Saat di Perantauan, Barulah Terasa Betapa Berharganya Kebersamaan dengan Ibu

Endah Wijayanti02 Des 2020, 14:35 WIB
Diperbarui 02 Des 2020, 14:35 WIB
kisah cinta masa lalu

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Diena Yashinta

Memilih jauh darimu untuk menggapai cita-cita adalah sebuah keputusan sulit bagi anakmu ini, Ibu. Setiap hari perasaan ini ditumbuhi gerindil-gerindil kecemasan meninggalkanmu di seberang pulau sendirian tanpa anak perempuan. Tapi tubuhmu yang semakin menua, selalu tersenyum kala melepasku di ambang pintu. Mendukung dengan doa-doa, mengharapkan kesuksesan, di mana pun anakmu ini berada.

Ibu, terkadang anakmu ini kurang mengapresiasi apa yang telah Ibu berikan selama ini. Nasi hangat bertengger di meja, menu lauk pauk masih mengepulkan asap, tapi aku dengan kurang ajarnya mengatakan tidak selera. Kini, saat berada di perantauan, anakmu ini terpaku melihat masakan di restoran-restoran yang disajikan tepat di hadapan. Selintas memikirkan, apakah Ibu makan sendirian? Sementara aku duduk dikelilingi banyak teman.

Berpuluh tahun hidup, aku lupa kapan terakhir kali mengucapkan betapa aku menyayangimu, Ibu. Atau tidak pernahku ucapkan karena terlalu gengsi? Aku tidak pernah mengungkap perasaanku padamu, terlalu malu. Tiap kali perasaanku membuncah, pikiran gelisah, hati penuh resah, aku sembunyikan rapat-rapat takut Ibu mengkhawatirkanku. Namun, aku ingin sekali mengatakan anakmu ini mencintaimu, Bu. Lebih dari apa pun. Apa daya, mulutku selalu terkunci kala berada di sisimu, terlalu sibuk memandangi wajahmu yang aku rindu.

Maafkan Anakmu Ini, Bu

cinta ibu dan istri kedua
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/Dragon+Images

Suatu pagi, di tengah gedung-gedung tinggi mencakar langit pagiku, sebuah pemandangan syahdu menyita segenap hatiku. Anakmu ini melihat seorang anak laki-laki usia sekolah menengah pertama tidak segan menggenggam tangan Ibunya yang mengantarkan dia sampai ke gerbang sekolah. Aku bertanya-tanya pada hatiku, kapan terakhir kali aku menggenggam tangan Ibuku? Kapan terakhir aku berjalan kaki berdua saja bersama Ibu? Rasanya sudah lama sekali.

Aku bahkan meninggalkan Ibu yang sudah tua di kampung halaman, sendirian, tanpa anak perempuan. Tiap kali rindu menjalar, selalu kutebas dengan kejam. Semua kulakukan dengan alibi cita-cita. Tiap kali teringat Ibu, aku selalu merayu hati, Ibu sudah meridai jalanku. Tetap saja, anakmu ini tidak mampu menutupi keingin bertemu.

Ibu, maafkan anakmu ini jika tidak pernah meluangkan waktu. Berulang kali membuatmu menjadi yang pertama menghubungiku. Tiap telepon berdering, Ibulah yang pertama menanyakan kabar dan bukan aku. Setiap kali kita membicarakan ini itu di sambungan telepon, selalu Ibu yang bertanya, "Sudah makan, Nak?" Sedang aku dengan bangga menjawab, "Sudah," dan lupa menanyakan hal yang sama padamu, Bu.

Sungguh, anakmu ini ingin pulang menemuimu. Aku ingin tetap tinggal di sampingmu sambil bercengkrama bercerita itu dan ini. Menyantap masakanmu yang selalu memenuhi meja makan meski cuma ada kita berdua. Tertawa terbahak ditemani secangkir teh duduk di ruang depan menghabiskan senja di bawah rintik hujan yang jemawa.

Ibu, terima kasih telah menjadi orangtuaku. Betapa beruntungnya anakmu ini dilahirkan dari rahimmu yang hangat dan tangan lembuh lagi penuh cinta dan kasih sayang. Ibu, terima kasih atas semua kesabaranmu yang selalu memelukku dalam dekapan doa-doamu.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓