Situasi yang Tak Nyaman Ternyata Bisa Menghadirkan Keakraban

Endah Wijayanti26 Mei 2020, 10:45 WIB
keakraban

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Latifah Ayu Kusuma

"Mbak nggak puasa?" Adik keduaku kaget saat melihat aku makan siang. Aku pun menjawab, "Iya," karena memang sedang berhalangan. "Apa, mbak nggak puasa?" Adik pertama yang sedang fokus scrolling medsos pun ikut kaget. Kami bertiga terbahak bahagia. Teringat kisah lucu sebelum Ramadan datang.

Kala itu adik pertamaku, sebut saja Ami, berniat melakukan puasa pengganti. Di terik siang, dia minum air putih. Aku dan adik kedua (Siwi) bertanya-tanya. "Katanya puasa, Mbak?" tanya Siwi. "Nggak jadi puasa?" tanyaku. Ami hanya tersenyum. Kemudian berkata bahwa ia tak kuat menahan haus. Kami terpingkal-pingkal dibuatnya.

Begitu banyak keseruan kami selama Ramadan 2020. Mungkin, ini adalah Ramadan spesial lantaran bulan suci tahun sebelumnya kami memiliki kesibukan masing-masing. Tahun lalu, aku masih aktif kuliah hingga sore, bahkan malam. So, aku jarang berbuka puasa di rumah. Sementara Siwi memilih berbuka puasa di masjid bersama kawan-kawannya. Ami dan orang tuaku lah yang rutin berbuka puasa di rumah.

Awal Ramadan kali ini kami memulai keseruan saat sahur. Jika salah satu dari kami susah dibangunkan, dua lainnya akan mengganggu hingga bangun. Sebenarnya aku yang paling sering sulit bangun, berada di alam mimpi rasanya memang nikmat. Saat mereka mulai mengganggu tidurku, aku akan marah. Selepas makan, marahku hilang, kami kembali ceria. Sungguh romantisme saudara yang unik.

Makin Dekat dengan Adik-Adik

Cara Atasi Lemas Saat Puasa
Ilustrasi. / Sumber: iStockphoto

Menjelang siang, biasanya kami bermalas-malasan di kamar sembari memegang smartphone masing-masing. Siwi study from home (SFH), aku work from home (WFH) atau revisi skripsi, sementara Ami menonton anime kesukaannya. Keseruan selanjutnya adalah rebutan lagu kesukaan agar dimasukkan playlist. Aku suka lagu indie, Ami suka lagu anime, sementara Siwi suka lagu barat. Saling iseng mengganti playlist menjadikan ruang kamar itu selalu hidup. Keakraban pun terjadi. Terkadang, pandemi menciptakan sisi positif seperti ini.

Hampir tiap sore aku dan Siwi membuat makanan atau camilan sederhana. Aku yang notabene paling payah kalau urusan masak (di rumah), harus klik mesin pencarian untuk melihat resep. Tentu saja Ami dan Siwi menertawakan keadaan itu. Katanya, di usiaku sekarang harusnya aku sudah mahir. Namun apa daya, aku memang lebih suka membeli makanan jadi daripada harus ribet di dapur.

Sisi positif pandemi kedua nih, aku jadi senang belajar masak. Tentu dengan mentor kedua adikku. Ketika sajian kuliner buatanku dan Siwi matang, kami menyisihkan porsi masing-masing, termasuk Ami. Saat buka tiba, giliran Ami menjadi juri. Dia selalu mengomentari semua masakan kami. Ada yang kurang garam hingga dia tak mau memakannya. Lalu kasusnya iseng disebarkan kepada teman-temanku. Gelak tawa kami pun tak bisa dibendung.

Itulah kisah bahagiaku yang justru semakin dekat dengan adik-adik kala harus berada dalam situasi pandemi. Bulan Ramadan pun tetap hidup di rumah kami setiap harinya. Semoga keadaan lekas pulih. Terima kasih adik-adikku, kalian memberi warna dalam setiap perjalananku. Stay safe and be happy!

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓