Gagal Menikah Meninggalkan Lara, tapi Selalu Ada Cara untuk Kembali Bahagia

Endah Wijayanti30 Jan 2020, 12:45 WIB
memutuskan cerai

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Elena Sofi - Jakarta

Dear Diri,

Sudahi tangismu, bangkitlah masih banyak hal baik menunggu di depan pintu. Aku mengerti rasa sakit kali ini lebih dahsyat lagi dari rasa sakit sebelumnya. Aku mengerti tentang harapan yang telanjur kau gantungkan setinggi langit yang dalam sekejap mata semuanya hancur berantakan tak bersisa. Tentang pencarian yang kau anggap sudah menemukanmu, kali ini tebakanmu salah, kau harus lebih bersabar lagi. Bangkit dan temukan kebahagiaanmu.

Ketahuilah ini bukan salahmu, berhentilah terus menyalahkan diri dan menganggap ini salahmu. Cukup berpura-pura bahagia dan berusaha terlihat sempurna hanya untuk menyenangkan mata orang lain. Cukup mengesampingkan kebahagiaan diri sendiri demi untuk membahagiakan orang lain. Sudah cukup semuanya. Kau pantas bahagia.

Melepaskan dan merelakan sesuatu yang kita anggap berharga tidak akan mudah, tak apa kau bisa marah, berteriak, dan menangis sesuka hati. Tapi sampai kapan? Tolong tentukan waktunya, karena kau membuang waktu saja.

Ingat dulu saat dia katakan, “Menikahlah denganku!” Kau tersenyum lebar, jantungmu berdetak lebih cepat dan hampir meledak rasanya. Hmm, kau terlalu percaya diri! Kepalamu mengangguk tanpa ragu.

Kau terima dia. Kau yakini jawaban atas penantian panjangmu (ya, dia baik dan sangat mengagumkan memang, semua orang pun sependapat denganmu). Buatmu jarak ribuan mil tidak ada artinya, selama dua orang ini yakin tentang tujuan baik mereka adalah karena menikah adalah ibadah. Dan lagi kau kurang sabar, berita baik itu disampaikan dengan sangat lugas ke semua keluarga dan kerabat, kau gila-gilaan menyiapkan sesuatu yang kau yakini akan indah itu.

Aku Tetap Perlu Bahagia

Ilustrasi pernikahan
Ilustrasi pernikahan./Copyright unsplash.com/Gades Photography.

Untuk semua langkahmu yang terlalu cepat aku menyalahkanmu. Terlalu yakin dengan kata-katanya. Kau lupa bahwa menikah itu bukan persoalan sederhana yang bisa diselesaikan dengan logika dan materi saja. Penilaian orangtua, pendapat kerabat dan lain-lain, semua tentu mengambil bagian besar.

Dia yang teramat mencintai keluarganya mengundurkan diri hanya karena perkataan salah satu kritik dari kerabat dekatnya, sementara keluarga besarmu bersemangat menyiapkan segalanya. Dan kali ini kau tidak hanya melukai dirimu sendiri, tapi juga hati banyak orang.

Terima kasih kepada ibu dan ayah yang selalu mendukung dan menenangkan di saat-saat sulit seperti ini. Pelukan hangat ibu selalu bisa menengkanmu, dan senyuman ayah selalu bisa membangkitkan semangatmu.

Beberapa waktu terlah berlalu, satu buku lagi tentang belajar menjadi lebih baik lagi sudah sampai akhir. Kau yang masih saja duduk menepi di sudut kamar dan menangisi hal-hal yang membuat sakit hati dan terluka, bangkitlah. Sudah saatnya bersinar kembali.

Sadari betapa hidup kita adalah perjalanan panjang tentang bertumbuh, jatuh cinta, patah hati, berhasil, dan banyak lagi. Sudah saatnya berubah dan menjadi lebih baik, temukan lagi makna keberadaan kita adalah hidup ini. Jadilah versi terbaik dari dirimu sendiri, cintai dirimu, dan terus menjadi lebih baik lagi. Pada waktu yang tepat di waktu yang tepat pastinya, Tuhan akan pertemukan dengan pasangan yang pantas dan dapat membahagiakanmu.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓