Berhenti Menyalahkan Diri atas Semua yang Terjadi, Hidupmu Punya Arti

Endah Wijayanti22 Okt 2019, 18:15 WIB
kapan bahagia

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Selvy Arianti - Tangerang

Usia 20-an yang berada di fase dewasa membuat siapa saja mendapatkan pertanyaan yang beragam dan seringkali mengusik pikiran. Diawali kapan lulus kuliah? Kapan kerja? Kapan nikah? Serta kapan yang lainnya. Suatu hari aku menemukan sebuah pertanyaan yang membuat hati tenang, sesuatu yang baru aku dengar selama hidupku.

“Kapan bahagia?”

Pertanyaan singkat tapi melekat. Seolah pertanyaan itu ditujukan untuk semua orang yang membacanya. Apakah kita bahagia dengan apa yang sudah kita miliki, lakukan, bahkan yang sedang kita perjuangkan?

Mulai sejak saat membaca dua kata itu, aku menanyakan kepada diri apakah sudah bahagia? Dampaknya sangat terasa, aku benar-benar mengenali siapa diriku dan apa tujuanku.

Tadinya aku sering kepo mengenai kehidupan teman-teman di media sosial, merasa bahwa mereka yang hidupnya enak sangatlah bahagia. Tapi seperti sudah terencana, satu per satu aku menemukan berita yang membuka mata hati. Hingga aku mendapatkan kesimpulan bahwa bahagia tidak ditentukan seberapa banyak harta yang kita miliki, berapa tempat yang sudah kita kunjungi, dan berapa banyak prestasi yang sudah kita ukir.

Kebahagiaan lebih dari itu. Kebahagiaan hadir pada diri masing-masing dengan persepsi yang berbeda. Coba kita bertanya kepada anak yang berusia di bawah sepuluh tahun, paling-paling mereka menjawab merasa bahagia karena mendapatkan uang jajan setiap hari, mendapatkan mainan baru, dan dapat nilai seratus.

Alasan seseorang bahagia sejalan dengan usia yang ada. Aku bahagia ketika mampu menyelesaikan apa yang sedang aku kerjakan. Seseorang bahagia karena dapat menikah di usia yang sesuai dengan impiannya.

 

Membandingkan Diri Sendiri dengan Seorang Teman

Teman curhat (iStock)
Ilustrasi. (iStockphoto)

Setiap orang memiliki kebahagiaannya masing-masing, dulu aku membandingkan kebahagiaanku dengan kebahagiaan temanku. Yang aku dapati adalah dia dari keluarga kaya raya namun aku berbeda, seringkali merasa minder berada di dekatnya.

Padahal dulu aku pernah menegur teman-teman adikku yang sedang mengolok adikku. Mereka meneriaki adikku sebagai orang yang miskin karena tidak mempunyai sepatu untuk olahraga seperti mereka. Spontan aku yang mendapati adik sedang diolok-olok mencoba untuk menjelaskan kepada mereka bahwa pertemanan tidaklah memandang harta. Sesaat sesudahnya barulah sadar bahwa aku mencampuri urusan pertemanan adikku dan melakukan hal yang sama, yakni minder terhadap teman yang kaya raya.

Ibuku bertanya kenapa adikku menangis, aku menjelaskan apa yang terjadi. Suasana sejenak hening ketika Ibu menanyakan seperti apa sepatu yang adikku inginkan agar teman-teman tidak mengoloknya. Sebenarnya persoalan sepatu adalah hal yang kecil tapi karena adikku belum paham arti pertemanan jadilah aku yang turun tangan.

Ketika memandingkan diri sendiri dengan orang lain, akan ada banyak perbedaan, apalagi tentang pencapaian. Kita tidak bisa memaksakan seseorang yang begitu cintanya terhadap menulis untuk membuatnya pandai memainkan gitar. Tentu itu akan memerlukan banyak waktu. Aku jadi belajar arti pertemenan dan berhenti membandingkan diri melalui apa yang terjadi terhadap adikku.

Belajar Mensyukuri

zodiak mingguan
ilustrasi./Photo by Jc Romero from Pexels

Untuk mengisi waktu luang, selain membaca buku dan menulis maka aku sesekali rebahan sambil menonton video tentang orang-orang yang sukses menjalankan bisnis dari nol. Betapa terkejutnya aku bahwa beberapa di antaranya terlahir dengan fisik yang ada kekurangannya, namun semangatnya menjalani hidup tidak lagi dapat diragukan.

Saat itu aku malu, semangatku yang memiliki tubuh sehat dan terbilang utuh merasa masih di bawahnya. “Mengapa aku tidak mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan kepadaku?” tanyaku.

Mulailah mempercayai bahwa sebenarnya kita diciptakan oleh Tuhan dengan sebaik-baiknya. Kebahagiaan ditentukan dari diri kita, mensyukuri atau tidak semua itu bergantung kepada kita. Ketika orang lain menilai diri kita tidak bahagia, yang tahu dengan sebenar-benarnya adalah diri kita sendiri.

Aku pun berhenti menyalahkan diri atas apa yang sudah lama terjadi, salah satu di antaranya yakni kejadian terjatuh di kamar mandi yang menyebabkan beberapa tahun kemudian kesehatanku menurun.

Aku menjadi tidak begitu kuat duduk lama karena saat itu posisi jatuh terduduk. Aku bersyukur kepalaku tidak terbentur benda apapun saat terjatuh, tidak bisa membayangkan jika hal itu sampai terjadi.

Perlahan kesehatanku membaik karena mengikuti kegiatan senam sore yang diselenggarakan oleh tetangga depan rumah dengan menyediakan seorang instruktur senam. Dengan biaya Rp5.000 tiap orang tentunya tidak memberatkan para peserta senam.

Biaya semurah itu tidak sebanding dengan manfaat kesehatan yang tubuh aku rasakan. Ketika seseorang mengatakan bahwa sehat itu mahal, maka aku mengatakan bahwa sehat itu murah asalkan kita tahu bagaimana cara menjaga kesehatan.

Beristirahatlah ketika lelah, berolahragalah sesuai dengan kemampuan kita, dan makanlah apa yang sudah seharusnya di makan. Tapi ingat berlebih-lebihan itu tidaklah baik, sama seperti pikiran kita. Maka jadilah bijak terhadap situasi dan kondisi apa pun karena aku yakin bahwa kita semua sejatinya selalu berusaha mencintai diri sendiri.

***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓