Menurut Pakar Kesehatan Para Menteri Baru Jokowi Harus Sehat Fisik dan Mental, Ini Alasannya

Anisha Saktian Putri21 Okt 2019, 11:30 WIB
Jokowi bersama keluarga bersiap berangkat ke Gedung MPR/DPR/DPD RI Jakarta untuk menghadiri Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden 2019

Fimela.com, Jakarta Jokowi sudah resmi dilantikan untuk melanjutkan tugasnya sebagai Presiden 2019-2024. Setelah pelantikan, Jokowi pun tentu akan memilih menteri untuk jabatan lima tahun ke depan selama periode kedua ini. Hal ini penting karena tugas seorang menteri kedepan merupakan tugas yang cukup berat untuk membantu Jokowi lima tahun ke depan.

"Saat ini kita semua sedang berjuang dalam berbagai keterpurukan di era globalisasi. Selain itu kita terus berjuang untuk mengejar ketertinggalan dengan negara tetangga yang terus bergerak cepat. Jelas tugas seorang menteri sungguh maha berat untuk menjalankan departemen-departemen dan lembaga pemerintahan untuk mengejar ketertinggalan tersebut," ujar Dr. Ari Fahrial Syam akademisi dan praktisi klinis kepada Fimela.com, Senin (21/10/2019).

Ia menambahkan, hiruk pikuk saat masa kampanye sampai mendekati proses pemilhan juga membuat para menteri bekerja ekstra ketat. Fakta ini menunjukkan kepada kita bahwa tugas menteri cukup berat dengan tingkat stress yang sangat tinggi. Oleh karena itu berbagai potensi resiko penyakit juga bisa terjadi bagi para menteri tersebut.

Berbagai penyakit kronis yang ada saat ini, juga bisa menjadi kambuh dan menjadi tidak terkendali. Pada periode pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono sebelumnya kita melihat bahwa para menteri baru yang tidak siap secara fisik dan mental mengalami jatuh sakit baik mengalami serangan jantung ataupun stroke.

Oleh karena itu selain seseorang yang profesional dan “bersih” menurut KPK, PPATK dan BNPT, masalah kesehatan para calon menteri juga harus menjadi pertimbangan. Jangan sampai para menteri jatuh sakit ditengah perjalanan dengan tugas maha berat ini.  

"Kalau perlu sistem pemeriksaan kepada calon presiden yang telah rutin dilakukan sejak pilpres sebelumnya juga diterapkan kepada calon menteri yang akan datang," tambahnya.

 

Alasan penting pemeriksaan kesehatan

Usai Pelantikan Presiden, Jokowi Kembali ke Istana Merdeka
Presiden Joko Widodo atau Jokowi memberi keterangan saat tiba di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (20/10/2019). Usai dilantik menjadi Presiden RI untuk kedua kalinya, Jokowi langsung kembali ke Istana Merdeka. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Setelah calon menteri yang telah dipertimbangkan dengan matang perlu dilakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui kondisi kesehatan para calon menteri tersebut. Jika hal ini tidak memungkinkan bisa saja diminta bagi calon menteri untuk menyertakan hasil check up kesehatan yang terbaru dari rumah sakit yang ditunjuk.

Beberapa alasan kenapa suatu pemeriksaan kesehatan tersebut menjadi penting adalah banyak penyakit yang awalnya hanya dapat diketahui dengan pemeriksaan laboratorium atau pemeriksaan penunjang lain baik pemeriksaan rontgen maupun pemeriksaan USG.

Kadar gula darah, kolesterol, serta asam urat yang tinggi pada awalnya hanya diketahui dengan pemeriksaan laboratorium. Tekanan darah yang tinggipun diketahui hanya dengan pemeriksaan tekanan darah.

Selain itu, gangguan fungsi ginjal dan fungsi hati hanya diketahui dengan pemeriksaan laboratorium. Sementara jantung yang bengkak dan kelainan paru dapat diketahui dengan pemeriksaan foto thoraks. Melalui pemeriksaan USG abdomen dapat diketahui adanya kelainan pada liver, kandung empedu, pankreas, limpa, serta kedua ginjal dan organ-organ abdomen lainnya.

Terjadinya serangan jantung atau stroke merupakan kelainan yang paling sering dialami oleh para eksekutif termasuk para menteri maupun pejabat eselon 1. Penyakit yang mematikan ini sebenarnya tidak terjadi dengan sendirinya. Kejadian serangan jantung dan stroke berhubungan dengan berbagai faktor resiko yang terjadinya tidak dengan sendirinya.

Faktor-faktor resiko yang terjadi sebagian hanya diketahui dengan pemeriksaan laboratorium. Faktor resiko tersebut antara lain kadar gula darah yang tinggi (DM), kadar kolesterol tinggi (Dislipidemia), obesitas, serta faktor stress.

Bagaimana dengan calon menteri perempuan? Selain pemeriksaan kesehatan rutin khusus untuk wanita perlu pemeriksaan untuk skrining kanker perempuan seperti kanker payudara dan kanker mulut rahim. Adanya kelainan yang ditemukan belum tentu menggugurkan seseorang menjadi menteri. 

"Tapi paling tidak, deteksi adanya kelainan yang diketahui lebih awal pada calon menteri akan lebih baik untuk upaya pencegahan dan terapi awal. Sehingga tim dokter menteri atau dokter yang ditunjuk untuk menjaga kesehatan menteri sudah tahu kondisi sakitnya," ujarnya

Inilah tujuan dari pemeriksaan kesehatan untuk mendeteksi kelainan penyakit yang terjadi agar komplikasi akibat kelainan yang ditemukan tersebut tidak berlanjut.

#Growfearless with Fimela

Lanjutkan Membaca ↓