Dari Orangtua, Kita Belajar Cara Saling Mencintai dengan Tulus

Endah Wijayanti19 Nov 2019, 14:40 WIB
kisah my forgiveness matters 2

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Claudia A. - Jakarta

“Mereka pernah jatuh, berkali-kali, hingga sulit untuk berdiri, bangkit kembali untuk berlari. Sampai harus berhenti, pernah menjauh, jenuh sampai air mata berubah menjadi keruh. Namun, mereka begitu kuat bertahan demi anak-anak mereka.”

Mereka yang aku sebut papa dan mama begitu jauh dari kata sempurna. Masih manusiawi dengan setiap celotehnya ketika aku yang ceroboh membuat salah. Membesarkan aku dan saudaraku bukan hal yang mudah. Kami bertiga begitu berlawanan, tak ada sifat yang bersamaan kecuali suka makan. Tak sekali mereka kewalahan melihat aku dan saudaraku begitu gemas saling pukul-pukulan. Namun tetap saja, mereka begitu perhatian pada anak-anaknya. Tak sekali mereka menangkapku tengah tersandar meneteskan air mata, begitu sigap datang dan bertanya, “Ada apa?” sulit untuk tidak mencintai mereka.

Kepribadian mereka yang selalu menghangatkan suasana, membuatku lebih sering melihatnya bersenda gurau dan tertawa bersama, tentu dengan menggunakan adik bungsuku sebagai bahan candaan. Tidak pernah terlewat sehari tanpa senyum di wajah merek. Namun, bukan berarti hubungan mereka tidak pernah diuji. Mereka pernah saling menjauh, mengejar berkali-kali, saling menyakiti, jatuh bangun untuk belajar tidak menghakimi, dan aku hanya bisa berdiam ketika hal itu terjadi, tanpa tahu sedalam apa luka yang mereka sembunyikan selama ini.

Sampai satu waktu, terlihat sosok mereka yang begitu rapuh dan sendu, yang mereka rasakan lebih dari apa yang kubayangkan, tidak cukup masalah dari pekerjaan, tekanan dari keluarga pun juga berdatangan. Aku yang baru beranjak dewasa mulai mengerti situasi. Ada sesuatu yang sedang terjadi. Mereka berusaha menutupinya sedemikian rupa dengan tawa dan canda yang berubah menjadi pilu dan lara saat tak ada yang memperhatikan. Tidak berselang lama, badai pasti berlalu, mereka mendapat kebahagiaannya kembali.

 

Kekuatan Cinta

kisah my forgiveness matters 5
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Aku pernah bertanya mengapa mereka begitu kuat bertahan? Jawabnya sangat sederhana, “Karena saling cinta, memang begitu, perempuan sebagai tulang rusuk, laki-laki penolongnya," begitu mantap dan tegas jawab mereka sambil bersenggolan senyum pernuh arti.

Ada saat ketika ganti aku yang mudah menyerah ini tertimpa masalah, berkali-kali aku tak tahan dengan situasi sampai ingin menyerah dan lepas diri. Aku tak mampu memenuhi ekspektasi dan mimpi mereka, bahkan jauh dari kata yang cukup untuk menyamakan perjuangan mereka. Baru saja sebentar aku berjuang menghadapi duniaku, sudah luntur dan pudar semangatku tapi tidak lagi sekarang. Ketika aku berdiri, yang kulihat bukan hanya diriku sendiri, ada mereka, sosok yang membuatku belajar setia dengan perkara kecil.

Tidak lagi ada kata menyerah karena aku punya mereka. Aku punya alasan untuk berjuang. Aku punya mimpi-mimpi yang harus kuraih, karena aku percaya tak seharipun langkahku terlepas dari doa mereka yang selalu menyertai. Sampai hari ini ketika goresan-goresan jemariku masih dianggap berarti, karena dari mereka aku belajar mencintai sesuatu dengan tulus tanpa pamrih, dari mereka yang kukenal sebagai tulang rusuk dan penolongnya.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓