Tetap Sibuk Bekerja Sekaligus Merenovasi Rumah di Tengah Pandemi

Endah Wijayanti19 Okt 2020, 08:45 WIB
Diperbarui 19 Okt 2020, 08:45 WIB
tulisan tangan

Fimela.com, Jakarta Kita bisa bersinar melalui setiap pilihan hidup yang kita buat dalam hidup. Baik dalam hal pendidikan, karier atau pekerjaan, dan pilihan soal impian serta cita-cita. Setiap perempuan bisa menjadi sosok tangguh melalui setiap pilihan hidup yang diambil. Seperti dalam tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Oktober 2020: Menjadi Lady Boss Versimu ini.

***

Oleh: Ester Wahyu Kristiani

Halo semua, saya Ester. Senang sekali bisa berbagi kisah ini dengan kalian, siapa tahu kalian punya pengalaman yang sama denganku. Inilah kisah saya.

Setahun yang lalu saya membangun usaha fashion, pada saat itu semua saya kerjakan sendiri dari mulai produksi, promosi, sampai follow up customer langsung. Saya juga meminta seorang staf untuk membantu saya mengelola keuangan. Sampai akhirnya muncul Covid-19 dan bisnis fashion pun berhenti. 

Saya mulai kehabisan modal untuk melanjutkan usaha. Namun bersyukur saya masih bekerja di sebuah perusahaan walaupun terdampak juga dengan peraturan unpaid leave di mana penghasilan saya berkurang 50%. Pada masa-masa itu seluruh penghasilan saya masih dikelola staf saya dan alhasil hidup saya seperti stuck.

Ketika seluruh penghasilan saya dikelola orang lain, entah kenapa saya malah merasa tidak bisa berkreasi. Bagaimana tidak? Karena semua dana yang sedikit itu hanya dipakai untuk "bertahan hidup" dan membayar operasional saja. Saya merasa tidak bahagia dan tertekan dengan kondisi tersebut. Akhirnya saya putuskan untuk mengelola keuangan saya sendiri. Biar pun uangnya sedikit, tapi entah kenapa saya justru begitu bersemangat untuk mengurus keperluan saya sendiri. 

Saya tahu ke depan banyak kewajiban yang harus saya bayar, namun karena saya sudah tahu kondisi sumber daya baik uang dan skill yang saya miliki maka saya semakin kreatif untuk segera menggali sumber-sumber pendapatan yang baru. Saya mulai ikut lomba menulis di berbagai media online dan mengerjakan beberapa project kecil di kantor yang ada insentifnya.

Bagi saya besar atau kecil nominal yang saya dapatkan tidak menjadi masalah yang penting semua itu saya dapatkan dengan cara halal. Sama halnya dengan ikut lomba, menang atau kalah, saya tetap merasa menang karena saya sedang mengalahkan diri saya sendiri agar tidak terjebak dengan rasa putus asa di tengah masa sulit ini. Ketika saya fokus menjaga agar pikiran saya tetap kreatif saya menjadi lebih bebas dan sehat. 

Sampai suatu ketika muncul keinginan saya untuk menggunakan dana yang terkumpul di atas untuk merenovasi dapur, mengingat sekarang sudah musim hujan dan dapur lama saya terlalu sempit untuk aktivitas memasak sehari-hari. Akhirnya saya mulai mendesain dapur, mencari tukang, nego jasa tukangnya, dan beli bahan material. Semua saya lakukan sendiri.

 

Mengelola Waktu

Work From Home
Ilustrasi./ (Foto: DarkWorkX/Pixabay)

Saya pun membuat strategi agar renovasi tetap berjalan, dan saya tetap bisa fokus bekerja di kantor. Akhirnya saya menggunakan jasa tukang borongan yg mau bekerja di hari Minggu saja, di mana saat itu saya sedang libur bekerja dan tukang itu pun tetap bisa bekerja harian di tempat lain. Karena pekerjaan renovasi dilakukan setiap hari Minggu, maka menurut perhitungan saya renovasi dapur akan selesai di akhir bulan depan. Dengan begitu saya masih punya cukup waktu untuk mengumpulkan tambahan uang untuk membayar jasa tukang tersebut. Alhasil kami (saya dan tukang) telah sepakat.

Renovasi dapur pun dimulai. Karena hari libur, maka saya bisa terlibat langsung dalam mengatur pekerjaan apa saja yang akan diprioritaskan untuk diselesaikan hari itu. Hari pertama saya mengarahkan tukang untuk segera memasang bak cuci piring dan memasang atap di area cuci jemur karena cuci piring dan cuci jemur merupakan aktivitas yang saya lakukan setiap hari, apalagi sekarang ini sudah mulai turun hujan.

Sadar karena saya sendiri yang mengontrol langsung keuangan dan pekerjaan renovasi, maka saya harus bertanggung jawab dengan setiap pilihan yang saya ambil. Salah satunya saya putuskan untuk tetap menyediakan konsumsi tiga kali sehari untuk tukang tersebut, meskipun biaya jasa pekerjaan borongan sebenarnya sudah termasuk biaya konsumsi. Alasan saya tetap memberikan konsumsi yang cukup dan bergizi semata-mata agar tukang dapat bekerja dengan efektif dan efisien. Harapan saya jika kebutuhan konsumsi sudah terpenuhi maka tukang dapat fokus bekerja dengan baik.

Coba bayangkan jika tukang harus keluar mencari makan siang, maka akan banyak waktu tertunda, dan seringkali tukang tidak makan makanan yang cukup dan bergizi. Menurut saya, nantinya hal itu justru membuat pekerjaan jadi tidak maksimal. Saya sendiri kalau lapar juga tidak fokus bekerja hehehe.

Jadilah saya mengurus semua keperluan tukang tersebut, biasanya sebelum pekerjaan renovasi dimulai saya selalu menyiapkan semua keperluan konsumsi, peralatan dan bahan dengan baik sehingga tukang pun dapat fokus bekerja. Saat ini pekerjaan renovasi beres, dan pekerjaan di kantor juga beres. Siapa sangka di tengah masa sulit ini saya malah menemukan bakat menulis saya, dan mendapat tambahan pendapatan dari proyek-proyek kecil di kantor, bonusnya bisa renovasi rumah. Ternyata jika disikapi dengan positif dan kreatif, masa sulit ini dapat dijalani dengan baik. Semoga menginspirasi.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓