Suami Menjadi Orang Pertama yang Dibutuhkan untuk Menghadapi Dunia

Endah Wijayanti28 Sep 2019, 11:15 WIB
anak didiagnosis autis

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: Damar - Surabaya

Witing tresna jalaran saka kulina, begitu kata pepatah Jawa yang bisa menggambarkan bagaimana hubungan saya dan Ganung. Sama-sama perantau, kami dipertemukan di salah satu perguruan tinggi kedinasan milik pemerintah. Satu tahun pertama kami kuliah kami menjadi teman sekelas. Kami masih malu-malu ketika bertemu di kelas, tetapi seiring dengan berjalannya waktu kami menjadi semakin dekat. Apalagi tahun 2008 Facebook menjadi media sosial yang sedang naik daun, dari situlah kami menjalin komunikasi, berbalas pesan melalui Facebook dan SMS.

Setelah lulus, kami memohon agar bisa mendapat penempatan bersama agar saat sudah menikah kami tak perlu risau dengan jarak yang memisahkan. Syukurlah permintaan kami disetujui, kami mendapat penempatan bersama di kepulauan di ujung timur Pulau Sulawesi. Tak lama berselang setelah penempatan kami memutuskan untuk segera menikah. Semua berjalan seperti yang kami harapkan. Semua kebutuhan kami tercukupi walaupun harus tinggal di pedalaman.

11 Juli 2015, lahirlah putri kecil pertama kami, Cahaya namanya. Besar harapan kami padanya, banyak yang sudah menantikan akan seperti apa dia kelak, jago pemrograman kah seperti ayahnya, atau pandai matematika seperti ibunya. Yang jelas, sejak kecil Cahaya sudah jadi anak yang tangguh. Umur 1,5 bulan setelah cuti melahirkan saya berakhir, dia sudah ikut dengan kami merantau ke luar Jawa, naik pesawat dan kapal menuju pelosok Sulawesi tempat ayah dan ibunya mengabdi.

 

 

Kelahiran Buah Hati Tercinta

Bayi
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Tidak pernah sedikit pun Cahaya merepotkan kami, tidak pernah sedikit pun kami terpikirkan kalau Cahaya akan tumbuh berbeda dari anak lainnya. Cahaya memang jarang rewel, saat terjatuh dan disuntik imunisasi pun tidak pernah menangis maupun nampak kesakitan. Tidak pernah sedikit pun kami curiga, kami anggap itu anugerah dari Allah karena Cahaya anak yang tangguh.

Umur 1 tahun Cahaya masih belum menunjukkan tanda-tanda berbicara, hanya sesekali memanggil “Yah” (untuk ayahnya) dan “Nda” pada saya. Sampai akhirnya umur satu setengah tahun kami mulai merasa ada yang mengganjal. Cahaya tidak lagi bubbling dengan bahasa planetnya, kontak matanya dengan kami pun semakin berkurang. Saya yang merasa ada yang tidak beres hanya bisa mengandalkan mesin pencari di internet untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada anak kami karena tidak ada dokter anak di daerah tempat tinggal kami.

Betapa terkejutnya saya ketika membaca tanda-tanda yang ditunjukkan Cahaya adalah gejala dari ASD (Autism Spectrum Disorder). Saya tunjukkan artikel-artikel itu pada suami, suami pun sama terkejutnya. Kami belum bisa langsung memeriksakan Cahaya saat itu karena kami hanya bisa pulang ke Jawa setahun sekali. Sampai akhirnya Cahaya berumur 2 tahun kami baru bisa memeriksakannya. Dari dokter tumbuh kembang satu ke yang lain, dari psikolog sampai psikiater kami datangi, hasil pemeriksaannya berbeda-beda, ada yang bilang “cuma” terlambat berbicara, ADHD (Attention Defisit Hiperactivity Disorder), hingga ASD seperti dugaan kami.

Suami yang Selalu Menguatkan

Ilustrasi pasangan zodiak
Ilustrasi.(Sumber: iStockphoto)

Ingin rasanya kami percaya pada dokter pertama yang mengatakan Cahaya hanya mengalami keterlambatan bicara. Hancurnya perasaan kami saat mengetahui anak pertama kami berbeda dari anak lain, kemungkinan dia tidak bisa tumbuh dengan normal, merasa menjadi orang tua yang gagal dan berbagai macam pikiran buruk lainnya. Saya sangat bersyukur suami dan keluarga mertua saya tidak pernah sedikitpun menyalahkan saya. Suami saya bahkan sangat menyemangati saya, menganggap Cahaya adalah anugerah yang dikirimkan Allah untuk menerangi jalan kami ke surga.

Cahaya dan suami membuat saya semakin mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Dia-lah yang memberikan ujian dan cobaan, Dia pula lah yang membawakan penawarnya. Akhirnya kami memutuskan meninggalkan Cahaya di Jawa bersama nenek dan kakeknya agar dapat diterapi sedini mungkin sambil menunggu pengajuan pindah kerja saya disetujui oleh pimpinan. Satu tahun setelahnya permohonan pindah saya disetujui, tapi kali ini kami harus menjalani LDM (Long Distance Marriage) karena suami masih belum diperbolehkan pindah.

Sejak kuliah hingga empat tahun pernikahan kami belum pernah terpisahkan jarak yang begitu jauhnya. Perasaan khawatir, was-was dan curiga terkadang menghinggapi, tapi kami selalu menjaga jalinan komunikasi agar tidak ada celah untuk kesalahpahaman. Syukurlah, setelah dua belas purnama, suami bisa pindah dan kami kembali hidup satu atap. Cahaya masih terapi sampai saat ini. Kemajuan sekecil apa pun tetap kami syukuri. Sepulang kerja kami juga ikut memberikan terapi untuknya di rumah. Sekarang kami sudah tidak ingin bingung memikirkan diagnosa apa yang benar, tapi berfokus pada apa yang bisa kami lakukan untuk membantu Cahaya menjadi lebih baik.

Tidak henti-hentinya kami memohon pada Allah agar Cahaya bisa sembuh tanpa bekas, tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak, kami yakin itu. Allah kirimkan Cahaya sepaket dengan ayahnya yang sangat sabar, itulah yang selalu saya syukuri. Tidak lagi saya pikirkan bagaimana kata-kata orang yang menyakitkan hati, mereka tidak mengenal saya. Yang saya tahu, suami saya selalu ada untuk mendukung saya, kapan pun dan dimana pun. Hanya dia yang saya butuhkan untuk menghadapi dunia ini.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓