Kepedulian Kita Jadi Upaya Terbaik untuk Saling Jaga di Tengah Pandemi

Endah Wijayanti31 Mei 2020, 11:15 WIB
bertahan dari body shaming

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Mia Yusnita

Seorang perempuan mengirimkan sebuah pesan minta dibantu mengantar pesanannya. Katanya dia lagi butuh untuk dikirimi beberapa macam sayuran dan daging ayam yang jumlahnya lumayan banyak sekali. Dalam hatiku banyak sekali pesanannya, mengapa percaya sekali sama diriku yang baru pertama kali membuat jasa pesan antar ini. Sayuran itu dikirim dalam 2 tahap, dikirim pagi dan sore katanya.

Pagi itu cuacanya cukup terik meski hawanya dingin, aku belanja di tempat langgananku. Ibu yang jualan bertanya, "Kok tumben belanja sayurnya banyak?" "Oh ini ada yang pesan sayur, Bu. Minta diantar," kujawab sekenanya. "Aku mau ambil ini," sambil kusodorkan catatan pesanan ke ibu sayur, "Sebagian kuambil nanti sore ya, Bu." Mengakhiri obrolan di lapak sayurnya pagi itu.

Entah kenapa pagi itu kuputuskan mengantar sendiri. Setelah semua tugas merawat anak sudah selesai. Menggunakan sepeda gunung kuantar beberapa sayuran dan daging ayam yang dipesan perempuan tadi. Tidak begitu jauh tapi karena bersepeda dan membawa beban yang lumayan berat menjadi sedikit ngos-ngosan, dan rasa dahaga karena puasa pun langsung menyapa. Dan setelah mencocokkan alamat dengan aplikasi google maps. Kutemukan alamat rumah perempuan itu.

Mencoba mencari bel rumah tak kutemukan, akhirnya berteriak sambil mengetuk pagar menjadi pilihan terakhirku. Tak lama keluar perempuan setengah baya memakai daster, tersenyum menyambut ramah diriku, "Mengantar pesanan saya ya, Mbak?" "Iya, Bu," kujawab lirih sambil tertegun. Perempuan itu menyuruhku untuk masuk ke garasi rumahnya sambil menata pesanannya, dan cerita dimulai dari sini.

Ternyata semua yang dia pesan akan dibagi-bagikan dalam rupa makanan siap santap yang sebagian akan dikirim ke masjid-masjid sebagian dia bagikan di jalan-jalan, buat abang becak, buat kaum dhuafa, orang yang pulang kantor, dan sebagian dia letakkan di pagar rumahnya untuk bisa diambil siapa pun yang memang memerlukannya selama bulan Ramadan ini. Meski tak setiap hari tapi setiap minggu pasti dia akan berbagi.

Obrolan kecil pun kami akhiri di sini, senyumnya merekah tidak berhenti. Dia titip doa untuk keluargaku supaya sehat selalu dan rezekinya lancar. Sebelum meninggalkan rumah perempuan itu, dia bilang tetap semangat, dan berterimakasih karena memutuskan tidak menyerah dengan keadaan. Aku pamit, bergegas meninggalkan rumah perempuan itu. Sepeda kukayuh pelan meninggalkan rumah perempuan itu sambil dalam hati berdoa, "Ya Tuhan, jaga baik-baik perempuan itu. Masih banyak yang membutuhkan manusia seperti beliau di masa sekarang ini."

Waktu itu pukul 04.12 saat kubaca ada notif whatsapp pesanan sayuran dan keperluan dapur untuk dikirim. Hari itu sehabis sahur kuhabiskan waktu untuk melihat timeline dan tidak tidur seperti biasanya. Setelah langit sedikit terang kuputuskan pergi ke pasar sebelum ramai sesak pembeli. Berjalan menuju penjual langganan seperti biasanya. Kali ini ada yang mengusik perhatianku. Embah yang menggelar dagangannya di pojokan, dagangannya tidak terlalu banyak hanya saja beraneka ragam. Kuputuskan untuk membeli beberapa dagangannya. Aku tak menanyakan harga sama sekali. Aku ambil yang mau kumasak untuk buka puasa hari itu. "Berapa, Mbah semuanya?" "18 ribu, Nak." Kusodorkan uang Rp20 ribu, "Kembaliannya lombok ya, Mbah."

"Mbah nggak pake masker?" tanyaku. Dan dia mulai bercerita, katanya semua orang, petugas pasar dan bagian penyuluhan menyuruhnya pakai masker tapi dia tak bisa membelinya. Jangankan membeli masker untuk naik angkot borongan ke pasar saja dia sering bingung. Habis untuk makan embah dan keluarganya. Kuputuskan membelikan beliau masker scuba yang lapak jualnya tak jauh dari lapak dagangan si embah. Kuberikan masker itu ke beliau, sambil memegangi masker yang kuberi dia mendoakan hal-hal terbaik buatku kulihat dia bahagia sudah bisa jualan dengan memakai masker. Aku tersenyum, sambil meninggalkan si embah. Besoknya kulewat lagi di lapak si mbah jualan dan kulihat beliau masih memakai masker yang kubelikan.

Menjaga Harapan Kondisi akan Segera Membaik

karakter zodiak
ilustrasi./Photo by Denniz Futalan from Pexels

Hari sudah hampir pukul 23.00 saat seorang temanku, perawat di salah satu rumah sakit rujukan COVID-19 di Surabaya, mengirimkan sebuah pesan di grup whatsap. Isinya foto, dia dan teman-temannya sedang berjaga lengkap dengan baju hazmat dan sepatu bootsnya. Tapi ada yang mengganggu dari foto itu ketika aku melihat alat pelindung kepalanya adalah tas kresek yang dia pake untuk pelindung kepala, yang bisa kita beli seribuan dapat 3 biji di pasar, nyesek lihatnya, miris.

Dia bilang, baru kali ini kerja rasanya pengap meski di ruangan ber-AC dengan pakaian pelindung serta sepatu boots yang biasa dipakai ketika lagi banjir, sudah begitu nyawa terasa begitu sepele. Dalam pesan di grup whatsapp dia berharap bisa cepat kumpul dengan keluarganya, memohon meminta dukungan dan bantuan dengan kita tetap di rumah saja dengan keluarga agar mereka juga bisa cepat berkumpul dengan keluarga mereka. "Sebentar lagi lebaran, Rek. Aku yo pengen kumpul keluarga sambil makan nastar," beberapa kalimat harapan temenku waktu itu. Mereka tidak minta dikirimi ini itu, cukup dengan dukungan perjuangan mereka dengan tidak kemana-mana, sayangi keluarga, jaga kebersihan, jaga kesehatan, minum vitamin, menjaga asupan gizi makanan, jaga jarak, patuhi peraturan pemerintah sebagai wujud sayang dan kepedulian kalian pada mereka. Mereka bertaruh nyawa untuk kita, kita bantu mereka cukup dengan tidak kemana-mana.

Ramadan ditengah pandemi COVID-19 ini memang terasa beda, dengan tahun-tahun sebelumnya di mana tiap sore kita bisa lihat jalan-jalan banyak dipenuhi penjual menjajakan dagangan, orang-orang pada ngabuburit sekalian beli takjil atau menunggu acara buka bersama, kali ini tidak demikian. Di kotaku yang biasanya setiap sore sesak mahasiswa-mahasiswi yang ngabuburit tahun ini sepi. Kampus meliburkan mahasiswanya dan kost-kostan banyak yang ditinggalkan penghuninya. Geliat ekonomi terasa lambat, kelesuan ekonomi berdampak pada penghasilan. Banyak penjual makanan mengeluhkan jualan yang menurun tahun ini. Pengusaha katering yang kena imbas karena ditiadakannya acara yang mengundang banyak massa, sekadar menghirup napas mereka para penjual dan pengusaha tetap berjualan demi dapur tetap mengebul untuk dinikmati bersama apa pun itu untuk keluarga. Ramadan di tengah pandemi adalah tantangan dan juga cobaan di tahun ini.

Kalau pandemi COVID-19 sudah selesai, aku yakin bumi akan mencatat orang-orang seperti perempuan itu dan keluarganya, para pejuang keluarga, para petugas Kesehatan sebagai garda terdepan dalam melawan pandemi ini. Mereka tanpa sedikit pun pamrih, menebar kebaikan, menebar semangat untuk tidak menyerah dengan keadaan setiap hari. Semoga energi kebaikan, kepedulian kita bisa terus menyala, supaya kita bisa saling menjaga.

Saya dan kita pasti percaya, pandemi COVID-19 sedang mengalahkan kita, tapi kebaikan berbagi, dan kepedulian yang akan memenangkan semua.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓