Bisa Membuat Ibu Bangga adalah Kebahagiaan Terbesar Seorang Anak

Endah Wijayanti22 Des 2019, 12:15 WIB
Diperbarui 22 Des 2019, 12:15 WIB
kisah my forgiveness matters 11

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: LN - Banjarnegara

Momen paling berkesan dalam hidupku, dan mungkin paling diingat sama ibu dan aku adalah ketika aku masih SMP dulu. Kala itu aku masih kelas 3 SMP. Seperti biasa, ketika pengumuman kelulusan selalu diwakilkan oleh orangtua. Saat itu, aku tidak begitu ingat tanggal berapa, yang jelas tahun 2013, ibu yang berangkat mengambil surat kelulusanku. Dan alhamdulillah, aku berhasil mendapatkan peringkat pertama di sekolahku.

Ketika pulang ke rumah, ibu dengan bahagianya menunjukkan surat kelulusanku dan memberikan sebuah piagam penghargaan dari sekolah, kalau aku berhasil mendapatkan peringkat satu. Dengan wajah yang sumringah, dan senyum ramah yang selalu tersirat dari wajahnya, ibu mengatakan kalau ia sangat senang karena bisa naik panggung dua kali.

Yang pertama, ketika aku berhasil menjadi peringkat satu di sekolah, dan yang kedua ketika nilai ujian nasional matematikaku berhasil mendapatkan nilai sempurna. "Seneng banget pas nama kamu dipanggil, Ananda Laila Majnun, putri dari Bapak Rahmat dan Ibu Halimah. Langsung pada tepuk tangan semua. Ibu naik panggung sampe dua kali lho. Ibu bangga sama kamu," kata ibuku gembira.

Dua hari setelah pengumuman kelulusan, ibu pergi ke pasar. Ketika di angkot, tiba-tiba ada seorang wanita yang hampir seumuran dengan beliau, menyapanya. “Eh, ibu dari Laila ya? Yang kemarin anaknya dapet peringkat satu? Yang naik ke panggung dua kali itu?” tanya seorang wanita tadi. “Saya Ibunya Nasyid. Temennya Laila. Katanya anaknya emang rajin dan pinter banget. Selamat ya, Bu," lanjut ibu tadi. Nasyid adalah temen sekelasku dulu, ketika masih kelas 7. Ibuku hanya bisa tersenyum dan menjawab iya dengan ramah. Dan langsung saja satu angkot itu, memberi selamat kepada ibuku. Sepulangnya dari pasar, ibu langsung menceritakan hal tadi kepadaku.

 

Semoga Masih Ada Kesempatan Lainnya

minta maaf duluan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Pernah juga, ibu dan aku berkunjung ke sebuah minimarket. Ada guru SD-ku dulu dan suaminya yang seorang kepala desa, menyapa dan mengucapkan selamat kepada kami. Ibu pun bertanya kok bisa tahu dari mana. Mereka pun menjawab, “Wah sudah pada tahu semua. Sekali lagi selamat ya." Aku dan ibu hanya bisa tersenyum ramah. Tidak hanya itu, di tukang sayur, arisan RT ataupun di musala, ibu sering mendapat ucapan selamat dari para tetangga.

Ibu selalu mengatakan, “Ini semua berkat Allah SWT. Kamu harus selalu bersyukur dan selalu rajin belajar. Ingat, jangan sombong. Jalan kamu masih panjang." Selalu Allah dan Allah terus. Ibu selalu mengatakan hal sama sampai sekarang di umurku yang hampir 23 tahun ini. Saat itu, aku merasa sangat bersyukur, karena bisa membahagiakan ibuku. Setidaknya, satu kali dalam hidupku, aku pernah membuat ibu bahagia.

Sudah hampir tiga tahun ini, aku hidup merantau dan jauh dari orangtua. Setiap hari, ibu selalu mengirimiku pesan, "Jangan lupa salat dan berdoa sama Allah. Semoga dilancarkan urusannya ya mba. Jangan lupa pintu dikunci.” Setiap hari ibu selalu mengirimi pesan yang sama. Pesan singkat tapi hangat, yang selalu membuatku merasa dekat dengan ibu, yang selalu membuatku merasa dekat dengan rumah.

Ibu, terima kasih selalu ada dalam keadaan senang maupun susah. Terima kasih karena tak pernah bosan untuk mengingatkan. Semoga ibu panjang umur supaya bisa melihat aku sukses dan bisa membahagiakan ibu kelak. I love you ibu.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓