Maaf, Perempuan yang Tak Mau Diajak Hidup Susah Bukan Berarti Egois

Endah Wijayanti21 Feb 2020, 16:42 WIB
Diperbarui 21 Feb 2020, 16:42 WIB
hati yang pernah patah

Fimela.com, Jakarta Saat sedang dimabuk asmara, seringkali kita merasa rela melakukan apa saja demi orang yang kita cinta. Bentuk pengorbanan menjadi bentuk pembuktian cinta. Namun, ketika sudah akan menginjak ke jenjang pernikahan, pastinya kita perlu benar-benar memantapkan hati sebelum melabuhkan hati kita pada orang yang kita pilih.

Jujur saja, tak semua perempuan mau diajak hidup susah ketika menikah. Mungkin orang lain menganggap kita egois, tapi sebenarnya kita sedang mencoba realistis. Menikah bukan keputusan yang main-main. Perlu persiapan yang matang baik secara fisik, finansial, hingga mental, semua perlu dipersiapkan dengan baik. Kita tak bisa siap diajak hidup susah, sebab yang kita inginkan adalah memperjuangkan keadaan bersama menjadi lebih baik.

Masalah-Masalah Baru Memang akan Datang Silih Berganti

Ya, tentu saja setiap pernikahan tak lepas dari yang namanya konflik atau masalah. Setiap permasalahan bisa mendewasakan kita dan pasangan kita. Tapi kalau dari awal sudah merasa pesimis bakal selamanya hidup susah bersama seseorang, hm... tampaknya kita perlu membuat pilihan lain.

When in a relationship, a real man doesn't make his woman jealous of others, he makes others jealous of his woman. ― Steve Maraboli, Unapologetically You: Reflections on Life and the Human Experience

LDR
Ilustrasi/copyright pexels.com/freestocks.org

Jika Dia Sungguh Mencintaimu, Dia akan Berjuang Bersamamu

Jika dia sungguh mencintaimu, dia akan berjuang bersamamu dan bukan pasrah begitu saja mengajakmu untuk hidup susah bersamanya. Jika dia memang ingin hidup bahagia bersamamu, dia akan mengerahkan semua upaya terbaiknya untuk masa depan yang lebih indah. Masa-masa sulit memang harus dihadapi tapi bukan berarti pasrah begitu saja dengan merelakan diri hidup merana seterusnya, bukan?

There comes a time in your life when you have to choose to turn the page, write another book or simply close it. ― Shannon L. Alder

menerima kekurangan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/szefei

Menikah Perlu Persiapan Matang

Selama ini kita sudah dibesarkan dan diasuh dengan sebaik mungkin oleh kedua orangtua kita. Ayah kita selalu mengusahakan yang terbaik untuk kita. Kita sendiri pun selama ini selalu berjuang dan melakukan hal-hal yang lebih baik dalam hidup kita. Kita berusaha menjadi perempuan yang mandiri dan bertanggung jawab atas pilihan kita masing-masing. Saat menikah pun, kita pun akan berusaha sebaik mungkin menjalankan peran sebagai seorang istri dan ibu. Terus berupaya menjadi diri kita dengan versi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Menjalankan tanggung jawab baru dengan sepenuh hati.

Menikah perlu persiapan yang matang. Perlu komitmen yang kuat untuk bisa saling menguatkan dan mengusahkan kondisi lebih baik bersama-sama. Suka duka memang perlu dihadapi dan dilalui bersama. Kita dan pasangan perlu sama-sama punya komitmen kuat untuk hidup lebih baik di masa depan. Bukan pasrah begitu saja untuk hidup susah selamanya, bukankah begitu?

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓