Tak Mudah sebagai Anak Tengah, Rawat Ayah Sendirian Jadi Bentuk Baktiku

Endah Wijayanti11 Jul 2020, 11:15 WIB
berdamai introver

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Sekar

Aku anak tengah dari tiga bersaudara. Semua saudaraku laki-laki, menjadi anak perempuan satu-satunya di keluarga ternyata tidak menjamin jika aku akan disayang dan dimanja. Sebaliknya, semua beban seakan di pundakku. Mungkin terkesan drama, tapi itulah yang aku alami.

Kedua saudaraku sudah menikah, dengan alasan aku yang tidak bekerja sendiri maka akulah yang tinggal di rumah. Mengurus bapak yang penyakit pikunnya semakin mengkhawatirkan. Sebenarnya aku tidak masalah, apalagi sebelum ibu meninggal beliau berpesan agar aku tetap tinggal di rumah.

Hidupku dan bapak hanya mengandalkan uang pensiun bapak yang tidak seberapa, atau kadang uang kiriman dari mas dan adikku. Kiriman tidak seberapa tapi selalu diungkit oleh kedua iparku. Kadang aku berpikir untuk bekerja, tapi melihat bapak yang di rumah sendirian selalu kuurungkan niatku.

Memberikan Semua Waktu untuk Ayah

ilustrasi bunga yang bisa dimakan/pexels
ilustrasi./pexels

Usiaku tahun ini masuk kepala tiga. Pengangguran, jomlo dilangkahi adik laki-lakinya, diam di rumah dan hidup hanya mengandalkan uang dari orangtua. Jika dipikir memang mengenaskan, namun hidup bukan hanya untuk memuaskan egoku saja kan?

Sebenci apa pun aku pada mas dan adikku, mereka tetap saudaraku. Mereka yang akan menjadi waliku ketika aku menikah jika bapak tidak lagi sanggup. Lalu apa yang perlu kusesali? Tidak mengapa aku hanya menjadi anak perempuan satu-satunya yang hanya berpangku tangan dan bisanya nemplok pada hidup orang lain. Tidak apa-apa. Menelan pil pahit setiap omongan iparku yang menyakitkan padahal kami sama-sama perempuan.

Mungkin benar, hati perempuan itu harus sekuat karang. Meski terempas ombak berkali-kali, ia tetap berdiri tegar. Jika memang hari ini aku belum menemukan bahagia, setidaknya besok atau entah kapan. Tuhan selalu punya waktu yang tepat, dan tidak pernah bergeser sedetik pun.

Hari ini biarkan aku merawat bapak, wujud baktiku padanya. Meskipun dia adalah laki-laki yang kadang sering membuatku kesal akhir-akhir ini karena pikunnya yang parah, dia tetap pernah menjadi kebanggaanku dan mungkin akan selamanya.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓