Mengapa Harus Memaafkan Orang yang Telah Menyakiti Hati?

Endah Wijayanti02 Feb 2020, 18:15 WIB
memaafkan yg telah menyakiti

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Cindy Caroline - Jakarta

Saya memiliki luka yang sangat menyakitkan. Dan itu tidak bisa disembuhkan dengan apa pun. Tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Di dalam sana ada luka yang sangat besar. Saya tidak bisa tidur di malam hari. Itu membangunkan saya beberapa kali. Saya cemas.

Saya tidak memiliki kedamaian di pikiran saya sama sekali. Saya menjadi marah terlalu cepat. Menjadi tersinggung dengan sangat cepat. Berpikir hal-hal yang buruk. Saya mencoba menarik napas beberapa kali. Tapi masih terasa sakit di sekujur tubuhku. Ini menyakitkan.

Saya selalu memikirkan diri sendiri (ego). Berusaha keras untuk mengerti untuk memaafkan. Tetapi saya tidak bisa. Saya sangat lemah. Saya tidak dapat berpikir mengapa saya harus memaafkan orang lain yang menyakiti saya? Saya juga merasa kehilangan seperti tidak memiliki panutan. Apa yang harus saya lakukan? Saya terus mencari alasan mengapa saya harus memaafkan.

Mengingat Tuhan

kisah my forgiveness matters 2
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Lalu, saya ingat akan Tuhan. Bagaimana Dia mengampuni kita. Betapa besar dosa yang kita buat, tetapi masih mengampuni. Sekarang, saya pikir saya menemukan panutan saya. Saya tahu bahwa saya tidak harus menemukan alasan mengapa saya harus memaafkan orang yang menyakiti saya. Itu hanya masalah hati. Hati tidak berpikir, tapi percaya saja. Saya percaya tidak ada yang terlahir jahat. Mungkin mereka hanya melangkah ke kehidupan yang salah yang membuat mereka menjadi jahat.

Dulu saya memikirkan mengapa saya tetap hidup. Tetapi sekarang saya tahu bahwa saya hidup untuk orang lain. Saya ingin menolong orang lain karena saya dibutuhkan. Ini adalah tujuan hidup saya dan bagaimana hal itu mengubah saya.

Mulai saat ini saya memilih untuk menggunakan hati saya ketimbang pikiran saya. Ikhlas, percaya, dan jangan pikirkan!

#GrowFearless with FIMELA

Lanjutkan Membaca ↓