Menjadi Ibu, Merintis Usaha Busana, dan Studi S2, Kujalani Semua dengan Keteguhan Hati

Endah Wijayanti14 Okt 2020, 11:27 WIB
Diperbarui 14 Okt 2020, 11:27 WIB
persewaan buku ayah

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh:  Aulia Hamidah Fauzia

Batas cita adalah langit. Selagi punya usia, kesehatan dan tekad, kita dapat menjadi apa pun yang kita mau. Terlahir menjadi perempuan adalah anugerah terbesar dalam hidupku.

Semua wanita berhak bekerja dan berhak memilih menjadi lady boss dalam dimensinya, dan dalam versinya masing-masing. Bahkan, ketika ia memilih  menjadi ibu rumah tangga, ia sebetulnya adalah lady boss yang tak dibayar dengan rupiah, tetapi dengan value lain yang lebih besar, yakni keluarga yang utuh dan anak-anak yang tumbuh dengan baik berkat berkah tangannya mengatur rumah tangga dengan baik, karena ibu rumah tangga adalah karier sepanjang hayat bagi seorang perempuan, bukankah itu amat mulia?

Tapi, aku memilih menjadi lady boss secara rangkap, meskipun saat itu aku menikah di usia muda, saat teman seusiaku bermain, aku harus menjalani multiperan. Aku percaya bahwa pernikahan tidak akan membatasi karier seorang perempuan, selagi kita percaya mampu menaklukkan segala ketakutan dan kegelisahan dalam diri terkait berbagai kecemasan di masa depan, karena tugas kita sebagai manusia hanya menjalani peran sebaik mungkin. Ini kisahku merintis menjadi mompreneur yang bercita-cita juga menjadi seorang dosen.

Saat itu aku sempat berdebat dengan orangtuaku karena mereka berharap aku melanjutkan studi di bidang Fashion Design, berharap anaknya nanti mampu mengelola usaha butik karena mereka sangsi kalau anaknya yang lulusan SMK Tata Busana ini bila memilih jalan lain masuk ke jurusan hukum, tidak akan mampu mengimbangi pelajaran dengan baik. Tetapi, aku memilih untuk melanjutkan studi di bidang hukum. Aku percaya apa yang kita kerjakan dan kita cintai, seberat apa pun rintangannya, itu akan terasa ringan dan kita tidak akan merasa terbebani.

Belum reda karena  rasa kecewa mereka padaku, aku meminta izin kepada orangtuaku untuk menikah di usia muda. Awalnya mereka merasa ragu, karena khawatir studiku nanti akan terbengkalai. Tapi, aku telah memilih jalanku, aku pasti akan bertanggungjawab atas apa yang aku yakini, seperti sebuah pemeo “esa hilang, dua terbilang." Aku akan terus berusaha hingga semua cita-citaku tercapai.

 

Menjadi Mahasiswi dan Seorang Ibu

menjadi lady boss
Menjadi lady boss./Copyright Aulia Hamidah Fauzia

Tahun 2013 ketika aku menjalani hidup sebagai mahasiswa jurusan hukum, aku menjalani peran sebagai seorang istri dan mahasiswa yang menyambi berwirausaha di bidang fashion, serta intens mengikuti kegiatan kepenulisan, baik itu fiksi ataupun ilmiah. Aku menerima pesanan jahitan ataupun sekadar mendesain busana bagi kerabat, rekan, atau kolega kampus. Saat itu aku memiliki ciri khas dalam usaha fashionku, yakni detail busana yang sederhana dengan siluet simpel dan berkonsep formal dengan nuansa sentuhan bahan-bahan batik tradisional setiap daerah.

Di sela menjalani rutinitas kampus, aku selalu menyempatkan diri menulis artikel ilmiah dan tetap mengikuti beberapa lomba yang terkait dengan jurusanku, seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah Hukum ataupun Debat Hukum dan aku bersyukur, mampu menjadi salah satu juara di tingkat kampus maupun provinsi meskipun di awal mengikuti berbagai macam lomba, beberapa kali aku sempat kalah. Tak mengapa, karena ketika kita kalah, itu adalah cara Tuhan memberitahu kita untuk berproses menjadi lebih baik lagi, agar kita mau lebih keras lagi belajar, berusaha dan berdoa untuk dapat menjadi sosok yang terbaik.

Mei 2013, aku mengikuti kompetisi audisi Youth StartUp Icon untuk pemilihan duta bisnis muda oleh Marketeers, setelah melalui tahap awal audisi, aku masuk sebagai salah satu finalis kota Bandung yang saat itu dengan usaha “Erilia Boutique” yang mengusung busana formal dan busana pengantin dengan sentuhan nuansa batik lokal, akan tetapi saat itu hanya dipilih satu perwakilan dari Bandung, yang menang dan mewakili adalah Kripik Ma Icih. Meskipun tidak menjadi juara, aku tidak kecewa, karena aku mendapat ilmu banyak dari proses pembinaan para pakar bisnis dan dewan juri, jaringan bisnis, serta pengalaman berharga sharing dengan wirausahawan muda yang mandiri di berbagai daerah di Jawa Barat saat itu.

Saat mengikuti berbagai lomba, dan kuliah serta menjalani bisnis busana, saat itu aku sedang mengandung 5 bulan. Meskipun sedang berbadan dua, tidak menyurutkanku menjalani hobi dan kuliah sebaik mungkin. Ketika anakku lahir, aku harus berusaha lebih keras mensinergikan lagi antara peran sebagai ibu serta mengejar cita-cita akademik sebaik mungkin.

Setiap harinya meskipun ada drama repotnya mengurus bayi dan tugas kampus serta pesanan busana, aku selalu berusaha berpikir positif dan cukup istirahat. Karena badan yang sehat dan hati yang gembira adalah cara terbaik menjaga stabilitas mental dan produktivitas seorang perempuan agar mampu menghasilkan karya terbaiknya.

Hingga suatu momen sangat berharga, yakni saat kelulusan kuliah strata satuku usai, tahun 2017 aku terpilih menjadi lulusan terbaik, dan saat itu aku semakin memantapkan niat dan memantaskan diri untuk melanjutkan studi strata dua karena mengejar cita-citaku yang kelak ingin menjadi dosen di Fakultas Hukum.

Melanjutkan S2

glass ceiling
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com

Hingga akhirnya aku mampu lolos ke salah satu universitas negeri di kota Bandung dengan jurusan Magister Hukum Bisnis. Kelak, selain aku mampu mentransfer ilmu hukum, aku berharap mampu menjadi pemicu bagi muridku kelak agar tidak terpaku menjadi pekerja, agar kelak mereka mampu percaya diri meskipun kelak takdir menjadikan mereka sebagai entrepreneur serta  berharap mampu menjadi role model bagi anakku dan semua muridku dalam banyak aspek yang positif berdasarkan pengalaman-pengalamku sewaktu kuliah.

Karena menjadi dosen itu tidak mudah, kita harus serius di bidang yang linier, dan mampu menjalani tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni Pendidikan dan Pengajaran, Penelitian dan Pengembangan serta Pengabdian Kepada Masyarakat, aku mulai berusaha lebih keras lagi belajar di bangku S2, meskipun tidak mudah menjalani hari-hari sebagai mahasiswa magister, tapi aku memegang prinsip, “Meskipun IPK tidak sempurna 4.00, aku harus selalu jujur dan paham konsep ilmu serta bermanfaat bagi banyak orang."

Perlu kita ketahui, seorang pbisnis dunia pernah berkata, “Aku hanya butuh manusia jujur, karena manusia pintar amat banyak." Dia berkata bahwa dia akan memilih karyawan yang jujur meskipun kurang pintar, daripada karyawan yang amat pintar dengan attitude yang buruk.

Karena manusia  kurang pintar itu mudah untuk dibentuk dan dididik, berbeda dengan behavior seseorang tidak dapat dibentuk secara instan. Ia adalah aset penting yang tercipta dari kebiasaan pola tingkah laku yang konstan. Dari itu semua, aku belajar banyak hal, studi S2 pintar saja tidak cukup. Nilai tinggi saja juga tidak cukup, karena adab dan ilmu itu harus sinergi dan seimbang. Karena bila kita jujur dan perilaku kita baik, kita akan amanah dan dipercaya oleh bos atau atasan kita dimanapun kita berada.

Sekarang aku duduk di semester 3 kuliah magister, mungkin kurang dari satu tahun lagi Aku akan lulus. Indeks Prestasi Kumulatifku (IPK) mungkin tidak sempurna diangka 4.00, mungkin bahasa Inggrisku tidak selancar teman lainnya, tetapi, aku selalu jujur dalam mengerjakan semua tugas dan ujian, tanpa menggunakan jasa joki tugas ataupun mencontek.

Meskipun daftar nilaiku tidak A semua, ada beberapa yang B, aku tidak terlalu peduli. Aku hanya peduli dan khawatir aku tidak paham atas apa yang disampaikan dosen. Oleh karena itu, aku selalu memperkaya wawasan dengan banyak membaca di rumah, berdiskusi dengan banyak kalangan yang sudah mahir dan berpengalaman di bidangnya serta tak lelah dan tak malu untuk bertanya kepada dosen bila ada sub materi yang tidak aku pahami. Karena kunci ilmu itu hanya dua, yakni banyak membaca atau bertanya bila tidak paham.

Dari itu semua, pada tahun 2020 ini Aku bersyukur sekali diminta  dosen untuk menjadi asisten dalam tim risetnya terkait pengembangan ekonomi syari’ah dalam aspek hukumnya yang kelak akan mengembangkan industri halal di Indonesia dari aspek regulasinya. Aku mungkin bukan nomor satu atau  yang terbaik di angkatanku, tetapi aku bersyukur telah dipercaya untuk menjadi bagian dalam sebuah penelitian, karena untuk meniti karier sebagai dosen, kita harus mahir dalam riset dan menulis jurnal ilmiah yang relate dengan jurusan kita.

Sekarang aku mulai tersenyum lega, karena aku mampu membuktikan jalan yang aku pilih adalah benar. Kecemasan orang lain terutama orangtua terkait jalan yang aku pilih ini memudar seiring dengan semua ikhtiar dan pencapaianku selama ini. Yakni menjadi ibu, merintis usaha busana serta studi S2 untuk meniti karier sebagai dosen di Fakultas Hukum kelak tapi ada yang lebih penting dari sekadar membuat orangtua lega, yakni aku bersyukur telah berkontribusi banyak bagi orang sekitar. Meskipun lingkupnya belum nasional atau global, aku akan selalu memberi yang terbaik bagi orang-orang di dekatku dan menebarkan hal dan semangat yang posistif untuk menjadi perempuan yang mampu dan berani memilih perannya. Semoga.

 

 

 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓