Menjaga Cinta dalam Rahasia adalah Pilihan Terbaik

Endah Wijayanti01 Okt 2019, 10:45 WIB
cinta rahasia

Fimela.com, Jakarta Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang. Seperti kisah Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba My Love Life Matters ini.

***

Oleh: M - Tegal

Hanya senandung jiwa

Hanya rasa yang seluruhnya

Aku mencintainya

Menjaganya dalam rahasia

(Mencari Cinta – Noah ft BCL)

Kira-kira begitulah lirik yang dinyanyikan oleh sebuah band ternama Indonesia bersama seorang diva yang terkenal juga. Ketika pertama kali mendengar lirik lagu itu, aku langsung teringat pada seseorang, sekaligus kenangan-kenangan saat kami bersama.

Aku akan mencoba menceritakan kisah ini sejujur-jujurnya, sebagaimana setiap malam aku tak pernah bisa berhenti memikirkannya. Meskipun aku sudah bertekad untuk melupakan dia namun di dalam mimpi-mimpiku, aku masih bisa melihatnya.

Pertama kali kami bertemu adalah saat kami duduk di bangku kuliah. Kesan pertamaku saat mengenalnya waktu itu, dia adalah seorang pria yang baik dan mempunyai jiwa pemimpin. Seiring waktu berjalan, kebersamaan kami membawa kami mengenal satu sama lain lebih baik lagi. Ternyata dia lebih dari seorang pria yang kukenal selama ini. Dia dekat pada Tuhannya. Dia polos dan apa adanya, sangat berbeda dengan pria-pria lain yang kukenal.

Dia tak terlalu tampan, meski pun wajahnya tetap enak dipandang. Tapi aku merasa dia memiliki sesuatu yang membuat lawan jenis tertarik padanya begitu mudah. Dia memiliki pesona yang luar biasa dari setiap tutur kata dan kelembutannya pada seorang wanita dan itu mampu membuat wanita merasa salah paham. Dan kiranya, aku menjadi salah satu wanita yang salah paham atas sikapnya itu.

Dia sudah punya pacar. Dari awal perkenalan kami, ternyata dia sudah punya pacar. Namun, aku tak tahu apakah dia benar-benar mencintai wanita itu. Aku bahkan tak yakin dia tahu apa yang namanya cinta.

 

 

 

 

Sikapnya Membingungkan

Patah hati
Ilustrasi/copyright shutterstock

Aku masih ingat saat dia curhat padaku tentang kekasihnya di tengah-tengah seminar di kampus kami, kami justru ngobrol asyik hanya berdua dan dia menceritakan bagaimana dia akhirnya memilih wanita yang sekarang menjadi kekasihnya itu. Dia sekolah di STM, di mana semua siswanya adalah laki-laki dan dia belum mengenal wanita, sampai akhirnya ada beberapa wanita yang mendekatinya. Dia bilang, waktu itu ada dua pilihan. Dia condong pada salah satu di antaranya, namun wanita itu sangat pasif dan menunjukkan bahwa dia tidak terlalu mencintainya. Akhirnya, dia memilih yang kedua. Semudah itu. Waktu kutanya, “Jadi apakah kamu mencintainya?” Dia menjawab, “Waktu itu aku hanya tertarik padanya. Dan hanya dia pilihan yang tersisa.”

Dia bilang, selama berpacaran, wanita itulah yang mengambil alih atas hubungan mereka. Dia mengendalikan segala sesuatunya dan pria yang kucintai tak bisa menolaknya karena dia tak bisa menyakiti wanita itu. Kekasihnya itu sangat cemburuan, bahkan mengobrol bersama wanita lain pun dilarang olehnya. Aku tahu dia tak akan bisa melakukan itu karena pria yang kucintai ini sangatlah humanis. Dia suka bersosialisasi dengan semua orang, bukan hanya dengan wanita, tapi dengan semua orang. Dia tak bisa dikekang namun juga tak bisa menyakiti kekasihnya. Jadi setiap dia pergi bersama teman-temannya, dia selalu sembunyi-sembunyi. Sungguh sebuah hubungan yang sangat sulit dijalani.

Namun, wanita itu tetaplah menjadi wanita yang paling beruntung karena berhasil memiliki dia. Entah ada cinta atau tidak, entah jodoh atau bukan, entah benar-benar belahan jiwa atau hanya sekadar ‘tak sengaja’ yang jelas, kini dia menjadi wanita yang paling beruntung karena telah memilikinya.

Aku sendiri hanya sebagai sahabatnya. Segala perhatian dan kasih sayang yang ia berikan padaku selama ini kuanggap hanya sebagai rasa sayang persahabatan. Karena aku tak ingin berharap banyak pada seseorang yang telah memiliki kekasih.

Kadang sikapnya sangat membingungkan. Dia bilang dia merasa lebih nyaman bersamaku dibandingkan dengan kekasihnya. Dia tidak suka hubungan yang otoriter saat seperti dia bersama kekasihnya dan ingin bersantai dengan mengobrol bersamaku. Karena satu kampus dan satu kelas, kami sering satu kelompok. Dan entah bagaimana, kami merasa saling melengkapi satu sama lain. Banyak teman-teman kami juga yang selalu meledek bahwa kami sangatlah cocok. Tentu saja, aku menganggap itu sebagai gurauan belaka. Meskipun ada setitik rasa di sudut hatiku yang mengharapkan itu benar.

Lambat laun, rasa itu bermetamorfosis menjadi besar. Ia berkembang terus menjadi indah. Aku tak bisa menjalani hari tanpa melihatnya. Tanpa bertemu dengannya, tanpa melihat senyumnya. Aku suka sekali duduk di sampingnya karena aku bisa mencium aroma parfumnya yang membuatku nyaman. Ketika kami mengobrol, semuanya terasa nyambung. Dia mampu mengimbangi selera humorku yang aneh. Ketika bersamanya, semuanya terasa benar. Benar dan lengkap.

Tapi aku tahu, ada wanita itu dalam hidupnya. Dan aku tahu ini salah. Mencintai dia itu salah. Meskipun dia yang selalu mendekat, atau mungkin karena pesonanya yang terlalu besar sehingga membuatku dan wanita lain tak bisa pergi darinya, ketika berada di dekatnya itu salah.

Menjumpainya Kembali

patah hati
ilustrasi./Photo by Anthony Tran on Unsplash

Sampai suatu ketika, kami berada dalam pertengkaran kecil karena sebuah masalah sepele. Hanya karena kesalahan komunikasi. Tapi permasalahan itu berubah menjadi besar, sesungguhnya masalahnya bagiku berubah karena aku tak sanggup lagi menahan rasa ini. Aku ingin menjauh darinya karena aku tahu cinta ini berubah menjadi salah. Tapi, dia justru mendatangiku. Dia datang ke rumahku. Aku tidak merespons dia sama sekali, tapi dia tetap bersikukuh menungguku di depan pintu rumahku. Dia berdiri di depan rumahku, menungguku untuk minta maaf selama satu jam. Aku tak sampai hati membiarkan dia seperti itu, jadi kusuruh dia masuk.

Dia meminta maaf dan menanyakan sikapku. Dia bilang, dia ingin seperti dulu. Dia bahkan mengatakan, dia tidak ingin kehilangan aku dalam hidupnya. Dia ingin aku selalu ada untuk dia seperti dulu. Aku merasa bingung. Tiba-tiba sebuah perasaan muncul ketika aku menatap matanya yang saat itu duduk tepat di sampingku. Aku membencinya, aku cemburu karena dia sudah memiliki kekasih tapi terkadang bersama wanita lain yang bukan kekasihnya tapi aku juga mencintainya, aku tak ingin kehilangan dia. Akhirnya aku kembali kalah dan memaafkannya. Kami berteman lagi dan sesungguhnya itu membunuhku karena kembali mencintainya dalam rahasia.

Waktu berlalu, sampai kami lulus kuliah. Sebelum lulus, kami sama-sama berjanji akan bekerja di perusahaan yang sama. Apa pun itu. Kami mendaftar kerja bersama dan berusaha memupuk mimpi kami perlahan-lahan. Namun, aku memilih untuk mendaftar kerja yang jauh dari kota asal kami tanpa memberitahunya. Dan ketika dia tahu itu, dia kecewa. Sikapnya berubah dan kami jadi terpisah. Hubungan kami tiba-tiba tidak seakrab dulu dan seperti ada jarak ketika kami mengobrol di pesan singkat. Semuanya berubah dan aku mencoba untuk dewasa menerimanya.

Sampai setahun kemudian, hidupku menjadi sangat berat. Aku kesulitan mencari kerja. Di sisi lain, aku berpikir, jika pria itu masih ada dalam hidupku saat ini, dia pasti tak akan tinggal diam. Dia pasti akan membantuku. Atau paling tidak, dia akan menghiburku dan tidak akan membiarkanku bersedih. Sebenarnya aku hanya membutuhkan dia di sampingku. Dia tak perlu melakukan apa pun, aku hanya ingin dia tetap di sampingku karena aku itu akan membuatku merasa lebih baik dan aku tahu semuanya akan baik-baik saja jika ia ada di sampingku seperti saat kami masih kuliah dulu. Namun dia sudah tidak ada dalam hidupku lagi.

Aku bisa saja menghubunginya tapi aku merasa terlalu takut jika dia akan menolakku dan semakin membenciku. Jadi aku menahan perasaanku meski pun aku tak henti-hentinya berdoa pada Tuhan agar mengembalikan dia di hidupku, agar membuatnya kembali berada di sisiku. Aku berdoa untuk keajaiban. Aku menuruti nasihat ibuku untuk menghubungi teman-temanku di grup WhatsApp untuk menanyakan lowongan kerja dan ternyata satu-satunya teman yang membalasku adalah dia.

Dia Bertunangan

menikah garden party
Ilustrasi./Copyright unsplash.com

Dia sudah bekerja di sebuah instansi pemerintahan sebagai pekerja lepas. Dia menawariku pekerjaan itu tanpa memberi iming-iming yang muluk-muluk atau pun meminta imbalan. Dia tulus membantuku. Awalnya aku ragu, karena aku takut perasaan itu kembali muncul, tapi aku sangat butuh pekerjaan itu. Dan akhirnya, aku menerima tawarannya.

Kami bekerja di kantor yang sama. Satu ruangan pula. Kami kembali bertemu setiap hari. Aku bisa melihatnya setiap hari, berbicara padanya, melihat senyumya dan mencium aroma parfumnya yang menenangkanku. Itu seperti keajaiban buatku. Keajaiban dari Tuhan yang langsung diberikan untukku.

Hubungan kami semakin membaik. Aku semakin terpesona padanya setiap hari. Bukan karena ketampanannya melainkan karena caranya memandang hidup yang sudah berubah. Dia ingin menjadi seorang pengusaha. Dia mengubah cara pandanganya tentang hidup dan cita-citanya yang besar benar-benar memukauku. Tekadnya yang kuat menyentuh hatiku dan membuatku semakin mencintainya.

Mencintainya membuatku menjadi pribadi yang lebih baik. Aku semakin dekat dengan Tuhanku dan aku mulai memandang hidup dengan apa adanya, tidak lagi bermimpi terlalu besar. Berada di dekatnya membuatku merasa normal. Aku tidak lagi bermimpi terlalu tinggi karena aku tahu semua akan baik-baik saja, terlebih karena ada dia di sampingku.

Aku akhirnya berpikir mungkin ini adalah sebuah hubungan yang harus kujalani. Sebuah tanda dari Tuhan bahwa dia adalah belahan jiwaku. Jodohku, barangkali. Dia melengkapiku. Kami saling melengkapi. Dan meski pun kami telah berpisah, ternyata dia kembali lagi padaku atas doa yang kupanjatkan tiap malam sambil aku menangis. Tapi aku tak ingin mendoakan dia putus dengan pacarnya karena aku tahu itu tidaklah benar. Meski pun harapan itu ada, tapi aku berusaha untuk bersabar dan menikmati setiap detik saat bersamanya, dengan tetap menjaga batasan.

Akhirnya perasaan itu semakin membuncah. Aku takut aku terus berusaha untuk membuat dia selalu berada di lingkaran hidupku. Mungkin doaku berubah menjadi tidak murni lagi. Cintaku dicampuri oleh setan. Perasaan itu tak lagi putih namun berubah hitam dan aku ingin dia menjadi milikku. Satu-satunya hanya aku di dalam hatinya.

Dan dia mematahkan harapanku. Dia mematahkan cintaku.

Dia bertunangan dengan kekasihnya secara diam-diam. Tapi wanita itu yang menyebar foto-fotonya. Dia masih memonopoli hubungan mereka dengan mengganti semua foto profil sosial media miliknya dengan foto pertunangan mereka tanpa sepengetahuan lelaki yang kucintai itu. Dan teman-temanku yang menyebarluaskan kabar itu melalu grup WhastApp.

Hatiku Patah

Putus Cinta
Ilustrasi.(Foto: I-stock)

Aku hancur, tentu saja. Hatiku patah. Tiba-tiba segalanya berada di luar kendaliku. Tapi aku tahu aku tak bisa berbuat apa-apa. Mereka telah berpacaran bertahun-tahun, bahkan sebelum kami bertemu. Wanita itu lebih mengenal dia daripada aku. Meski pun dia selalu mengontrol hubungan mereka, tapi bagaimana pun juga dia memiliki hak untuk itu. Sementara aku tak punya hak untuk bersedih. Terlebih lagi dia hanya menganggapku sebagai seorang sahabat.

Tapi apakah benar dia mencintai wanita itu?

Aku yakin, dia bahkan tak tahu apa itu cinta. Apa itu belahan jiwa. Apa itu jodoh. Apa itu chemistry.

Apakah dia tak merasakan yang kurasakan selama ini? Saat kami bersama aku merasa lengkap.

Mungkin tidak.

Mungkin perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan.

Mungkin aku salah.

Aku pernah berdoa pada Tuhan agar membuat dia selalu di sisiku. Tuhan mengabulkan itu namun ternyata tak sebagai milikku.

Aku bisa saja, mengatakan padanya bahwa aku mencintainya. Aku bisa saja mencoba untuk merebutnya. Aku bisa saja mengatakan padanya, “Kau tidak mencintainya. Kau hanya berpikir kau mencintainya karena kau telanjur sudah berpacaran dengannya dan kau tidak bisa meninggalkannya. Bukan karena kau mencintainya.” Tapi aku tidak mengatakan itu. Aku tidak melakukan itu. Aku tetap membungkam perasaanku rapat-rapat.

Aku menjaga cintaku dalam rahasia, seperti yang lagu itu lantunkan. Mencintainya dalam rahasia adalah satu-satunya pilihan terbaik yang kupunya saat ini. Meski pun ini menyiksaku. Ini membunuhku. Terlepas dia mencintai wanita itu atau tidak, tapi jika aku merusak hubungan mereka dan pertunangan itu batal, wanita itu akan bersedih dan dia akan membenci pria yang kucintai itu. Keluarga pria yang kucintai juga akan sangat marah padanya. Itu akan menyakitkan untuknya dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.

Aku tak akan menghancurkan hidupnya. Aku tak mau merusak kebahagiaannya karena aku tahu jika dia bahagia, aku akan bahagia juga. Aku berharap dia akan bahagia. Bersama wanita itu atau yang lain dan bukan denganku karena aku kini merasa tidak pantas untuknya.

Aku yakin, suatu saat nanti aku akan bertemu dengan seseorang, meskipun aku tahu tak akan pernah sama seperti yang kurasakan padanya. Namun, biarlah cinta ini jadi pelajaran. Biarlah rasa ini menjadi kenangan dan aku akan menjaganya dalam rahasia.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓