Memutus Rantai Sandwich Generation, Ciptakan Keluarga yang Lebih Bahagia

Endah Wijayanti01 Agu 2020, 09:15 WIB
persewaan buku ayah

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: C

Terlahir dalam sebuah keluarga di mana keluarga besar Ayah selalu menjadi parasit bagi keluarga inti saya mengajarkan saya banyak hal. Belakangan saya tahu bahwa itu yang dinamakan generasi sandwich.

Ini cerita tentang Ayah saya. Seorang anak bungsu dari tujuh bersaudara yang merantau ke Jakarta dan terhitung cukup berhasil dibandingkan saudara-saudaranya yang lain. Saking dianggap berhasilnya sampai-sampai Ayah saya dijadikan mesin ATM oleh seluruh keluarganya. Bayangkan, semua kakak Ayah selalu meneleponnya untuk meminta sumbangan dana. Macam-macam pula alasan mereka meminta uang. Baik untuk modal bisnis yang tidak pernah dimulai, untuk biaya hidup sehari-hari yang ternyata dipakai untuk foya-foya, untuk biaya pernikahan kakaknya kedua kali, biaya pernikahan keponakannya, sampai biaya hidup orangtuanya padahal orangtuanya tinggal bersama dua kakaknya yang lain yang juga telah berkeluarga. Oh ya tentu saja apabila orangtua Ayah sakit, semua biaya harus dibayarkan oleh Ayah saya seakan-akan anak orangtua Ayah hanyalah satu orang semata yaitu Ayah.

Bukan cuma itu. Lucu bagaimana semua kakak Ayah saya bersatu menghasut orangtua mereka untuk menjual satu per satu harta orangtua mereka yang tidak seberapa, termasuk rumah tinggal mereka supaya hasil penjualannya dibagi-bagi untuk enam orang anak. Kenapa enam? Tentu saja karena Ayah saya tidak mendapat bagian. 

Bertahun-tahun menghidupi semua parasit itu sehingga Ayah saya merasa menjadi pahlawan dan membuat egonya melambung tinggi. Entah sudah berapa ratus juga terhambur untuk membiayai kehidupan mereka yang "sok kaya" padahal hidup kami di Jakarta tidaklah mewah, bahkan jauh dari mentereng! Hal yang membedakan kami dibanding mereka hanyalah tekun bekerja dan menabung. Sesederhana itu.

Tapi yang menjadi ironis adalah ketika usaha Ayah merosot, Ayah tetap memaksakan diri mengirimkan uang ke keluarga besarnya dan mengabaikan keperluan keluarga kami sendiri. Ayah lupa bahwa Ayah memiliki 3 orang anak dan anak bungsunya masih memerlukan dana besar untuk menyelesaikan kuliahnya.

Tak Ingin Menciptakan Sandwich Generation yang Baru

ibu tunggal tiga anak
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/ANURAK+PONGPATIMET

Memiliki Ibu yang sabar dan gemar menabung benar-benar menjadi satu-satunya hal yang bisa menjaga perekonomian keluarga kami karena Ayah adalah satu-satunya pencari nafkah di keluarga. Berkebalikan dari keluarga besar Ayah yang boros, kami  selalu diajarkan Ibu tentang pentingnya berhemat dan membelanjakan uang dengan bijak. Sedari kecil pula saya sudah terbiasa berjualan ini itu tanpa pernah malu dan hal tersebut berlanjut hingga dewasa sehingga bisa memiliki uang jajan sendiri. Kakak saya bahkan bekerja hingga jauh malam demi menjadi asisten dosen ketika kuliah, sementara saya berjuang keras tiap semester untuk mendapatkan beasiswa penuh agar meringankan pengeluaran keluarga. 

Tahun-tahun berlalu. Puji Tuhan Kakak dan Saya segera mendapat pekerjaan setelah lulus kuliah sehingga dapat sedikit banyak membantu perekonomian keluarga inti kami, terutama biaya kuliah adik bungsu kami. Tentu saja kami tidak rela jerih payah kami bekerja habis untuk membiayai kehidupan keluarga besar Ayah yang pemalas dan tidak tahu diri itu.

Berbekal pengalaman memiliki keluarga besar yang matrealistis membentuk karakter dan pemikiran saya menjadi sekarang. Hal-hal sederhananya adalah tidak pernah mau menjalin hubungan dengan pria yang memiliki banyak saudara atau malas bekerja. Dalam hubungan percintaan pun, saya sangat pemilih terhadap bibit bebet bobot calon agar kejadian yang sama tidak terulang kembali. Saya pun bernazar tidak akan mau hidup seperti Ayah saya yang menghancurkan keluarga intinya sendiri demi keluarga besar dan ego pribadinya.

Syukurlah, sekarang saya telah menikah dan dikaruniai satu orang anak. Agar dapat memutus sandwich generation ini, saya dan suami sepakat menabung dan berinvestasi di berbagai instrumen untuk berbagai keperluan anak kami di kemudian hari. Tak lupa kami juga menyiapkan dana pensiun untuk kami mandiri agar tidak menyusahkan anak kami kelak. 

Tangerang, 30 Juli 2020

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓