Ulasan Novel Dua Garis Biru

Endah Wijayanti16 Des 2019, 12:55 WIB
novel dua garis biru

Fimela.com, Jakarta Judul: Dua Garis Biru

Penulis: Lucia Priandarini dari Skenario Film Karya Gina S. Noer

Cover: PT Kharisma Star Vision

Cetakan ketiga: Oktober 2019

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Dara, gadis pintar kesayangan guru, dan Bima, murid santai yang cenderung masa bodoh, menyadari bahwa mereka bukan pasangan sempurna. Tetapi perbedaan justru membuat keduanya bahagia menciptakan dunia mereka sendiri. Dunia tidak sempurna tempat mereka bisa saling mentertawakan kebodohan dan menerbangkan mimpi.

Namun suatu waktu, kenyamanan membuat mereka melanggar batas. Satu kesalahan dengan konsekuensi besar yang baru disadari kemudian. Kesalahan yang selamanya akan mengubah hidup mereka dan orang-orang yang mereka sayangi.

Di usia 17, mereka harus memilih memperjuangkan masa depan atau kehidupan lain yang tiba-tiba hadir. Cinta sederhana saja ternyata tak cukup. Kenyataan dan harapan keluarga membuat Bima dan Dara semakin terdesak ke persimpangan, siap menjalani bersama atau melangkah pergi ke dua arah berbeda.

***

Sudah nonton film Dua Garis Biru? Bagi yang belum sempat nonton filmnya, coba deh baca novel yang ditulis Lucia Priandarini berdasarkan skenario film karya Gina S. Noer. Bagi yang sudah nonton filmnya pun, tak ada salahnya membaca novelnya karena ada pengalaman berbeda yang bisa kita dapat.

Bima dan Dara, di usianya yang masih sangat belia harus mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Sebuah kesalahan yang besar membuat kehidupan mereka tak lagi sama. Masa depan mereka pun dipertaruhkan.

Hamil muda di luar nikah, Dara menghadapi banyak dilema. Dia bingung dengan bagaimana caranya dia bisa menghadapi orangtuanya. Khawatir dengan impiannya untuk kuliah di Korea yang mungkin tak akan terwujud. Menghadapi teman-teman sekolahnya. Serta tentu saja soal bagaimana ia menyikapi hubungannya dengan Bima.

Bima yang cenderung cuek dan bersikap masa bodoh, mau tak mau harus ikut memikirkan masa depannya dan masa depan Dara. Terlepas dari usianya yang masih muda, dia akan menjadi seorang ayah. Namun, tentu saja menghadapi kenyataan dan menanggung konsekuensi yang ada tidaklah mudah.

"Sesuka apa pun, jangan biarkan cowok mengendalikan masa depan kamu."

(Dua Garis Biru, hlm. 115)

Saat kita menonton film, kita bisa langsung menikmati sebuah cerita dari tampilan visual yang ada. Saat membaca novel, kita menikmati sebuah cerita dengan menciptakan tampilan visual sendiri di dalam kepala kita. Membaca novel Dua Garis Biru ini, kita bisa mendapatkan gambaran yang lebih utuh dari karakter utamanya. Bisa lebih menyelami emosi yang ada dengan membaca deskripsi dan narasi yang dipaparkan di novel ini.

Gaya penulisan di novel ini juga sangat nyaman diikuti. Setiap deskripsi ditampilkan dengan rinci menggunakan bahasa yang begitu mudah dipahami. Yang paling berkesan adalah kita diajak untuk berempati dan menyelami perasaan Dara, Bima, hingga kedua orangtuanya lebih dalam lagi.

"Ia merasa seperti hamster gendut dalam kandang. Berputar dalam kincir, tapi tidak bergerak ke mana-mana."

(Dua Garis Biru, hlm. 142)

Dari kisah Dara dan Bima, kita akan diingatkan oleh sejumlah penting. Mulai dari pentingnya edukasi seks sejak dini hingga besarnya peran dan tanggung jawab yang dimiliki orangtua. Ada yang bilang masa remaja adalah masa yang paling indah. Namun, pada masa itu seseorang bisa rentan dan bertindak tanpa berpikir panjang.

Ada yang sedikit berbeda dari akhir cerita yang disampaikan di novel ini dari versi filmnya. Beberapa detail kecil yang tidak ada di filmnya pun bisa ditemukan di versi novelnya. Kalau penasaran, langsung saja baca sendiri ya. Sekali baca rasanya nggak mau berhenti sampai benar-benar sampai akhir cerita.

#GrowFearless with FIMELA