Belajar Mengambil Hikmah dari Musibah di Bulan Ramadan

Endah Wijayanti02 Jun 2020, 14:45 WIB
hikmah di balik musibah

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: Linda Mustika Hartiwi

Saat itu menjelang Ramadan di tahun 2017, aku menjalani operasi pembuluh kaki kananku di rumah sakit setelah musibah kecelakaan menimpaku. Rasa sakit dan tersiksa datang silih berganti menemaniku yang membuatku menjadi sedih sehingga membuatku malas untuk makan atau minum obat yang diberikan di rumah sakit. Sekian hari di pekan pertama dalam menjalani perawatan pasca operasi, keadaanku menjadi lemah.

Beruntung ada Mas Yus, suamiku, yang sabar serta telaten merawat dan tak lelah memberiku semangat untuk kesembuhanku. Hingga setelah hampir satu bulan menjalani perawatan di rumah sakit, dokter memperbolehkan aku untuk pulang dan menjalani rawat jalan dengan melakukan rutin kontrol untuk penyembuhan kakiku. Senang sekali aku mendengar hal itu. Ada setumpuk rindu di hati untuk bertemu kedua anakku. Ada sebuah keinginan untuk menjalani ibadah di bulan Ramadan bersama keluarga kecilku, seperti yang selama ini bertahun-tahun lamanya kujalani di rumah.

Sesampainya di rumah, kerinduanku kepada anak-anakku terobati dengan melihat keceriaan di wajah mereka saat melihat aku kembali ke rumah walau keadaanku yang hanya bisa terbaring di tempat tidur karena kaki kananku belum bisa digerakkan. Dengan dibantu keluargaku yang lainnya untuk merawatku karena Mas Yus harus masuk kerja lagi, aku menjalani kehidupan sehari-hari di rumah dengan lebih banyak merasakan beragam rasa di kaki kananku seperti rasa perih, panas, nyeri serta rasa-rasa lainnya. Tipis harapanku untuk dapat beraktivitas melaksanakan kesibukan di bulan Ramadan yang semakin dekat tiba waktunya dengan keterbatasan fisik yang kumiliki.

Biasanya di bulan Ramadan aku yang selalu menyiapkan serta memasak untuk keluargaku berupa menu makanan sahur serta berbuka puasa untuk kemudian kami santap bersama. Kemudian bersama-sama juga melaksanakan salat tarawih di masjid, membaca kitab suci atau melihat acara hikmah Ramadan di televisi yang dapat menambah keimanan kami.

Sampai tibalah bulan Ramadan itu namun kakiku belum sembuh dan aku harus terbaring di tempat tidur tanpa bisa beraktivitas serta masih membutuhkan pertolongan orang lain untuk melakukannya. Ada sedih di hatiku saat melihat sanak keluargaku yang menyiapkan makanan sahur dan buka puasa untuk Mas Yus dan anak-anakku. Aku juga sedih saat melihat Mas Yus dan anak-anak berangkat salat tarawih ke masjid dekat rumahku. Aku sedih tidak bisa menemani keluargaku menjalankan ibadah di bulan Ramadan karena keadaanku yang masih lemah.

Kadang terbersit di pikiranku, mengapa harus aku yang menerima kenyataan ini dan bukan orang lain? Mengapa aku belum juga diberikan kesembuhan setelah sekian bulan lamanya aku menjalani perawatan? Dan masih banyak pertanyaan lain yang timbul di benakku serta berkecamuk rasa di hatiku yang membuatku menjadi terpuruk. Namun demikian kukuatkan diriku untuk melaksanakan ibadah wajib yang harus kulakukan dengan segenap kemampuanku.

Dukungan dan Semangat dari Keluarga

Doa Ramadan
Ilustrasi/copyright shutterstock.com

Dukungan dan semangat dari keluargaku, sahabat serta kerabat perlahan membuatku menghilangkan pikiran-pikiran buruk yang selama ini sempat menghinggapiku. Hampir semua yang menjenguk dan membantu proses pemulihanku menyadarkanku untuk ikhlas serta sabar menghadapi musibah yang kualami. Lebih baik untuk banyak berdoa kepada Tuhan memohon kesembuhan dari sakit. Tak seharusnya di bulan Ramadan yang penuh berkah aku larut dalam keterpurukan yang hanya menyiksa diri sendiri. Bukankan Tuhan tidak akan memberikan ujian di atas kemampuan umat-Nya?

Aku tersadar dan pasrah namun bertekad untuk menjadi lebih baik. Aku banyak berdoa kepada Tuhan memohon ampun atas dosa-dosaku selama ini yang kurang pandai bersyukur dan sering mengeluh dengan keadaan diri. Aku berdoa memohon kesembuhan dari sakitku agar aku bisa menjalani hari-hari indah lagi bersama keluargaku. Walaupun aku tidak bisa menemani Mas Yus dan kedua anakku menjalani puasa dan ibadah lainnya di bulan Ramadan, aku banyak berdoa untuk kebaikan diriku dan juga keluargaku. Hingga akhirnya bulan Ramadan telah berlalu dengan keadaanku yang masih terbaring di tempat tidur, aku juga merasakan bahagia merayakan lebaran bersama keluarga dan kerabatku.

Kini telah tiga tahun berlalu, bulan Ramadan di tahun 2017 menyisakan kenangan tak terlupakan dalam hidupku dengan musibah kecelakaan yang menimpaku dan sampai kini membuatku masih terbatas beraktivitas dengan keterbatasan fisik yang kumiliki. Namun bulan Ramadan di tahun 2017 itu jualah yang mencambukku untuk bangkit dan belajar menjadi insan Tuhan yang sabar dengan ujian yang diberikan serta pandai bersyukur atas karunia yang dilimpahkan-Nya kepadaku. Aku juga belajar mengambil hikmah dari bulan Ramadan yang tidak hanya sekedar melaksanakan ibadah puasa dengan menahan rasa lapar dan haus atau ikut-ikutan melakukan ibadah lainnya namun lebih dari itu, banyak nilai kebaikan yang dapat dipetik untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dalam rangka meningkatkan keimanan kepada Tuhan.

Teriring doa untuk bangsa kita yang di tahun 2020 ini merasakan bulan Ramadan berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena adanya pandemi virus Corona, semoga pandemi ini segera berakhir dan kita senantiasa diberikan kekuatan dalam menghadapinya. Aamiin.

 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓