Bagi Pria Ini, Jalani Hidup dengan Kanker Lebih Mudah Dibandingkan Menghadapi Pandemi

Annissa Wulan18 Sep 2020, 16:00 WIB
Diperbarui 18 Sep 2020, 16:00 WIB
Ilustrasi koma

Fimela.com, Jakarta Kurt Nemes didiagnosis mengidap kanker pankreas stadium 2, tahun lalu. Semua orang, termasuk keluarga dan temannya mengirim pesan cinta, dukungan, dan doa, hal-hal yang memang dibutuhkan oleh Kurt.

Kurt pernah terpikir akan Steve Jobs dan Patrick Swayze yang meninggal karena penyakit kanker di usia 50-an. Dengan tingkat kelangsungan hidup yang sangat suram, kira-kira hanya 20 orang yang akan hidup 5 tahun setelah didiagnosis.

Pada usia ke 63 tahun dan baru saja pensiun, Kurt bercita-cita ingin melakukan perjalanan dan menghabiskan waktu berkualitas bersama sang istri dan putrinya yang telah dewasa. Ia sempat takut bahwa mimpi-mimpi tersebut tidak akan pernah terwujud.

Setelah 1 tahun mengalami masalah perut, CT scan menunjukkan adanya massa yang terbukti ganas dari biopsi. Selama 1 bulan berikutnya, Kurt melakukan kunjungan harian dengan spesialis untuk melakukan pengambilan darah, pemeriksaan, vaksin, dan operasi.

Dokternya telah mengangkat setengah dari pankreas Kurt, limpa, dan kelenjar getah bening. Sang istri menunggu operasi pengangkatan kanker Kurt yang berlangsung selama 5 jam bersama dengan 5 sahabat Kurt.

 

 

Perjalanan Kurt dengan kanker hingga operasi pengangkatan

Ilustrasi koma
Ilustrasi koma. Sumber foto: unsplash.com/Daan Stevens.

Tidak ada obat yang bisa menyembuhkan kanker pankreas, namun dokter menyarankan Kurt untuk menjalani 6 bulan kemoterapi. Setiap 2 minggu, Kurt akan duduk selama 6 jam untuk menjalani kemoterapi.

Kemoterapi membuat Kurt mual, sembelit, dan kram. Untuk meredakannya dan meningkatkan peluang hidup Kurt, dokter menegaskan bahwa ia harus minum air terus menerus dan rajin berolahraga.

Kurt berenang, bersepeda, angkat beban, dan mengikuti kelas yoga. Ia bahkan berlatih tai chi dan meditasi di lingkungan sekitar rumahnya.

Selain itu, kurt juga memiliki janji temu mingguan dengan ahli akupuntur dan psikiater. Pada 11 Maret lalu, Kurt menjalani CT scan pertama setelah kemoterapi, yang menunjukkan dirinya bebas dari kanker.

Dalam kunjungan yang sama, ahli onkologinya memperingatkan Kurt tentang pandemi COVID-19. Tanpa limpa yang membuat sel darah putih untuk melawan infeksi, sistem kekebalan tubuhnya akan secara permanen terganggu dan mengisolasi diri adalah hal terbaik bagi Kurt.

Bagi Kurt, hidup dengan kanker lebih mudah dibandingkan menghadapi pandemi

Ilustrasi koma
Ilustrasi koma. Sumber foto: unsplash.com/Marcelo Leal.

Saat itu, Kurt berpikir bahwa mengisolasi diri dan menjaga jarak sosial akan jauh lebih mudah dibandingkan dengan mengidap kanker. Melihat keseharian di daerahnya dengan mayoritas orang-orang mengenakan masker, membuat Kurt menjadi merasa lebih aman.

Sampai ketika Washington D.C mulai dibuka kembali, semua orang menafsirkan penurunan tingkat infeksi dan kematian sebagai tanda bahwa pandemi telah berakhir dan mereka bisa kembali menjalani kehidupan normal. Inilah saat Kurt menyadari bahwa hidup dengan penyakit kanker lebih mudah dibandingkan harus menghadapi pandemi COVID-19.

Pandemi COVID-19 tidak memiliki arahan yang jelas, pencegahan yang ditawarkan hanya mencuci tangan dan memakai masker. Bagi Kurt, dengan kanker dan pandemi COVID-19 berarti dirinya harus melipatgandakan kewaspadaan.

Sang istri sempat pergi ke dokter gigi, di mana dokter gigi yang menanganinya dinyatakan positif terinfeksi COVID-19 hanya beberapa hari setelah kunjungannya. Bagi Kurt, hal ini menyakitkan di mana ia tahu bahwa para ilmuwan telah mengembangkan buku pedoman pandemi sejak tahun 1918, namun pemerintah seakan memberi tanggapan yang tidak seharusnya.

Saat ini, Kurt hanya bisa mengirim cinta dan doa bagi siapa saja yang telah kehilangan orang tercinta karena pandemi ini. Bagaimana menurutmu, Sahabat FIMELA?

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓