Ibu Menginspirasiku jadi Sosok yang Senantiasa Berbagi

Endah Wijayanti27 Nov 2019, 08:15 WIB
Diperbarui 27 Nov 2019, 08:15 WIB
ibu jadi teladan

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: Rien - Tangerang Selatan

Ibu adalah orang yang sangat berjasa dalam hidupku. Walaupun masa mudanya tidak mudah, ibu bisa hadapi itu semua dan mandiri. Sekolahnya tidak tinggi, bahkan SMA pun tidak karena bersaudara banyak. Dari usia sekitar 16 tahun sudah harus merantau untuk bekerja di kota lain jauh dari orangtua. Tapi ibu jadi belajar banyak. Apa yang ibu alami dari masa mudanya, banyak dia ceritakan pada kami, supaya kami juga belajar dari pengalaman ibu.

Dari ibu juga aku belajar untuk tidak membeda-bedakan orang. Ibu bersikap baik terhadap semua orang bahkan sampai ke tukang sayur langganan, tukang sampah ataupun pemulung. ibu suka bikin kue dan salah satu yang aku suka sekali adalah puding jagung. Tapi biasanya hanya satu loyang untuk kami sekeluarga, enam orang.

Karena keterbatasan uang belanja, ibu tidak bisa bikin lebih dari satu loyang. Yang suka bikin aku kesal adalah, jatah kami kan tidak banyak, eh ibu suka berbagi ke tukang sayur langganannya. Saat aku protes, ibu bilang kami harus berbagi sama orang lain, karena ibu beli jagungnya sama dia, biar dia juga merasakan enaknya puding jagung ini. Waktu itu aku masih kecil, jadi agak terpaksa juga menerima penjelasan ibu. Tapi seiring waktu hal seperti ini jadi tertanam dalam diri aku dan akupun belajar untuk berbagi dengan orang lain dari keterbatasan. Kalau berbagi dari kelebihan akan lebih mudah ya, yang sulit itu kita harus berbagi dari keterbatasan kita.

 

Ibu adalah Teladanku

Anak Ibu
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Masa aku kecil belum ada gerakan go green. Tapi ibu sudah memilah-milah sampah rumah tangga kami. Jadi kalau ada kardus-kardus bekas, ataupun kaleng bekas, ibu biasanya kumpulkan tersendiri. Nanti kalau ada pemulung lewat, dipanggillah pemulungnya dan ibu berikan semua yang sudah dikumpulkan itu. Pemulungnya sudah pasti senang sekali. Sering juga ibu kasih air minum. Masa itupun belum ada air mineral kemasan. Jadi diberikan air dingin kulkas di gelas. Pemulungnya akan berkali-kali mengucapkan terima kasih ke ibu.

Ibu juga yang selalu mengingatkan aku untuk sering tersenyum kalau berjumpa dengan orang lain. Karena aku ini tampilan wajahnya sering kencang, jadi terlihat galak, hehe. Ibu bilang kalaupun cantik tapi tidak suka senyum, jadi tidak cantik juga. Tapi kalaupun kurang cantik tapi selalu tersenyum, jadi menyenangkan dilihatnya.

Walaupun sekolahnya tidak tinggi, ibu suka sekali membaca. Dan hal ini juga menular pada kami anak-anaknya. Salah satu dampak dari membaca ini adalah ibu sedari dulu selalu mencatat pengeluaran dari uang belanjanya. Itu yang ibu ajarkan ke aku. Kelihatannya sepele ya. Tapi dengan mencatat pengeluaran, kita belajar mengelola keuangan kita. Dari pencatatan itu kita bisa evaluasi, pos mana yang kita masih bisa kurangi pengeluarannya. Seberapa besar penghasilan kita kalau tidak bisa mengelolanya, akan habis tak bersisa juga. Malah bisa jadi minus.

Masih banyak hal lain yang aku belajar dari ibu. Wanita sederhana yang suka berbagi dengan orang lain. And she is my hero.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓