Terlahir sebagai Anak Tunggal, Aku Bangga dan Bahagia dengan Keluargaku

Endah Wijayanti29 Jul 2020, 08:45 WIB
menikah dengan hati

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Natalia Desty

Hai namaku Natalia Desty, usia 28 tahun. Aku terlahir dari keluarga yang baik, orangtuaku bekerja sebagai guru. Aku anak tunggal, tetapi sekarang aku telah menikah dan baru memiliki seorang anak berusia 2 tahun. Yuk kita sharing .

Keluarga merupakan harta yang paling berharga, keluarga adalah tempat pertama seorang mendapatkan kasih sayang. Tahun 1991, lahir seorang bayi perempuan bernama Natalia Desty dari ayah dan ibu yang baik. Pekerjaan ayah ibuku adalah seorang guru. Sejak kecil aku tinggal bersama kedua orangtuaku.

Saat aku mulai bersekolah, aku selalu pulang dan pergi dengan ayah ataupun ibu. Tetapi menjelang remaja SMP dan SMA aku mulai terbiasa pergi dan pulang sendiri ataupun bersama teman-teman, hal ini membuatku belajar mandiri. Orangtuaku sangat displin, ketika aku sekolah waktuku tentu hanya untuk belajar dan saatnya bermain waktuku hanya untuk bermain. Jadwal sudah tersusun rapi, kapan saatnya aku belajar, bermain, menonton TV ataupun makan dan tidur. Tak selalu belajar dan belajar saja, aku juga berekreasi dengan orangtuaku saat kanak-kanak, terkadang pasti mengajak kakek nenek dan saudara. Saat yang tak terlupakan moment itu. Orangtuaku sangat sayang padaku, tetapi tetap jika aku bersalah pasti mereka menasihati.

Memasuki usia dewasa, tahun 2010 setelah aku lulus SMA, aku melanjutkan ke perguruan tinggi swasta di Jakarta, jurusanpun sudah dipilihkan kedua orangtuaku. Keluargaku ini memang sangat peduli dan pasti memberikan yang terbaik untuk aku dapat memasuki dunia perkuliahan. Ya tepat sekali, pada masanya aku menjadi mahasiswi, aku termasuk aktif mengikuti berbagai kegiatan ataupun UKM, ini karena support kedua orangtuaku aku menjadi berani dan tidak pemalu seperti masa remajaku. Keluargaku pun memang aktif dalam berbagai kegiatan di sekolah, gereja maupun masyarakat. Terutama ayahku. Aku bangga dengan keluargaku yang menjadi panutanku.

 

Membangun Keluarga

mengabaikan mitos dalam mempersiapkan pernikahan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Tahun 2015, di mana tahun yang sangat berat untuk aku dan ibuku, ayahku meninggal karena sakit, memang sudah beberapa tahun belakangan itu ayahku harus cuci darah. Kami amat sangat kehilangan sosok yang kubanggakan selama ini. Ayahku adalah seorang guru swasta, ketika beliau mulai pensiun, beliau tetap berkarya mengajar di beberapa tempat. Puji Tuhan, beliau masih diterima di sebuah sekolah di Jakarta (saat itu), tetapi karena mulai sakit-sakitan, sampai waktunya tiba, beliau pergi dengan tenang.

Ayah dan ibuku adalah sosok yang kubanggakan selalu, walaupun kami hanya bertiga di rumah, kami sangat dekat dengan saudara dan keluarga kami yang lain. Rumah kami berdekatan, kami saling peduli, membantu, juga menyokong kami. Saat ayahku meninggal, keluarga besarku pun turut membantu sampai pemakaman. Ayah dimakamkan di Jogja, saudara dan keluarga besar turut menemaniku dan ibuku dengan menyewa satu bus besar. Sampai di Jogja semua acara pemakaman berjalan lancar.

Hingga tahun 2017, aku menikah dengan seorang pria yang amat baik, walaupun kami kadang sedih karena ayahku sudah meninggalkan kami, hanya doa yang dapat kami berikan. Keluarga besarku menjadi panitia diacara pernikahanku, kami tidak menggunakam EO, semua sudah diatur oleh keluarga besarku dan keluarga pasanganku. Aku senang sekali, keluargaku dari luar Jakarta hadir dalam pesta pernikahan kami. Support dan kepedulian mereka sangat kami hargai.

Bangga sekali memiliki keluarga besar yang sangat peduli dan saling membantu. Sekarang aku, suami, dan, ibuku juga sudah happy karena ada seorang yang hadir kembali di rumah kami, yaitu anakku. Anakku lahir di tahun 2018, sekarang sudah berusia 2 tahun. Aku masih tetap tinggal dengan ibuku menemaninya di masa tua. Aku, ibuku, suamiku, dan anakku merupakan kebanggaanku, karena merekalah yang menjadi guru dan panutan yang baik untuk aku hingga sekarang. 

Cek Video di Bawah Ini

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓