Memaksa Diri untuk Selalu Tampak Baik-Baik Saja Itu Melelahkan

Endah Wijayanti30 Jun 2020, 10:15 WIB
toxic positivity

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh:  Novia Nur Aini

Pagi itu, masih seperti pagi yang lainnya. Azan subuh masih setia untuk berkumandang. Matahari masih terbit dari ufuk timur. Sautan ayam berkokok masih berlaku sebagai pengiring datangnya pagi. Begitu pula denganku yang sudah siap dengan sebongkah kegiatan yang akan aku jalani hingga sang mentari kembali terbenam lagi.

Oke, selesai! Rapatku masih akan berlangsung dua jam lagi, waktunya menyelesaikan tugasku yang menumpuk, batinku.

Baru saja membuka lembar pertama tugas yang akan kukerjakan, tiba-tiba handphone-ku berdering dengan riuh.

“Halo, bolehkah aku minta tolong?”

Cukup dengan satu kalimat yang terlontar dari teman bicaraku di ujung telepon, telak membuatku mengesampingkan tugas pribadiku. Setelah dipikir-pikir, hal tersebut memang sering terjadi. Kata siapa membantu orang lain merupakan hal yang buruk? Tidak ada. Itu hal yang baik, sangat baik. Namun, secara tidak langsung, aku menjadi sering mengabaikan diriku sendiri, menomorsekiankan segala macam kepentingan pribadi, dan mengesampingkan hal-hal yang aku butuhkan. Jujur saja, hidupku terasa berat karena sering mengemban berbagai tanggung jawab, bahkan tanggung jawab yang terbentuk bukan dari tindakan yang kuambil. Tanpa kusadari, hidupku terus-menerus berjalan seperti itu.

“Jika kau tidak mampu, apa salahnya menolak?” Ya. Aku sering mendengar orang-orang terdekatku dan keluargaku mengatakan hal tersebut. Namun, aku bukanlah seseorang yang mudah menolak permintaan dari orang lain karena aku merasa telah mendapatkan sebuah kepercayaan lebih darinya.

Selain itu, aku memiliki prinsip untuk tidak boleh mengecewakan seseorang yang sudah memberikan kepercayaannya kepadaku. Walaupun aku tahu, sebuah kekecewaan memang terkadang perlu dirasakan untuk mengerti arti dari sebuah kehidupan. Akan tetapi, seiring dengan berjalannya waktu, aku semakin merasa bahwa banyak hal yang bertindak sebagai bentuk pembohongan dan pemaksaan terhadap diri sendiri.

Suatu ketika, saat jemari dan pandanganku sibuk menjelajah dunia maya, terdapat sebuah topik pembicaraan yang menarik perhatianku. Toxic positivity. Ya, topik ini memang sempat hangat diperbincangkan beberapa bulan lalu. Hatiku pun tergugah dengan rasa penasaran untuk membuka tiap situs yang menyuguhkan topik tersebut.

Semakin banyak membaca dan memahami isi dari setiap artikel yang kubuka, semakin aku merasa banyak hal yang relevan pada kehidupanku. Tanpa disadari, aku selalu memberikan jutaan sugesti positif yang sebenarnya secara hati nurani ku tolak mentah-mentah. Sejujurnya, aku merasa tidak mampu dan lelah. Namun, sugesti positif tersebut terus-menerus mengalir dalam darahku dan memaksaku untuk mengatakan, “Aku baik-baik saja."

Setiap hari aku selalu terbelenggu dalam keterpaksaan yang terasa menyakitkan. Namun, hebatnya aku selalu menerima tiap kesakitan yang kudapatkan bahkan dari diriku sendiri. Pada saat itu, aku menjadi pribadi yang super tertutup dan menyimpan segala macam permasalahan serta kegelisahanku dari orang lain. Namun, semakin lama aku merahasiakannya, aku merasa semakin tersiksa. Ternyata dengan berpura-pura merasa “baik-baik saja” justru membuat hidupku semakin tidak tenang. Meraung gelisah dan menangis dalam diam setiap malamnya. Aku merasa hal ini benar-benar salah untuk aku lakukan.

Berbagi Cerita

teman curhat
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Suatu hari, aku memberanikan diri untuk bercerita terkait perasaan apa yang sebenarnya aku rasakan, pola berpikir apa yang sebenarnya selalu terlintas, dan hal-hal memberatkan apa saja yang selama ini kugenggam pada beberapa orang terdekatku. Awalnya aku ragu, karena aku pikir, mereka akan menganggapku sebagai seseorang yang lemah. Namun, semuanya justru diluar ekspetasiku. Mereka memposisikan diri mereka sebagai aku dan memahami segala hal sulit yang aku alami. Mereka juga tidak pernah mengganggapku sebagai pribadi yang payah, bodoh, dan menyusahkan.

Sejak hari itu, aku memutuskan untuk memberanikan diri berbagi cerita kembali ketika aku mengalami kesulitan. Setiap tanggapan baik dan dukungan yang mengalir, perlahan mengangkat bebanku sedikit demi sedikit. Pikiran dan hatiku yang semula selalu tertutup oleh awan kelabu, perlahan menjadi lebih terang dan terasa hangat. Lambat laun, aku pun menjadi pribadi yang dapat menerima segala masalah dan menilainya dari berbagai macam sudut pandang. Kali ini, aku juga tidak lagi memaksakan untuk mengganggap masalah tersebut tiada dan mengganggap segala hal berjalan secara baik. Aku hanya percaya, Tuhan memberikan masalah tersebut kepadaku karena aku dapat menghadapi dan menyelesaikannya.

Semakin banyak usia yang kuinjak, semakin banyak pula urusan yang harus kukerjakan sendiri. Lambat laun, aku mulai terbiasa untuk memprioritaskan diri sendiri. Lambat laun, aku mulai bisa mengapresiasi sedikit demi sedikit buah penghasilan yang kupetik. Lambat laun, aku juga mulai menikmati kehidupan yang aku jalani tanpa adanya sebuah keterpaksaan. Hal itu berjalan sendiri seperti halnya air yang mengalir dari hulu ke hilir.

Tanpa disadari, aku merasa nyaman dengan hidup yang aku jalani sekarang. Bagiku, memahami diri sendiri tidak cukup dilakukan sampai saat ini. Namun, akan tetap berlanjut di hari esok, hari lusa, dan sepanjang usia. Hidup akan terasa berarti ketika diriku sendirilah yang mengambil peran untuk menghargai dan mengapresiasi hal-hal kecil yang sudah dilakukan. Mau tidak mau dan siap tidak siap, akulah yang berlaku sebagai kunci dari roda kehidupan bagi diriku sendiri.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓