Perceraian Jadi Solusi Terbaik untuk Menyudahi Sakitnya Dikhianati

Endah Wijayanti30 Mar 2020, 09:45 WIB
memutuskan cerai

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Sasa

Pada bulan Febuari lalu aku menerima telepon dari seorang teman yang baru saja aku kenal. Seorang influencer wanita yang rupawan dan selalu terlihat ceria. Ia mengajakku untuk menemaninya makan siang di salah satu mall yang ada di Jakarta Selatan. Saat itu aku lagi tidak sibuk, jadi kuturuti permintaannya untuk menemaninya.

Sebut saja wanita itu bernama Mawar dan aku Sasa. Saat aku dan Mawar makan dan berbincang-bincang, aku sontak bingung saat Mawar tidak sengaja mengatakan bahwa dia telah menikah. Aku pikir selama ini dia belum menikah dan hanya sebatas pacaran lalu putus. Usianya memang sudah terbilang matang untuk berumah tangga. Namun, ada beberapa penguatan yang membuatku percaya bahwa ia telah menikah. Mawar sering mengunggah foto dirinya dengan caption mengenai sakitnya sebuah hubungan di Instagram miliknya. Aku kira selama ini hanya hubungan pacaran, ternyata setelah mengetahui lontaran yang diucapkan olehnya ternyata bukan.

Aku semakin penasaran dengan apa yang terjadi dalam hidupnya, dan aku ingin juga menawarkan diri untuk menjadi pendengar yang baik atau tempat curhatnya. Beberapa saat kemudian kemudian saat kami sedang makan, kulontarkan sebuah pertanyaan spontan dari mulutku, “Mawar tadi kamu bilang kamu sudah pernah menikah? Maaf sebelumnya, memangnya kenapa bisa bercerai?”

Dengan sedikit senyuman, sebuah tanda ketegaran yang kulihat ia mulai membuka mulutnya dan bercerita padaku. “Jadi begjni, Sa. Aku menikah pada tahun 2015 dan bercerai pada tahun 2019 lalu. Selama 2 tahun menikah, semua berjalan baik dan damai-damai saja seperti sepasang suami istri biasanya. Namun berbeda saat aku dan dia ada kerjaan di Surabaya pada tahun 2018. Setelah aku pulang dari kerjaanku, dan hari ini karyawan dipulangkan tidak seperti jam biasanya. Aku pun segera pulang ke apartemen kami dan ingin segera menjumpai sang suami."

Cerita Mawar

kisah perceraian
Ilustrasi hidup setelah bercerai./Copyright unsplash.com/@sweeticecreamwedding

"Saat aku hendak masuk ke dalam apartemenku, aku heran ada suara dua orang di dalam kamar mandi. Kuketuk pintu kamar mandi tersebut terus menerus, hingga akhirnya mereka berdua keluar. Seorang wanita dengan selendang di kepalanya juga mengenakan jeans dan kaos lengan panjang hitam, keluar dari kamar mandi bersama suamiku. Aku sontak menangis dan bertanya pada wanita tersebut, 'Siapa kamu! Ngapain kamu di sini?' Wanita itu balik bertanya padaku, Sa. Dia berkata, 'Kamu siapa?'. Lalu aku menjawabnya, 'Aku istri sahnya Ivan.' Wanita itu menjawabku, 'Ivan bilang dia masih single, dia belum menikah!' Dan kemudian wanita itu keluar dari apartemen kami dengan segera, setelah mengucapkan itu.

Aku terdiam tidak tahu itu sebuah fakta apa yang kutemukan. Selama dua hari kami tidak bercengkerama. Aku sangat sedih melihat hal ini, namun dia tetap berusaha mendekatiku dan meminta maaf padaku dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Lalu kumaafkan semua yang terjadi dengan berprinsip untuk selalu mempertahankan pernikahan ini. Karena menikah adalah sebuah janji suci antara sepasang suami istri di hadapan Tuhan. Tidak perlu waktu lama untuk mengetahui kebenarannya. Aku tau Tuhan selalu menunjukkan jalan kebenaran bagi setiap orang yang percaya pada-Nya. Saat Ivan sedang mandi, tanpa sengaja ia meletakan HP-nya di atas meja dan belum terkunci. Kemudian, aku cek HP dia dan melihat segala macam isi percakapannya dengan perempuan lain.

Ternyata dia telah menggunakan aplikasi Tinder dan dengan aplikasi tersebut ia mengajak wanita untuk ketemuan, walaupun kami tidak sedang di Jakarta sekalipun. Karena aplikasi ini memudahkan kita untuk bertemu dengan stranger yang jaraknya tidak terlalu jauh dengan kita saat ini. Jadi setiap kota, mungkin saja bisa bertemu dengan stranger.

Dalam chat yang kubaca, Ivan mengatakan kalau dirinya masih single dan ingin mencari seorang teman baru. Tidak lama kemudian aku melihat notifikasi seorang wanita yang sedang janjian dengan dia hari ini di sebuah hotel. Wanita tersebut sepertinya wanita tidak benar (pelacur), itu kesimpulan yang kulihat saat melihat profil wanita tersebut dan membaca chat mereka berdua.

Karena sakit dan kecewa dan aku tipe orang yang tidak bisa marah besar hanya dapat diam dan menyembunyikan kesedihan. Lalu aku mencari cara agar dia tidak pergi ke luar rumah. Aku umpetin kunci apartemen di kepalaku dan kemudian tidur. Dia membangunkanku dan bertanya, 'Di mana kunci apartemennya?' dan aku tanya balik, 'Mau ke mana kamu?” Kebohongan kembali diucapkan dari mulutnya, 'Aku ingin menjumpai klien di kantor.' Semakin perih yang ku asa, tapi sekali lagi aku bingung harus berbuat apa-apa aku seperti tidak tahu aku sebagai siapa saat itu dan aku harus bagaimana. Aku tetap diam dan tidak memberikan kunci padanya. Dan dia juga terdiam dan tidak jadi menemui wanita itu.

Kuceritakan semua pada orangtuaku dan kakakku. Dan mereka mendukungku untuk memutuskan hubungan ini. Tapi sekali lagi aku tidak bisa melupakan perbuatan baiknya dulu padaku semasa kami SD hingga akhirnya menikah dan semua yang telah dilalui bersama. Aku bingung apa yang membuatku terus menyakiti diriku dengan hanya diam dan tidak pernah mencoba untuk menegurnya.

Tapi kali ini aku coba untuk memberitahukan keluarganya dan menceritakan pada orang tuanya semua perlakuannya agar dia bisa berubah dan berharap orang tuanya bisa mencoba untuk membantu memperbaiki hubungan anaknya secara kekeluargaan. Dan kita belajar sementara waktu untuk memisahkan diri dan merefleksikan diri masing-masing hingga keduanya kembali dengan baik, karena jujur perceraian bukan jalan terbaik yang kupikirkan sampai saat ini.

Namun ekspektasiku salah, respons orangtuanya sangat membuatku kecewa. Mereka seakan-akan menyalahkan u kalau aku menjadi istri tidak baik dan mengarang cerita buruk mengenai anaknya. Dan mereka juga setuju untuk menyudahi hubungan ini, karena anaknya juga tidak peduli jika aku mengambil keputusan semacam ini.

Akhirnya, di bulan Juni 2019 lalu aku resmi bercerai. Selama tiga bulan aku depresi, aku sangat membenci diriku karena dihadapkan oleh kenyataan pahit ini. Selama tiga bulan aku tidak keluar rumah, aku hanya tidur di kasur. Melihat depresiku ini, mamaku selalu menjagaku. Ia berjuang untuk memulihkan kembali diriku.

Saat itu aku suka teriak- teriak sendiri dan menggebuk-gebuk semua barang yang ada di dekatku. Dan aku hanya mau beranjak dari kasur jika diberi cokelat. Dan akhirnya mama membawaku ke psikolog, psikolog mengatakan bahwa aku sangat depresi dan tipe orang yang tidak bisa menerima kesedihan di luar ekspektasinya. Mamaku terus berjuang selalu agar aku sembuh dan bisa kembali menjadi diriku sendiri. Dan akhirnya usaha mama tidak sia-sia untuk membawaku ke psikolog dan ke pendeta.

Perlahan aku mulai pulih, aku mulai menerima kenyataan yang terjadi pada diriku dan mulai memaafkan segalanya. Aku mulai menjalani hariku sedikit demi sedikit dengan baik dan aku percaya bahwa aku tidak sendiri. Tuhan, keluarga, dan temanku selalu ada di hidupku. Buktinya hari ini aku bisa berdiri dan berbicara padamu, Sa dan bisa menjadi influencer seperti sekarang karena berkat dan dukungan orang terdekatku. Dan juga rancangan dan jalan Tuhan yang diberikan padaku untuk selalu kusyukuri. Karena bersyukur dan mencintai diri sendiri adalah sebuah nikmat kehidupan yang tiada tara."

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓