Akan Tiba Saatnya Ibu Kita akan Seperti Anak Kecil Lagi

Endah Wijayanti03 Jan 2020, 13:45 WIB
merawat ibu

Fimela.com, Jakarta Punya momen yang tak terlupakan bersama ibu? Memiliki sosok ibu yang inspiratif dan memberi berbagai pengalaman berharga dalam hidup? Seorang ibu merupakan orang yang paling berjasa dan istimewa dalam hidup kita. Kita semua pasti memiliki kisah yang tak terlupakan dan paling berkesan bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam lomba dengan tema My Moment with Mom ini.

***

Oleh: Pipiet Fitrianingsih - Jakarta

Menggambarkan sosok ibu atau mama biasa aku memanggilnya tidak akan pernah cukup dengan kata-kata saja. Dia wanita perkasa dan tangguh pada zamannya. Kebersaamaan bersamanya adalah hal yang selalu aku rindukan saat aku masih kecil, maklum saja aku dan kakakku tinggal bersama nenek sedangkan mama harus banting tulang mencari rezeki di Jakarta.

Hampir tiap Idulfitri dan liburan sekolah aku mama saling melepas rindu selayaknya anak dan ibu. Mengunjunginya ke Jakarta adalah hal yang selalu aku rindukan, bukan sekadar liburan seperti orang kebanyakan tapi membantunya dalam berdagang dan bisa bersama sama dalam sehari penuh itu yang membuat hal yang tidak bisa digantikan oleh apapun, itu berjalan sampai aku lulus SMA.

Setelah aku lulus SMA kami pun tinggal bersama di sebuah kontrakan kecil sebagai tempat kami meneduh. Mamaku berdagang nasi warteg pada sebuah meja panjang pada malam hari di kawasan Blok M dan pulangnya lebih sering menjelang pagi. Mamaku memang perkasa. Beliau menjalani bertahun-tahun bekerja di malam hari. Pasang surut pernah dia rasakan. Warung makan kecilnya pernah berjaya dan sempat mempunyai karyawan. Namun sayang ketika tempat berdagangnya sempat mengalami kebakaran mengharuskan mamaku untuk mulai dari nol lagi di tempat yang baru. Hal yang selalu mama ingatkan kepada anak-anaknya hidup tidak selalu di atas, adakalanya kita di bawah yang bisa kita lakukan terus berusaha dan berdoa.

Ketika pagi menjelang sebelum aku berangkat kerja kami bahu membahu membereskan peralatan dagangan mama. Cuma aku yang bisa menjalankan sepeda motor tugasku rutin mengantar mamaku ke pasar dan antar kakakku bekerja. Sepulang kerja pukul 17.00 mamaku masih berjibaku dengan menu masakan dan persiapan dagangannya untuk dijual malam harinya, sebisa mungkin aku ambil alih agar mamaku bisa istirahat.

Capek memang menjalani itu semua, tapi rasanya hal itu menjadi hal terindah yang pernah aku lewati bersamanya. Ketika hari Minggu tiba kami sering menghabiskan bersama untuk sekadar ngopi dan makan batagor kesukaannya. Mamaku juga sering mengajak keluar rumah untuk sekadar keliling dengan sepeda motor agar pikirannya plong katanya.

 

Mama yang Sudah Sepuh

momen ibu dan anak 2
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/chokniti

Aku tahu semua itu tidak akan terulang lagi, mengingat mamaku sekarang yang sudah sepuh. Sepuluh tahun ke belakang mamaku sudah mulai mengalami kemunduran dari semua fungsi tubuhnya, gejala dimulai dari jempol tangan yang bergetar/tremor merembet ke tangan hingga dua tahun terakhir kondisi dan tubuhnya makin menyusut.

Harinya dihabiskan hanya di tempat tidur, dan hanya bisa melihat kami anak dan cucunya itu sudah membuatnya bahagia. Belum banyak yang bisa aku lakukan untuk membahagiakan mamaku. Aku dan kakakku bergantian merawat mamaku, iya tiba saatnya mama kembali seperti anak kecil lagi, mama yang ingin disayang, dipeluk, atau sekadar didengar tentang kehebatannya dulu menaklukkan Jakarta sampai bisa menyekolahkan anak-anaknya, menghidupi ibu dan adik-adiknya sampai bangun rumah di kampung.

Aku dan kakakku bergantian merawat mamaku, memandikan, menyuapi, dan menyiapkan segala kebutuhannya. Awalnya kami tidak biasa. Butuh proses untuk menerima itu semua, memang hal yang kami lakukan tak akan bisa membayar dari apa yang sudah mama berikan kepada kami, tapi setidaknya kami bisa menjadi pelindung mamaku di saat mama membutuhkan kami. Terkadang kami sebagai anaknya memang kurang mensyukuri apa yang telah diperjuangkan mama.

Kami sebagai anak merasa capek dengan keadaan. Pernah suatu hari mamaku putus asa dengan keadaan, mama seharian tidak mau minum obatnya dia berharap Allah segera memanggilnya. Namun, semua hal tidak akan terjadi jika Allah belum menghendaki-Nya. Mamaku hanya ingin hidup dan mati bersama anak dan cucunya. Seperti keinginan kecilku dulu yang selalu ingin selalu bersama dengan mamaku. Memang sesulit apa pun kondisi hidup di saat kami bersama itu terasa ringan menjalaninya. Aku berharap dan berdoa agar Allah senantiasa memberikan yang terbaik dan mengangkat semua penyakit mamaku. Tidak ada hal terindah dalam hidup ini selain melewati hari bersama mamaku.

 

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓