diisi dengan pertanyaan pertanyaan itu, hingga sesak, sepi, gelap, hilang, dan aku tidak tahu seperti apa bentuk hati ini sekarang.

Sewindu keindahan itu bersamaku, tapi tak kutemui lagi dia.

Tak lagi aku percaya keindahan, tak lagi aku lihat sebentuk rupa sejenisnya, tak lagi aku percaya ada oasis di tengah gurun, tak lagi aku percaya cinta.

Karena hanya aku yang cinta. Cinta sejati katamu? Bagiku itu seperti keindahan.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓