Sebagai Ibu Tunggal, Kembali Mencintai Diri Sendiri itu Sungguh Penting

Endah Wijayanti28 Okt 2019, 14:15 WIB
menulis jurnal

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: Rhey Kanakava - Tasikmalaya

Ada yang bilang pergi traveling lebih membahagiakan dibandingkan menikah. Buat yang belum menikah mungkin benar adanya. Tapi buat seorang ibu tunggal setelah mengalami perceraian, tampaknya pilihan traveling itu jauh lebih menyenangkan daripada menikah. Apalagi kalau dikasih waktu buat solo traveling minimal bisa me-time barang satu dua hari tanpa rengekan dan hiruk pikuk urusan mengasuh anak. Tapi itu cuma dalam khayalan saja, realitanya tidak pernah ada ibu yang tega meninggalkan anaknya hanya karena ingin senang-senang semata. Pikirannya pasti kalau bisa bersenang-senang bersama, why not?

Boleh dibilang saya sekarang menjalani kehidupan yang saya ingin dahulu. Yup, berdua saja dengan si centil menggemaskan anak gadis kepang dua yang namanya bermakna kekuatan Tuhan. Padahal beberapa tahun sebelumnya, saya jauh dari kata mencintai diri sendiri. Prioritas utama adalah anak dan suami baik kebutuhannya, kebahagiaannya bahkan kehidupannya. Agaknya saya lupa akan impian saya mempunyai galeri one-stop shopping untuk crafter dan penggiat DIY. Lupa juga kalau wish list traveling ke berbagai tempat wisata lapuk teronggok dalam jurnal yang ada di pojokan rak berdebu. Karena hari-hari saya penuh untuk keluarga. Mikir untuk diri sendiri bergeser signifikan ke nomor sekian yang ada di urutan bawah.

Hingga di suatu kondisi terkelam, the rock bottom, saya lupa mencintai diri sendiri dan rasanya ingin mati saja. Love tank pada diri sendiri bocor tak bersisa karena saya terus menerus mengerahkannya untuk anak dan suami. Eh sekarang mantan suami, kami berpisah tiga tahun lalu. Capek dan lelah baik jiwa dan raga karena berkorban tapi tak mendapat balasan yang sesuai seperti harapan saya. Salahnya ya di situ, terlalu berharap pada manusia hingga akhirnya kekecewaan yang saya dapatkan.

 

Menulis Jurnal

manfaat menulis
Ilustrasi./Copyright pexels.com/@garry-mordor-261159

Hingga satu waktu saya sadar ini tidak boleh berlarut-larut dan saya butuh bantuan untuk memperbaiki kekurangan self-love ini. Kekhawatiran terbesar saya bahwa hal ini berpengaruh ke pola pengasuhan anak perempuan saya satu-satunya yang hanya punya satu figur orang tua, yaitu ibunya.

Dengan niat yang sangat kuat akhirnya saya ikut workshop yang diinisiasi oleh salah satu komunitas. Program ini bertujuan untuk membantu pesertanya untuk membangun kembali kehidupan setelah menjadi orang tua tunggal, menyembuhkan luka batin karena kehilangan, mencintai diri sendiri untuk kemudian membangun kembali kehidupan saat ini dan kehidupan yang diidamkan di masa depan lewat journaling dan meditasi. Beruntungnya dua kegiatan itu juga kegiatan yang saya sukai dan dengan komitmen serta konsistensi saya menjalani workshop tersebut dengan suka cita. Karena tidak akan ada orang yang bisa mengubah keadaan hidupmu, kecuali dirimu sendiri. Dan itu dimulai dari satu langkah kecil untuk bertransformasi menjadi versi yang lebih baik walaupun sedikit demi sedikit.

Awal menulis jurnal tentang self-love ini dipenuhi air mata, mengaduk emosi dan perasaan. Tidak seorang pun akan membaca jurnal itu walaupun peserta workshop ratusan orang. Bukan untuk dipublikasikan di status media sosial atau diserahkan ke coach-nya. Murni, berusaha jujur seperti kita berbicara hati ke hati tapi ke diri sendiri. Menguliti hal-hal apa yang tidak disukai dari diri sendiri dan kenapa. Mengenai penyesalan terbesar dalam hidup dan kenapa harus disesali. Apa kekurangan dalam diri yang membuat kita insecure terhadap diri sendiri. Berlanjut ke mengkritisi diri sendiri bahkan kenapa sih kok bisa kita komplain ke diri sendiri, apa tujuannya. Tentang pencapaian, harapan, cita-cita dan membuat vision board untuk menstimulasi secara visual dan afirmasi yang memberikan dorongan positif untuk impian yang ingin diraih di masa depan.

Well, hei jurnal saya agak basah sih dengan air mata. Yang biasanya artistik dengan menempelkan berbagai kertas, washi tape atau stiker lucu-lucu, ini digantikan tulisan panjang dengan berbagai warna. Alhamdulillah sih tidak luntur dan masih cukup layak untuk dibaca kalau suatu saat ingin berkontemplasi.

Semakin saya menulis apa yang diminta dalam agenda workshop, semakin pula saya mengenali diri sendiri dan merasa sayang atas segala kekurangan diri ini. Timbul juga rasa penghargaan terhadap diri, kembali menggali potensi yang rupanya terkubur berahun-tahun lamanya. Saya berhenti sejenak, belajar egois untuk memprioritaskan diri sendiri. Berhenti berjuang dan mencintai orang lain, mantan suami kala itu fokusnya. Belajar ikhlas melepaskan. Lalu belajar untuk menerima cinta, bukan dari orang lain melainkan cinta dan kasih sayang dari diri sendiri tanpa syarat apapun.

Berproses untuk Kembali Berdamai dengan Semua

Ilustrasi Menulis
Ilustrasi menulis (dok. Pixabay.comStockSnap/Putu Elmira)

Air mata pun semakin berderai ketika bermeditasi, salah satu cara emotional healing. Latihan menyadari napas, bukan semata-mata memasukan oksigen ke dalam hidung dan mengeluarkannya kembali. Sadari setiap hembusan napas, temui dan terima emosi yang datang dalam benak, kemudian ikhlaskan dan syukuri apa yang masih ada pada diri. Memeluk diri dengan tangan melingkari bahu selayaknya orang lain yang memeluk diri seraya membisikan kata, “It’s okay to be not okay! Thank you for being tough, not give up. You’ve made this far. And I love you, myself!” Seketika itu saya diingatkan rasa jatuh cinta, berbunga-bunga, melegakan dan membuat sesak di dada.

Satu hal yang sering dilupakan wanita saat sudah menikah yaitu lupa mencintai diri sendiri karena menganggap hal itu egois dan tidak layak untuk anak dan suami. Sedikit me-time di sela rutinitas juga bisa menjadi salah satu cara mencintai diri sendiri. Walaupun cuma 30 menit mojok di coffee shop dengan segelas Vietnam drip berteman buku dan musik yang menenangkan jiwa. Bahkan melakukan salah satu hobi itu juga bentuk mencintai diri sendiri.

Saya bersyukur dalam perjalanan mencintai diri sendiri ini bisa membawa dampak yang baik terhadap diri sendiri. Ketika kita jujur terhadap diri sendiri, bahagia menerima dan bersyukur atas berkat yang ada, tidak berpura-pura bahkan cenderung hidup dalam kepalsuan, maka tidak ada hal yang akan mengganggu ketenangan jiwa. Saya tidak lagi mengkhawatirkan hal-hal di luar kendali saya, melepaskan segala sesuatu yang memang tidak layak dipikirkan dan pada akhirnya saya menerima baik dan kurangnya diri sendiri. Saya tidak lagi membutuhkan validasi atau opini orang lain atas diri saya, seberapa pantas diri saya, karena saya mencintai diri secara utuh tanpa tapi. Tentunya saya bisa memilih jalan hidup yang saya inginkan tanpa banyak drama lagi.

***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓