Meski Mata Tak Lagi Bisa Saling Tatap, Kenangan di Hati akan Terus Menetap

Endah Wijayanti27 Nov 2020, 09:35 WIB
Diperbarui 27 Nov 2020, 09:35 WIB
kisah my forgiveness matters 2

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Mahfrida Salbiyana

Kurang lebih 15 tahun yang lalu aku menangis karena Tuhan telah memanggil salah satu orang yang aku sayang, dia ibuku. Ya mama (sebutanku pada ibu) pergi meninggalkanku ke tempat yang abadi lebih dulu. Lima tahun aku hidup dan momen-momen bersama mama sebelum mama pergi untuk selamanya itu sangatlah berharga namun hanya sedikit yang aku ingat karena usiaku memang masih balita.

Saat Aku Merindukannya

Aku sedang sangat-sangat merindukan mamaku, aku ingat dulu mama sangat suka berfoto dan memotret ku kemudian mama mencetaknya dan ditaruhnya foto itu di dalam album yang sampai saat ini masih ada dan aku simpan rapi dilemari.

Satu hal lagi yang masih kuingat yaitu ketika mama harus melakukan pemeriksaan kesehatannya setiap bulan ke rumah sakit dan setiap mama pulang dari rumah sakit, mama pasti selalu membawakan kutek kuku untukku, dan aku sangat senang karena itu. Banyak momen bersama mama yang hanya kini menjadi kenanganku, yang selalu ku ingat ketika aku merindukannya.

 

Terima Kasih Mama dan Tuhan

cinta ibu dan pekerjaan
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/photographeeeu

Untuk mamaku yang cantik dan kuat, aku rindu mama, aku tidak marah kalau mama pergi meninggalkanku lebih dulu. Mama, aku baik-baik saja di sini, aku menikmati hidupku walaupun kadang ada saja yang membuatku meneteskan air mata.

Mama terima kasih karena telah membuatku menjadi pribadi yang kuat sepertimu, tegar dan mandiri, karena kepergianmu membuat aku harus terbiasa hidup tanpa adanya peran ibu dalam masa pertumbuhanku menjadi dewasa. Jika boleh aku jujur, tanpa mama sungguh sulit aku lalui hidup, tapi aku sungguh tak percaya pada diriku sendiri, aku bisa melewati semuanya sendiri, aku bisa bertahan, dan aku bisa hidup dengan baik, aku bangga dan yakin mama juga pasti bangga pada diriku.

Aku berterima kasih pada mama karena telah mewariskanku rambut lurus dan hitam yang cantik, telah mewariskan kepadaku kuku yang cantik. Kata bude-budeku rambut dan kukuku mirip rambut dan kuku mama, dan kata bapak, cara berjalanku mirip mama juga.

Terima kasih untuk Tuhanku, tanpa kekuatan dari-Nya aku mungkin tidak bisa bertahan sampai saat ini. Untuk mama sekali lagi terima kasih, dan aku sangat merindukan mama. Aku akan berusaha untuk hidup dengan lebih baik lagi dan akan selalu berdoa untuk kebaikan mama dan aku agar disatukan di Surga-Nya kelak. Aamiin.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓