Melihat Peluang dan Tantangan Kemasan Plastik Daur Ulang di Tahun 2020

Meita Fajriana09 Des 2019, 19:00 WIB
[Fimela] Smpah Botol Plastik

Fimela.com, Jakarta Indonesia saat ini tengah mendorong penerapan ekonomi sirkular sebagaisalah satu wujud pendekatan pengelolaan sampah secara berkelanjutan. Untuk itu dalam Acara Plastic Reborn #BeraniMengubah pada siang hari ini (05/12) bersama Kementerian Perindustrian Rizky Aditya Wijaya, dan Public Affairs and Communications Director PT. Coca-Cola Indonesia Triyono Prijosoesilomembahas secara mendalam ekonomi sirkular dengan konsep kolaborasi melalui PRO (Packaging Recovery Organization).

Coca-Cola menyadari bahwa permasalahan sampah kemasan membutuhkan kerjasama dan dukungandari semua pihak. Berbagai program sudah dilakukan oleh Coca-Cola untuk bisa memahamipermasalahan manajemen sampah, di tahun 2017 Coca-Cola mengumumkan visi dan misi “WorldWithout Waste” sebagai komitmen dalam penyelesaikan permasalahan kemasan paska konsumi.

Di Indonesia, Coca-Cola melakukan kolaborasi serta kajian untuk mendukung program pemerintah dalammenangani sampah kemasan diantaranya dengan melalui program Plastik Reborn 1.0 dan 2.0.

“Dalam menjalankan visi World Without Waste, Coca-Cola Indonesia memiliki komitmen berkelanjutanterhadap bisnis yang dijalankan secara positif dan bertanggung jawab. Kami melihat kemasan paskakonsumsi merupakan sumber daya bernilai tinggi yang memberikan manfaat ekonomi, sosial danlingkungan bagi Indonesia pada tahun 2030,” kata Triyono Prijosoesilo Public Affairs and Communications Director Coca-Cola Indonesia.

Upaya mempercepat ekonomi sirkular diperlukan kerjasama dari berbagai pihak baik konsumen,masyarakat, pemerintah dan industri. Coca-Cola Indonesia, sebagai anggota Packaging and Recycling Association for Indonesia Sustainable Environment (PRAISE), menginisiasi Packaging Recovery Organization (PRO) untuk kolaborasi pengelolaan sampah yang berkelanjutan terutama sebagai salahsatu solusi penanganan kemasan paska konsumsi di Indonesia.

Konsep PRO adalah sebuah pendekatan yang telah berhasil dilakukan di beberapa negara, baik negaraberkembang ataupun negara maju, seperti misalnya di Meksiko, Afrika Selatan, dan Eropa. PRO telahmampu menghubungkan rantai value chain dalam ekonomi sirkular dengan lebih efektif, sehinggadapat meningkatkan tingkat pengumpulan dan pendaur ulangan kemasan paska konsumsi.

Seperti misalnya industri manufaktur akan memikirkan desain ulang kemasan agar lebih mudah untuk di daurulang serta penerapan proses produksi yang lebih ramah lingkungan, penerapan insentif pada titik-titikdalam mata rantai pengumpulan kemasan paska konsumsi untuk meningkatkan pengumpulan, mendorong penguatan iklim investasi industri daur ulang serta regulasi pemilahan dan pengelolan Classified - Confidential sampah, bahkan bukan hanya itu, konsumen juga bertanggung jawab untuk mengembalikan kemasanpaska konsumsi di tempat-tempat pemungutan sampah yang telah tersedia.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Triyono, dalam model ekonomi sirkular, plastik kemasan paska konsumsi dilihat sebagai material yang dapat digunakan berulang kali, baik melalui “closed loop” seperti dari botolmenjadi botol kembali (RPET bottles) ataupun “open loop” dari botol menjadi berbagai bentuk lainseperti pakaian, sepatu, tas dan lain-lain.

“Kami mendukung inisiatif PRO sebagai model penanganan kemasan plastik paskakonsumsi, kami melihat peluang pengembangan industri daur ulang plastik di Indonesia dinilai masihbesar, mengingat daur ulang sampah rumah tangga masih berada di level 15,22%,” kata Rizky Aditya Wijaya KASUBDIT Industri Plastik dan Karet Hilir Kementerian Perindustrian.

 

Produksi plastik daur ulang

Plastik daur ulang
Plastik daur ulang

Apabila kemasan plastik paska konsumsi dapat dikelola dengan baik dan dioptimalkan maka produksi daur ulang plastik bisa mencapai 2 juta ton per tahun dari kapasitas saat ini yaitu 1,3 juta ton. Dengandaya serap 3,36 juta pekerja dari sektor informal seperti pemulung dan pengepul, industri daur ulangmemiliki nilai tambah sebesar Rp 10,575 triliun per tahun dan dinilai mampu menggerakkanperekonomian negara sebagai salah satu jalan menuju ekonomi sirkular.

Di Indonesia, tantangan pengolahan kemasan paska konsumsi dimulai dari pengumpulan sertapemilahan/segregrasi di sampah rumah tangga. Berdasarkan indeks Perilaku KetidakpedulianLingkungan Hidup yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 yang menyebut 72 persen orangIndonesia tidak peduli akan sampah. Sementara pertumbuhan infrastruktur dan industri daur ulangtidak sepadan dengan pertumbuhan konsumsi dan pembangunan ekonomi.

 

Pelaku industri bersinergi dengan pemerintah

Plastik daur ulang
Plastik daur ulang. (Foto: Dok. Coca Cola)

Sehingga diperlukan kerjasama dari semua pemangku kepentingan, baik masyarakat, industri dan pemerintah untuk berkolaborasi dalam pengolahan kemasan plastik paska konsumsi (ESR – Extended Stakeholders Responsibility).Model PRO memberikan peluang ekonomi sirkular yang lebih baik dengan membangun dan mengoptimalkan sistem daur ulang saat ini yang artinya inklusif dari sektor informal, meningkatkan kualitas daur ulang dan mendukung partisipasi yang lebih besar.

“Sebagai industri, harapan kamipemerintah melalui regulasi dapat mendorong partisipasi aktif para pelaku persampahan di setiapdaerah untuk memulai langkah kecil mewujudkan PRO dalam konteks Indonesia agar dapat mendukungpencapaian agenda nasional terkait pengurangan dan penanganan sampah,” tutup Triyono Prijosoesilo.

#GrowFearless with Fimela

Lanjutkan Membaca ↓