Pola Asuh Ibu yang Keras Membentukku jadi Perempuan Kuat

Endah Wijayanti27 Des 2019, 09:45 WIB
pola asuh ibu

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: Yang Goe - Sungailiat

Menjelang Hari Ibu tahun ini banyak hal yang ingin kusampaikan kepada ibunda tercinta. Ibu yang sudah melahirkanku dan membesarku dengan sangat baik serta mendidikku dengan caranya yang keras tetapi justru membawa kebaikan padaku setelah aku beranjak dewasa. Betapa bersyukurnya diriku dilahirkan dari rahim seorang ibu yang sangat luar biasa, yang selalu menjadi pahlawan hidupku, yang mengajarkanku tentang kebaikan, wanita tangguh dan mandiri.

Sejak kecil hubunganku dengan ibu kurang akrab, dibandingkan dengan saudara perempuanku yang lain aku memang jarang berbagi cerita kepada ibu, aku lebih banyak menceritakan semua keluh kesahku pada ayah, makanya aku dijulukin anak emas ayah ketimbang anak ibu. Tetapi bukan berarti ibu tidak menyayangiku, justru sebenarnya ibu sangat menyayangiku dengan caranya yang keras, dan kelak akhirnya aku sangat berterima kasih pada ibu karena justru pola asuhnya yang keras kepadaku berhasil membuatku menjadi wanita yang berkarakter.

Aku masih ingat waktu usiaku 10 tahun, aku dibuatkan ibu baju merah rimple 7, alasan ibu ia ingin membuat baju yang spesial dihari ulang tahunku, dan betapa senangnya ibu di pesta ulangtahunku teman-temanku memuji betapa indahnya baju yang kukenakan. Senyum ibu mengembang mendengar banyak pujian tentang bajuku, dan pada akhirnya senyum mengembang itu berubah menjadi amarah ibu yang sangat kutakuti, baju rimple tujuh tersebut sobek karena tersangkut pagar halaman kantor ayahanda ketika aku belajar memanjat pagar. Betapa murkanya ibu dan alhasil aku dijewer ibu tetapi pada keesokan harinya baju merah rimple tujuh tersebut menjadi tiga karena diperbaiki dan dijahit rapi kembali oleh ibu.

”Jangan diulangi lagi ya, bila seseorang membuat sesuatu kepadamu ketahuilah bahwa semua yang ia lakukan karena cinta dan sayang padamu! Ingat itu!" kata ibuku tajam, aku hanya mampu mengiyakan karena takut dijewer lagi.

 

Kenalan Masa Kecil

ibu penguat
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/GBALLGIGGS

Kenakalan kecilku tidak berhenti pada baju rimple tujuh saja, ada lagi kejadian yang membuat ibuku marah besar padaku. Suatu hari ibu memintaku untuk mengantarkan kue donat pesanan Ibu kadir salah satu sahabat ibu yang akan mengadakan arisan ibu-ibu PT. Timah.

Aku masih ingat ibu mengingatkanku agar pesanan kue donat tersebut harus segera dikirim dan aku tidak boleh membuka bungkusannya. Aku mengiyakan tetapi amanat ibu aku lupakan karena aroma kue donat membuatku menghentikan sepeda dan kubuka bungkusan plastik. Melihat bentuk kue donat yang membulat membuatku tergiur melahap kue donat dan seketika aku lupakan pesan ibu. Setelah kenyang makan beberapa kue donat,segera kuantarkan pesanan kue donat ke Ibu Kadir, betapa kagetnya aku ketika pulang ke rumah ibu marah dan siap menjulurkan tangannya ketelingaku karena aku telah memakan kue donat pesanan Ibu Kadir. Baru kuketahui ternyata Ibu Kadir menelepon ibu bahwa kue donatnya kurang 5! Dan hari itu aku mendapat hukuman memakan kue donat sampai aku muntah!

Dan masih banyak lagi kejadian yang menggelikan membuatku sering dimarahin ibu. Terakhir adalah ketika aku ikut-ikutan teman menukarkan panci untuk sebungkus pop corn! Berawal ketika aku melihat Togar anak tetanggaku yang menukarkan barang rongsokan dan kemudian mendapatkan sebungkus popcorn besar, dan aku pun ingin mendapatkan popcorn.

Tanpa kehilangan akal aku pun mencari panci ibu di dapur dan segera kutukarkan, tetapi abang rongsokan menolak karena panci tersebut masih bagus. Terdorong karena ingin makan popcorn panci kesayangan ibu aku banting dan kuinjak-injak agar penyok dan segera kutukarkan demi sebungkus popcorn, belum habis popcorn yang kumakan ibu sudah mengejarku dengan sapu lidi dan aku pun lari tungang langgang takut digebukin dengan sapu lidi. Malamnya aku mendapat hukuman disuruh menghabisi popcorn sepanci hingga aku kapok dan sampai dewasa aku tidak menyukai popcorn lagi.

Didikan Ibu Memengaruhi Karakterku

Ibu dan Anak
Ilustrasi./copyright shutterstock

Ah ibu ketika aku mengingat momen tersebut ada tawa dan rasa haruku padamu. Kini engkau telah menua dan tanganmu yang mulai keriput dan lemah tidak berdaya lagi menjewer telingaku atau mencubit pahaku. Tahukah ibu bahwa ajaran-ajaranmu, hukuman yang engkau berikan tidak membuatku dendam justru aku jadikan petuah dan menyadari betapa engkau sangat menyayangiku dan menjagaku.

Kini engkau sudah menua, Ibu. Betapa aku sangat merindukan masa kecilku ketika engkau memarahiku dan mendongengkan kisah-kisah anak nakal dan cerita petuah-petuah bijak. Dari kisah baju rimple aku belajar menghargai pengorbanan orang lain. Dari kisah kue donat engkau mengajarkanku tentang amanah dan kejujuran. Dari panci ibu engkau mengajarkanku tentang keinginan dan usaha, dan kini aku yang menjadi penjagamu dan selalu ingin membuatmu tersenyum bahagia.

Aku sadar aku tidak akan bisa kembali ke masa kecilku tetapi kenangan indah bersamamu ibu akan membuatku selalu menyayangimu dan menjunjung tinggi petuahmu. Semoga ibuku tersayang selalu diberi kesehatan, panjang umur dan Allah memberikan kesempatan kepadaku untuk terus menjagamu dan membahagiakanmu. Melihatmu tersenyum adalah bahagiaku padamu, Ibuku sayang.

Sungailiat, 26 Januari 2019

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓