Di Balik Ketangguhan Seorang Perempuan, Ada Sosok Ibu Hebat yang Telah Banyak Berkorban

Endah Wijayanti08 Des 2020, 10:53 WIB
Diperbarui 08 Des 2020, 10:53 WIB
cinta ibu dan pengorbanan besarnya

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Siti Zamzawiyah

Secercah harapan terus tumbuh ketika aku bersamamu, Ibu

Ribuan kilometer jalan yang kau tempuh

Lewati rintang untuk aku anakmu

Ibuku sayang masih terus berjalan

Walau tapak kaki

Penuh darah penuh nanah

Seperti udara

Kasih yang engkau berikan

Tak mampu aku membalas

Ibu

Lagu indah nan menyanyat hati bagi insan yang mendengarnya. Makna dalam yang tersirat seakan menggambarkan besarnya jasa seorang ibu terhadap anaknya. Sebutan bidadari tanpa sayap begitu pantas disandang oleh sosok Ibu. Sosok yang bahu membahu berjuang untuk memberikan kasih terbaik untuk anaknya. Segala keterbatasan diterjangnya dengan kegigihan untuk menampilkan persembahan terbaik baik anaknya.

Semangat membara membalut jiwa dalam membimbing anaknya untuk menyelami luasnya lautan kehidupan. Obor semangat telah membawa penerang di tengah gelapnya pandangan seorang anak. Ya, semua itu tak jauh dari perannya seorang Ibu. Peran yang nantinya menjadi ujung tombak atas suatu keberhasilan anak. Peran yang nantinya menjadi penentu arah masa depan anak akan dibawa ke depannya. Dan semua itu sudah cukup menjadi alasan kenapa peran dan jasa seorang Ibu begitu luar biasanya, sehingga tak ada alasan untuk tidak menghargai dan menghormati sosok Ibu. Berkat seorang Ibu itu jugalah bibt-bibit emas generasi muda sebagai penentu bangsa dilahirkan.

Tak ubahnya pahlawan dalam memperjuangkan kebebasan. Perjuangan yang penuh kasih untuk menuntaskan segala batas akan pengetahuan. Perjuangan yang serat makna dalam menuntun anaknya menyeberangi gelapnya pandangan akan kehidupan. Itulah setidaknya makna penting Ibu yang ikut andil membantu melewati proses pemaknaan. Maka lewat goresan tinta inilah akan aku tuliskan sekelumit surat untuk Ibuku tercinta. Untaian cinta untuk menggambarkan sosok pahlawan yang membantu mengarungi pemaknaan akan luasnya samudera ilmu kehidupan.

 

 Ibuku yang Begitu Tangguh Menghadapi Kepahitan Hidup

dengan ibu
Dengan ibu./Copyright Siti Zamzawiyah

Kalimat kagum mengawali tulisanku tentang Ibu. Perasaan bangga terus menyelimuti ketika ditanya tentang sosok Ibu. Haru, sedih, bahagia begitu banyak rasa bercampur menjadi satu ketika mengenang semua tentang Ibu.

Ibu yang sudah hampir 10 tahun hidup sebagai single parent harus terus berjuang untuk bisa mencukupi kehidupan anaknya. Tentunya semua itu tak mudah, bahkan sangat tidak mudah. Pekerjaan Ibu yang hanya seorang petani mau tidak mau harus tetap bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Maka menjadi hal yang wajar ketika banyak terlilit utang di sana sini, guna menutupi kekurangan dalam memenuhi kebutuhan. Mungkin untuk beberapa waktu itu terlihat baik-baik saja, tetapi tidak untuk jangka panjangnya. Hingga sebuah peristiwa itu terjadi.

Aku terlahir sebagai anak ke-2 dari 3 bersaudara. Aku punya kakak laki-laki dan adik perempuan. Sebuah suasana menyenangkan bukan, ketika diapit oleh seorang kakak dan adik? Seharusnya begitu menyenangkan memang. Bisa berbagi cerita dan bermain bersama dengan mereka berdua. Namun hal yang sangat disayangkan adalah ketika sebuah musibah itu terjadi hingga dengan cepatnya merenggut kebahagiaan hidup sebuah keluarga.

Tepat ketika aku kelas 3 SMP, ayahku meninggal dunia. Kehidupan yang awalnya menyenangkan berubah begitu menakutkan. Kehidupan yang awalnya baik-baik saja berubah begitu mengkhawatirkan. Hidup seakan berserakan. Kekurangan dana di mana-mana menjadi persoalan utama sebagai pemicunya.

Musibah yang terjadi seakan membawa angin yang begitu kencang, hingga mampu memporak-porandakan pondasi keluarga yang kokoh. Kakakku laki-laki pada dasarnya merupakan pribadi yang keras kepala, pembangkang, namun masih mau mendengarkan nasihat orang tuanya. Kakak sebagai anak pertama begitu menyanyangi dan mengayomi kedua adiknya, yang kebetulan cewek semua. Namun hal ini begitu cepat berubah semenjak ayahku meninggal.

Sifat pembangkang yang memang sejak dulu ada kian semakin parah. Sifat pemarah dan berani ke orang tua seolah-olah muncul begitu saa ketika Ayah sudah tidak ada. Tak jarang Ibu sering dicaci maki, dibentak, bahkan uang yang seharusnya untuk menyambung hidup sehari-hari tak jarang dirampasnya.

Pernah suatu kondisi ketika Ibu benar-benar tidak punya uang, kakakku meminta uang untuk bermain dengan teman-temannya. Dengan sifat kerasnya, dia memaksa minta tanpa milihat kesanggupan Ibunya waktu itu. Dengan teganya dia memaki ibu, mengeluarkan kata menjijikkan yang tidak pantas untuk diterima oleh seorang Ibu, bahkan memukul Ibu hingga sampai pingsan tak sadarkan diri.

Aku yang pada waktu itu masih kecil, tentu belum bisa berbuat apa-apa. Menangis dan takut adalah hal yang mengiringiku pada waktu itu. Begitu miris dan menyayat hati melihat Ibu yang begitu aku sayangi diperlakukan tak pantas oleh anaknya sendiri.

 

Ibu, Bersabar Dulu ya! Akan Ada Waktunya Aku Membawamu ke Hidup yang Menyenangkan

cinta ibu dan harapan hidup
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/KomootP

Semenjak peristiwa itu, aku bertekad untuk berjuang lebih keras lagi. Berusaha untuk memaksimalkan segala potensi dan kesempatan dalam menunjang masa depan. Sebuah prinsip untuk tidak akan menyia-nyiakan perjuangan seorang Ibu yang begitu keras dalam berjuang membesarkan anak-anaknya.

Tak akan aku biarkan senyum ikhlas dan raut lelah begitu saja terabaiakan. Tak akan ada lagi nada  makian yang didengar Ibu. Tak ada lagi air mata yang berderai jatuh begitu derasnya. Dan tidak ada lagi pukulan yang akan melayang di badannya yang mulai tua dan renta. Tidak akan ada lagi Ibu, aku janji. Aku berjanji untuk terus berusaha membawa senyuman itu merekah indah dibibirmu. Membawa canda tawa yang akan selalu terngiang ketika aku mendengarkan. Membawa kenangan yang begitu manis nan indah untuk mengisi masa-masa tuamu kelak. Aku berjanji Bu. Bertahanlah sedikit lagi. Bertahanlah hingga aku mampu mewujudkan semua itu untukmu, Bu.

Aku sadar, tiada manusia yang terlahir hebat sendirian, begitu pun dengan seorang anak. Betapa pun hebat seorang anak, pasti akan ada sosok Ibu yang menjadi promotornya. Banyak proses kutempuh, berbagai langkah kujalani, dan tentunya rintangan yang siap menghadang pun tak luput sebagai pelengkap dalam mengarungi setiap alur perjuanganku. Namun yang tak terlupakan adalah peran dan bimbingan seorang Ibu yang turut andil menjadi penentu keberhasilan dalam proses menuju perjuanganku.

Lewat goresan inilah penghormatan kepada Ibu kusampaikan. Ucapan terima kasih yang tidak akan cukup untuk menggambarkan jasanya yang begitu besar dalam mengiringiku untuk berproses dan bertumbuh. Terima kasih Ibu atas pancaran obor yang telah berhasil menerangi sisi jalanku yang begitu remang. Dan terima kasih Ibu atas jalan yang berhasil kau bukakan untuk mengantarkanku mencoba menerjang banyak jalan yang jauh lebih keras di depan sana. Dan sekali lagi terima kasih Ibu, atas semua pengorbanan dan penderitaan yang rela kau tanggung hanya demi kebaikan anakmu. Terima kasih Ibu.

“Seorang Ibu adalah dia yang dapat menggantikan semua yang lain,

tetapi yang tempatnya tidak dapat diambil orang lain”

(Cardinal Mermillod)

 

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓