Gaya Hidup Ramah Lingkungan Bisa Dimulai dari Hal Paling Sederhana

Endah Wijayanti31 Jan 2020, 13:45 WIB
gaya hidup ramah langkah

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Dewi Rahmadani Lubis - Medan

Hai Sahabat Fimela, perkenalkan namaku Dewi, aku bukan seorang aktivis lingkungan, tapi aku hanyalah orang yang turut perihatin dengan kondisi lingkungan di negaraku saat ini. Kebakaran hutan, longsor, banjir ada aja kejadiannya setiap tahun. Musibah yang diakibatkan oleh tangan-tangan manusia sendiri. Miris rasanya melihat negara ini sudah merdeka dan berkembang berpuluh-puluh tahun tapi masalah yang dihadapi masih sama saja. Aku memang tidak bisa mengubah semuanya, tapi aku sempat mikir aku bisa apa, aku bisa berikan apa buat negara ini. Apakah kalian semua tahu bahwa Indonesia merupakan penyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia setelah Tiongkok?

Ya, berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton per tahunnya. Kejadian banjir akhir-akhir ini membuat aku sadar bahwa sampah yang tak terurai besar banget bahayanya. Aku jadi tersadarkan seketika dari yang dulunya aku begitu tidak perduli soal sampah, sampai saat ini aku merasa sedih sekali. Meskipun kampanye Go Green sudah lama adanya dan terus digalakkan, menurut aku tak akan pernah terlaksana kalau dari dalam diri individunya belum ada kesadaran. Menurutku, sadar itu tidak harus dimulai ketika musibah itu harus terjadi terlebih dahulu di lingkungan kita. Dengan melihat contoh kejadian di daerah lain, seharusnya kita bisa sadar dan perduli untuk menjaga minimal lingkungan sekitar kita sendiri.

Aku memulainya dari awal tahun 2020 ini. Aku bertekad untuk mengurangi penggunaan plastik agar bisa mengurangi sampah plastik. Kemana pun aku membawa tas kain yang bisa dilipat untuk memasukkan barang belanjaan yang aku beli. Aku selalu meminta kotak berbahan kertas untuk barang belanjaanku apabila terlalu banyak dan tidak muat untuk dimasukkan di kantong tas kainku.

Pernah sewaktu aku belanja di swalayan yang sebenarnya cukup punya nama besar di berbagai kota-kota besar, mereka masih menggunakan kantongan plastik untuk memasukkan barang belanjaan yang dibeli oleh konsumen. Lalu aku menawarkan tas kainku untuk meletakkan semua barang belanjaanku, namun mereka mengatakan tidak bisa jika tidak menggunakan plastik dari mereka. Aku sempat berdebat kecil dengan mereka dengan menanyakan alasan mengapa tidak bisa menggunakan kantong sendiri. Lalu mereka mengatakan bahwa nanti aku akan terhambat untuk melewati jalur keluar dari swalayan mereka.

Aku sedikit kecewa dengan alasan mereka, mengapa sampai saat ini masih ada swalayan yang tidak perduli dengan lingkungan. Bayangkan dalam sehari berapa banyak jumlah kantong plastik yang mereka gunakan dan akan menjadi sampah, lalu dikalikan dalam sebulan dan setahun. Tidak bisa aku bayangkan plastik sebanyak itu tidak akan terurai nantinya. Tanpa berdebat lagi, aku keluar membawa belanjaanku dengan tetap menggunakan kantong plastik dari mereka, lalu sesampainya di pintu keluar, aku menaruh belanjaan tadi di tas kainku lalu memberikan plastik swalayan itu ke security untuk dikembalikan.

Lebih Peduli terhadap Lingkungan

[Bintang] Supaya Nggak Khilaf, Ini Tips Belanja Lebaran
(Ilustrasi: Pexels.com)

Ada banyak hal yang kita alami sehari-hari yang mungkin kita anggap hal tersebut sepele tapi bisa berdampak besar bagi kehidupan kita. Contoh kecil, kita membeli sabun pencuci piring sachet dengan harga seribu rupiah, lalu si pedagang memberikan sabun tersebut dengan meletakkannya ke dalam kantong plastik lagi. Dari satu jenis barang yang dibeli itu saja, sudah dua sampah plastik yang akan terbuang nantinya.

Karena itu, aku berusaha mengubah diriku dan keluargaku dalam hal penggunaan plastik. Aku mengganti sedotan plastik dengan sedotan berbahan besi agar bisa digunakan berulang-ulang dan membawanya kemanapun aku pergi. Aku membawa botol minuman sendiri seperti tumblr untuk air minum jadi bisa mengurangi penggunaan botol plastik sekaligus menghemat pengeluaran. Serta menolak penggunaan plastik kresek dan membawa tas kain sendiri kemana pun aku pergi.

Aku belum bisa sampai pada tahap mengolah sampah plastik menjadi barang layak pakai yang dapat dimanfaatkan kembali seperti yang dilakukan oleh beberapa UKM di beberapa daerah. Tapi setidaknya mulai saat ini aku akan menjadi bagian dari komunitas yang prihatin akan sampah plastik dan bersedia mengubah dari diri sendiri dan menularkan hal positif ke orang-orang di sekitarku demi kebaikan bersama di masa mendatang.

Aku juga berharap setiap perusahaan yang menggunakan kemasan berbahan plastik dapat turut bertanggung jawab terhadap sampah yang mereka hasilkan. Contohnya dengan mendaur ulang sampah plastik yang mereka gunakan untuk digunakan pada produksi berikutnya. Dengan cara tersebut, sampah plastik akan berkurang dan tidak lagi menjadi ancaman bagi manusia. Menurutku jika kita mencintai lingkungan seperti sahabat, maka lingkungan juga akan bersahabat dengan kita.

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓