Pernikahan Sesama Jenis Ini Disaksikan oleh 10 Ribu Orang di Tengah Pandemi

Annissa Wulan28 Sep 2020, 20:00 WIB
Diperbarui 28 Sep 2020, 20:00 WIB
Ilustrasi LGBT

Fimela.com, Jakarta Chaya Milchtein telah menjalin hubungan dengan Morgan selama 3,5 tahun dan akhirnya memutuskan untuk melakukan pernikahan sesama jenis. Pada bulan Agustus 2019, Morgan membawa Chaya ke Danau Michigan dan melamarnya.

Tidak ada keluarga dari kedua belah pihak yang menghadiri acara pernikahan tersebut. Orangtua Morgan tidak pernah mendukung hubungan anak perempuan mereka dengan sesama jenis.

Sehingga ketika Morgan memberitahu keluarganya tentang rencana pernikahan sesama jenis yang akan dilakukannya dengan Chaya, tidak ada diskusi, tidak ada pertimbangan dari keluarganya untuk menghadiri acara tersebut. Sedangkan bagi Chaya sebagai anak tertua dari 15 bersaudara, ia telah melihat berbagai upacara pernikahan dalam tradisi keluarganya.

Ketika Chaya berusia 15 tahun, ia duduk di hadapan ayahnya di sebuah ruangan kantor yang sempit dan mengatakan bahwa dirinya siap untuk menikah. Dalam tradisi keluarganya, emenikah muda adalah penyimpangan.

Sejak saat itu, Chaya mengetahui bahwa ketertarikan seksualnya tidak hanya pada pria. Namun, ia melakukan penyangkalan dengan berpikir bahwa perasaannya terhadap sesama perempuan tidak lebih dari masalah seks saja dan bisa diabaikan, tidak berpikir ia akan melakukan pernikahan sesama jenis suatu saat nanti.

Chaya mengalami penganiayaan seumur hidupnya

Ilustrasi LGBT
Ilustrasi LGBT. Sumber foto: unsplash.com/Sharon McCutcheon.

Ketika Chaya mengaku telah siap menikah, orangtuanya mengatur siapa saja pelamar yang dianggap memenuhi syarat. Chaya tidak diperbolehkan untuk bertemu calon suaminya, ia hanya diizinkan untuk mempertimbangkan siapa saja yang dianggap cocok untuk menjadi pendamping hidupnya.

Di saat yang sama, keluarga Chaya menemukan kekurangan yang selama ini tidak terlihat, yaitu berat badan perempuan itu. Chaya terlalu gemuk, di mana itu menjadi beban pada resume kencannya.

Keluarganya mulai menuntut Chaya untuk menurunkan berat badan. Namun, sebelum sang ayah menemukan calon pasangan yang tepat, Chaya telah mengalami penganiayaan seumur hidupnya, termasuk 3 tulang punggungnya yang telah patah.

Chaya diambil dari keluarganya dan ditempatkan di panti asuhan. Di sanalah untuk pertama kalinya ada seorang perempuan yang mengaku suka pada Chaya.

Saat Morgan melamarnya, Chaya sudah tidak memiliki impian apapun tentang sebuah acara pernikahan. Sebelum akhir tahun 2019, Chaya dan Morgan memutuskan untuk memilih salah satu dari 2 skenario pernikahan.

Acara pernikahan sesama jenis yang dilakukan Chaya dan Morgan

Ilustrasi LGBT
Ilustrasi LGBT. Sumber foto: unsplash.com/Yoav Hornung.

Perayaan kecil dengan 30 orang tamu di sebuah taman atau halaman belakang atau menikah di New York City dengan upacara yang aneh. Lalu, datanglah pandemi.

Chaya kehilangan pekerjaannya dan memutuskan untuk menjadikan bisnis paruh waktunya sebagai kariernya yang baru. Di bulan Juli, Chaya dan Morgan memutuskan untuk menikah di Indianapolis, beberapa jam berkendara dari rumah mereka di Milwaukee.

Mudah untuk mendapatkan surat nikah di sana, sebagian proses dapat dilakukan secara online dan tidak ada masa tunggu. Chaya mempersiapkan acara pernikahannya dengan detail dan walaupun tidak ada tamu yang datang secara langsung, mereka mengirimkan undangan digital untuk bisa menyaksikan melalui RSVP.

Saat upacara telah berlangsung, ada lebih dari 10.000 orang bergabung melalui streaming langsung di Facebook, untuk ikut merayakan pernikahan Chaya dan Morgan. Chaya merasa tidak perlu menjadi Kim Kardashian untuk bisa mempertemukan banyak orang di seluruh dunia dengan penuh kegembiraan dan kedamaian.

Pernikahan sesama jenisnya dengan Morgan adalah mimpi yang menjadi kenyataan bagi Chaya. Bagaimana menurutmu?

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓