Jangan Sedih saat Belum Bisa Melakukan yang Orang Lain Bisa

Endah Wijayanti09 Des 2019, 14:48 WIB
zona waktu

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: Selvy Arianti - Tangerang

Mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya bukanlah hal mudah. Aku tahu kelemahan ini semenjak menuliskan apa yang aku rasakan dan pikirkan tanpa adanya keberanian mengutarakannya dengan ucapan. Tapi ibuku adalah sosok yang memahami anak-anaknya dengan baik.

Menyiasati bagaimana caranya untuk menumpahkan segala sesuatu yang tak berani diucapkan, maka aku menulis. Kala itu masih duduk di bangku sekolah dasar. Siapa yang pernah rutin menulis buku diari? Aku termasuk anak yang memiliki buku catatan tersebut. Ada beragam cerita yang ditulis. Mengenai kekecewaan, kemarahan, kesedihan, dan tentunya ada juga kebahagiaan.

Namun, suatu hari aku mendapati ada satu kertas yang hilang. Rupanya sebuah kertas yang berisikan tentang kemarahanku kepada ibu. Cerita yang jika diingat kembali dapat memunculkan gelak tawa dan gelengan kepala. Ya, masa kecil begitu menggebu-gebu saat menginginkan sesuatu.

Ketika itu di sekolah ada mata pelajaran olahraga yang menginstruksikan para siswa untuk membawa raket. Sontak aku yang tidak begitu akrab dengan aktivitas olahraga bulu tangkis menjadi bingung. Aku pulang ke rumah dan bercerita bahwa para siswa diminta membawa raket kemudian ibu memberikan saran agar meminjam saja ke tetangga. Aku marah dan menutup pintu kamar secepat kilat.

“Kenapa harus meminjam? Apa Ibu tidak menyanyangiku? Kenapa tidak mempedulikanku?”

Dalam kertas yang hilang itu masih ada kalimat lainnya yang tak dapat aku ceritakan. Aku kecil merupakan sosok yang begitu ceroboh dalam berpikir. Ketika segala sesuatunya tidak berjalan sesuai dengan harapan maka muncul pemikiran bahwa orangtua tidak menginginkan bahkan tidak menyayanginku.

Ya, kini aku tahu maksud ibu. Meminjam saja ke tetangga karena kalau membeli khawatir tidak terpakai sebab anaknya ini tidak menunjukkan keseriusan meminta raket tersebut.

 

Belajar untuk Berpikir Jauh ke Depan

perempuan single
ilustrasi./Photo by arya reddejavu from Pexels

Ibu berkata, “Pikirkan hari esok.” Selalu aku ingat bagaimana nasihat bijak ini pertama kali ia katakan. Saat itu aku bersedih hati ketika mengetahui banyaknya temanku yang memiliki rencana untuk pergi jalan-jalan sedangkan aku tidak memiliki uang untuk bersenang-senang bersama mereka.

Tanpa mendengar sedikit pun keluhan yang terlontar, ibu menghiburku dengan mengatakan, “Kita tidak perlu berlarut-larut dalam kesedihan ketika melihat orang lain dapat melakukan sesuatu sedangkan kita tidak mampu melakukannya." Contohnya seperti pergi berlibur, menonton bioskop atau bahkan makan bersama di sebuah tempat makan mewah.

Ibu meminta aku untuk bersemangat dan ia memberi sugesti bahwa anaknya ini pasti bisa melakukan sesuatu yang bukan saja atas dasar kesenangan diri sendiri akan tetapi melakukan yang dapat bermanfaat untuk banyak orang.

Aku teringat suatu hari ibu pernah diajak untuk menonton bioskop ketika berkunjung ke tempat saudara yang jaraknya tidaklah dekat. Ibu menolak dengan baik ajakan tersebut karena sungkan jika dibayarkan dan saat itu tidak memiliki uang simpanan ketika harus membayar sendiri.

“Maaf, saya nggak ikut ya. Uang untuk beli satu tiket nonton itu bisa untuk membeli beberapa liter beras," jawabnya.

Ibuku selalu mementingkan urusan keluarga di atas urusannya sendiri. Aku sadar bahwa kami bukan keluarga yang mampu membeli dan melakukan sesuatu dengan hanya menunjuk saja. Perlu memikirkan matang-matang agar hari esok perut kami dapat terisi dengan baik. Karena jawaban itulah aku menjadi seseorang yang mempertimbangkan sampai ke akar-akar bagaimana di hari esok mengambil keputusan untuk melangkah.

Ketika dihadapkan dengan keadaan yang sulit, ibuku sudah terbiasa makan hanya dengan nasi dan sebuah kerupuk saja di masa kecilnya. Pada pagi hari sebelum berangkat ke sekolah dirinya bergegas untuk berjualan surabi di sekitar kampung. Kelak aku akan membahagiakan ibu meski tidak sebanding dengan kasih sayang juga nilai kehidupan yang telah ia berikan.

Ada beragam cerita inspiratif yang telah aku baca hingga kini. Cerita ibu dari masa kecilnya yang sudah merasakan pahit dan manisnya kehidupan menjadi yang paling melekat di hidupku karena secara tidak langsung ibu mendidik anaknya untuk menjadi pribadi yang sederhana.

Ibu, engkau adalah sosok yang inspiratif. Aku bangga terlahir dari rahimmu.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓