Membesarkan 3 Anak Perempuan Seorang Diri dengan Tangguh, Ibuku Panutanku

Endah Wijayanti10 Des 2020, 13:15 WIB
Diperbarui 10 Des 2020, 13:52 WIB
kejujuran perasaan perempuan

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Yunita Soekandar

Masih terbayang jelas dalam ingatanku bagaimana ibu menyayangiku. Setiap hari ibu selalu menyempatkan waktu untuk menyiapkan bekal, merawat rambutku,  menemani belajar dan mendongeng hingga aku terlelap. Doa malam ibu pun tak pernah surut demi kebahagiaanku.

Saat kutulis cerita ini, ada berjuta rindu bergelora dalam dada. Ingin kembali kurasakan dekapan hangat pelukan ibu tapi apa daya, ibu sudah bahagia di surga.

Bagiku, ibu adalah perempuan yang hebat. Ibu mampu membesarkan ketiga anak perempuannya tanpa kenal lelah.

Ibu pernah bercerita tentang masa lalunya.

Saat itu ibu memutuskan menikah di usia 19 tahun. Si saat kebahagiaan datang, ibu ditinggal suaminya untuk selama-lamanya dengan meninggalkan anak yang baru berumur 4 tahun, 2 tahun dan 7 bulan dalam kandungan.

Belum genap usia 25 tahun tapi ibu sudah harus menjalani hidup sendiri. Begitu banyak godaan, hinaan dan cacian yang ibu rasakan demi membesarkan anak- anaknya. Ibu tak pernah putus asa. 

Perjuangan Ibu Hingga Menutup Mata

cinta ibu dan pengorbanan besarnya
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/tongpatong

Perjuangan ibu sungguh luar biasa dalam mendidik, membesarkan dan menjadikan anak-anaknya bisa mandiri. Ibu berjualan baju-baju dan menjadi pelatih senam. Banyak pengalaman hidup ibu yang menjadi pembelajaran hidupku.

Terima kasih ibu, engkau telah mendidikku menjadi perempuan yang mandiri. Berbekal ijazah SMA dan kerja keras, aku bisa bekerja dan menyisihkan sedikit uang untuk membantu ibu. Tekadku adalah meringankan beban ibu dan membantu biaya adik-adik sekolah sampai sarjana. Ibu selalu memberiku semangat hingga suatu hari ibu jatuh sakit. 

Ibu divonis kanker serviks stadium 4. Entah mengapa ibu tak merasakan sakit sebelumnya, sampai ibu pendarahan hampir satu minggu. Setelah check-up ternyata kankerlah penyebabnya. Tiga bulan ibu terbaring lemah dan memucat. Berat badan turun sangat drastis. Meski begitu, ibu masih tetap tersenyum dan bisa menghibur anak-anaknya untuk tidak bersedih. Ibu memang hebat dan kuat. Sudah sesakit itu tapi tak pernah mengeluh sedikit pun.

Di saat terakhirnya, ibu perpesan jika beliau meninggal, aku sebagai anak tertua tak boleh menangis. Selain itu, aku juga harus menjaga adik-adik sampai mereka menikah. Aku mengangguk dan memeluk tubuh ibu erat. Saat itulah ibu pergi untuk selama-lamanya.

Ibu, maafkan aku jika aku tak bisa menahan air mata saat kepergianmu. Aku akan selalu menjaga adik-adik dan meneruskan cita-cita dan  harapan yang belum ibu wujudkan.

Doakan aku ya, Bu. Meski tanpamu aku tetap harus menjalani hidup ini. Semoga aku bisa seperti yang ibu harapkan. Terima kasih ibu.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓