Melepaskan Dendam, Cara Terindah untuk Mulai Mencintai Diri Sendiri

Endah Wijayanti01 Nov 2019, 11:16 WIB
melepas dendam

Fimela.com, Jakarta Masing-masing dari kita memiliki cara dan perjuangan sendiri dalam usaha untuk mencintai diri sendiri. Kita pun memiliki sudut pandang sendiri mengenai definisi dari mencintai diri sendiri sebagai proses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Seperti tulisan yang dikirim Sahabat Fimela untuk Lomba My Self-Love Matters: Berbagi Cerita untuk Mencintai Diri ini.

***

Oleh: FNA - Yogyakarta

Menyimpan Dendam Membuatku Menyadari Pentingnya Memaafkan

Menjadi pendendam membuatku tidak mencintai diriku sendiri. Dulu aku adalah korban bullying. Mereka mengatakan kalau aku jelek, gendut, berbokong semok, hitam, pendiam dan bau. Hampir setiap hari aku merasa seperti di neraka. Aku tidak mau berangkat sekolah, aku juga tidak mau keluar rumah. Hal itu membuatku menjadi seorang yang tidak percaya diri. Aku sering menyendiri dan mengurung diri. Nilai-nilai sekolahku anjlok, belum lagi orangtua terus menekanku. Orangtua tidak memahami bagaimana perasaanku waktu itu, yang mereka tahu nilaiku harus bagus.

Pernah saat nilaiku sedikit hancur, orangtua membanting tas dan membuang semua buku-buku ku. Aku sedih, sampai aku tidak tahu ke mana aku akan mengadukan semua kesedihanku. Aku menyimpan semuanya sendiri di umurku yang masih belia. Aku menganggap semua orang tidak menyukaiku.

Aku selalu berpikir apa yang mereka katakan kepadaku adalah benar. Sampai pada akhirnya aku melakukan diet ketat di bangku SMP. Badanku mengurus, tapi tidak sehat. Wajahku pucat parah, aku sulit untuk menggemukkan badan kembali. Tapi ada rasa kepuasan walaupun itu tidak benar. Aku masuk di bangku SMA, badanku ideal dan aku mempunyai banyak teman. Bahkan, aku punya pacar untuk yang pertama kalinya.

Dia adalah orang baik dan menerimaku apa adanya. Bahkan, aku juga ikut beberapa organisasi dan terpilih menjadi dancer sekolah. Banyak yang bilang dancer adalah sekumpulan cewek-cewek keren dan cantik, biasanya diidolakan banyak cowok di sekolah. Tapi, semuanya berubah ketika aku masuk dance. Teman-teman dancer mem-bullyku karena aku tidak keren, tidak modis, culun, dan tidak cantik. Hingga kasus tersebut masuk BK dan akhirnya namaku yang malah terkenal jelek. Sebelum kenaikan kelas, aku kembali kena masalah dengan teman sekelas. Hanya karena aku tidak pernah gabung dengan mereka, aku dihujat di media sosial. Aku dijauhi oleh teman dan sahabatku sendiri. Mereka semua menjauhiku, karena aku juga anak yang bodoh.

Ketika di kelas 11, aku putus dengan cinta pertamaku. Hancur sudah semuanya, aku membenci diriku sendiri. Seperti cobaan datang terus-menerus. Tapi saat itu aku dikelilingi oleh beberapa sahabat yang sangat baik.

 

Bangkit dari Keterpurukan

kesehatan
ilustrasi./Photo by Aaron Birch on Unsplash

Aku bangkit dan menjadi orang yang kuat. Ternyata di balik itu, banyak yang menyimpan rasa denganku. Belum ada satu bulan, mantanku sudah punya pacar lagi yang lebih cerdas, cantik, putih, tinggi dan pokoknya perfect. Alhasil aku kena hujatan lagi, teman-temannya mengatakan, “Naik pangkat, ya?” dan itu sangat menyakitkan. Tapi, aku tetap fokus dengan impianku dengan cobaan-cobaan itu aku memacu diriku sendiri menjadi wanita yang cerdas. Aku berhasil membalikkan keadaan, dengan menjadi cewek yang diidolakan karena aku cerdas di kelas. Aku berhasil mendapatkan peringkat tiga besar terus-menerus hingga UN dan mendapatkan penghargaan dari sekolah.

Tapi, aku masih menyimpan dendam kepada mereka semua. Aku dihantui rasa dendam walaupun aku sudah lulus SMA. Selama di perguruan tinggi, aku terus memacu diriku sendiri untuk menjadi seorang yang berhasil. Aku menjadi sangat perfeksionis dan ambisius. Aku tidak sadar bahwa aku menekan diriku sendiri, dan aku tidak sadar bahwa aku sedang merusak mentalku.

Sampai aku lulus dan bekerja, aku seperti tidak menemukan kebahagiaanku. Setiap malam aku selalu bermimpi ketika aku berada di bangku SMA. Aku selalu bertemu dengan mereka yang menyakitiku. Aku merasa ada yang tidak beres dengan diriku sendiri. Aku akhirnya melanjutkan pendidikan magister. Aku masih membawa dendam terhadap masa laluku. Aku selalu berharap ketika bertemu dengan mereka nanti, aku sudah berhasil dan sukses. Tapi ternyata itu hanya akan membunuh mentalku. Aku tertekan, aku melakukan apa yang tidak aku senangi demi menunjukkan kepada mereka bahwa aku akan sukses dan lebih bahagia dari mereka.

Aku terus menyakiti diriku sendiri dengan scrolling media sosial, melihat mereka ternyata yang lebih duluan sukses sedangkan aku merangkak tertatih-tatih. Aku sempat mereda, ketika aku mendapatkan kabar bahwa mantanku dulu telah putus dengan pacarnya, dan pacarnya memilih menikah dengan orang lain.

Bertahun-tahun lamanya mereka menjalin hubungan dan ujungnya ditinggal nikah. Aku bingung, mengapa aku harus tahu semua itu? Bahkan, ayah pihak wanita yang memberitahuku bahwa mereka berpisah. Awalnya aku lega, “Oh dia telah mendapatkan karmanya dan merasakan apa yang dulu aku rasakan dan bahkan lebih sakit." Tapi, semua berbalik. Aku iba dan kasihan kepadanya, aku ingin menghubunginya kembali tapi aku tak ingin ikut campur.

Melepaskan Dendam

kanker payudara
ilustrasi./Photo by JD Chow on Unsplash

Semenjak itu aku tidak lagi dimimpikan ketika masa-masa SMA. Aku menganggap masalahku selesai dengannya setelah mereka semua mendapatkan karmanya. Tapi hatiku malah semakin berat. Aku merasa kebahagiaan ini sebuah kepalsuan. Aku mencoba bahagia bukan untuk diriku sendiri, tapi untuk orang lain. Aku sebenarnya tak bahagia, rasanya aku ingin menghilang dari muka bumi. Aku depresi berat dan berujung menyakiti diriku sendiri. Akhirnya aku pergi ke psikolog untuk mendapatkan pencerahan. Lumayan reda, tapi masih sangat terasa sakitnya. Aku mudah badmood, aku mulai pelupa, dan intinya aku tak bahagia.

Belum lagi aku dikhianati oleh orang yang aku cintai. Dia temanku waktu SMA, dia menyukaiku dari kelas 11. Awalnya aku tak peduli, tapi akhirnya luluh juga aku kepadanya. Tapi selama tiga tahun hubungan ini tidak jelas, dia tak berani datang ke rumah. Akhirnya aku meminta kejelasan kepadanya dan dia mengatakan, “Kita sahabatan saja." Hancur rasanya, dia mengatakan masih ada perasaan kepadaku tapi kita beda aliran agama, ingin bersamaku, katanya tak sedang menjaga hati siapa pun, masih ingin mengejar impiannya, masih belum kepikiran menikah dan baru tiga bulan setelahnya dia upload video wanita di IG storynya.

Aku tak habis pikir mengapa dia harus mengatakan itu sedangkan ternyata ada hati lainnya yang dia jaga. Andaikan dia mengatakan kita beda aliran dan tak ada restu saja aku bisa mengikhlaskannya pergi. Dan tak mempermasalahkan dia dengan siapa pun nantinya, aku hanya menyayangkan alibinya yang ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Aku marah sejadi-jadinya, dia pun diam seribu bahasa. Tidak menjelaskan keadaan yang sebenarnya, tapi malah lalu menghilang.

Tapi, aku lalu ingat masa laluku. Jika aku kembali balas dendam, aku akan kembali mengulangi kesalahan yang sama. Aku pikir, walaupun dia sangat kejam seperti itu aku harus tetap memaafkan dan terus melanjutkan hidupku. Aku masih percaya dengan adanya karma. Tapi aku sudah tidak mau berpikir demikian. Sekarang aku akan fokus dengan diriku sendiri dan membenahi kehidupanku yang setelah sekian lama hancur oleh keputusanku sendiri. Aku harus mengikhlaskannya pergi. Tak ingin ada dendam lagi dengan seseorang. Dengan begitu aku akan mulai mencintai diriku sendiri.

Mengikhlaskan yang pergi dan yakin bahwa Tuhan akan menggantikannya dengan yang lebih baik di masa mendatang. Dan untuk pelajaran di masa mendatang, aku tak ingin menyimpan dendam lagi dengan seseorang. Jika aku merasa ingin marah, sebisa mungkin aku akan menyerahkan semuanya kepada Tuhan dan membiarkan Tuhan bekerja dengan cara-Nya.

***

Sudah siap untuk hadir di acara FIMELA FEST 2019? Pilih kelas inspiratifnya di sini

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓