Di Sisa Hidup yang Batasnya Hanya Diketahui Tuhan, Aku Janji Membuatmu Bahagia

Endah Wijayanti13 Des 2020, 12:15 WIB
Diperbarui 13 Des 2020, 12:15 WIB
cinta ibu dan keinginan membahagiakannya

Fimela.com, Jakarta Seorang ibu menjadi sosok yang paling istimewa di hati kita. Saat menceritakan sosoknya atau pengalaman yang kita miliki bersamanya, selalu ada hal-hal yang tak akan bisa terlupakan di benak kita. Cerita tentang cinta, rindu, pelajaran hidup, kebahagiaan, hingga kesedihan pernah kita alami bersama ibu. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2020: Surat untuk Ibu berikut ini.

***

Oleh: Andi Anissa Ivana Putri

Suatu ihwal baru ternilai harganya ketika sudah lenyap. Raib ditelan momentum atau perihal lainnya. Adam dan Hawa baru menyadari nikmatnya Taman Firdaus ketika sudah menjejakkan kaki di bumi. Satu gelas air putih baru terasa nikmat saat kerongkongan dilanda dahaga. Siang hari baru terasa hangatnya ketika angin malam menusuk kulit dan menciutkan keberanian.

Dan, untaian kasih sayang dan perhatian seorang ibu baru terasa amat berarti ketika seorang anak beranjak dewasa.

Sejak awal seorang cikal manusia ditiupkan ruh ke dalam raganya, manusia yang disebut ibu telah menjadi pelindung pertamanya. Keluar dari rahim setelah 9 bulan, kehangatan ibu lagi-lagi yang membuat bayi menangis kencang, mendeklarasikan kehadirannya di dunia ini.

Hujan afeksi dan proteksi turun deras selama bertahun-tahun. Lewat begitu saja diiringi pertambahan usia, bentuk fisik, dan seragam sekolah. Lalu, pada satu titik tertentu seorang anak yang terbiasa mendapat perlindungan dari seorang ibu akan mencapai kebebasan.

Si anak pada awalnya senang, akhirnya melihat dunia di atas kakinya sendiri. Namun, lama kelamaan dunia juga melepas topengnya, memperlihatkan wujud aslinya yang ternyata busuk dan penuh ilusi.

Kebebasan yang tadinya menggiurkan kini terasa membingungkan. Ada apa ini? Tidak ada lagi yang melindungiku. Di mana ibu? 

Aku Berjanji Membuatmu Bahagia

cinta ibu dan harapan hidup
Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/g/KomootP

Maka di antara rasa gengsi dan kalut, panggilan telepon yang menjembatani suara pemberi rasa tenang itu menjadi penolong di tengah carut-marut permasalahan duniawi.

“Iya, ada apa, nak? Cerita saja. Kamu sudah makan? Jangan sampai sakit, ya. Kemarin kamarmu ibu bersihkan. Barang di lemari pojok juga ibu buang beberapa, ya? Isinya mainan lamamu semua. Nanti kalau kamu pulang, ajari ibu cara belanja online, ya?”

Mungkin percakapan seperti itu tidak memiliki inti dan arti yang mendalam, tapi dalam beberapa menit panggilan virtual dari ibu bisa menolong hidup seorang anak.

Apa rahasia di balik magisnya keberadaan ibu? Pikiran itu sering mengambang di kepalaku, menyusup tanpa izin di sepinya tengah malam. 

Apakah bisa aku menjadi orang seperti ibu? Yang selalu mendahulukan kepentingan anak dibanding dirinya sendiri. Yang bisa mencerahkan rangkaian minggu yang buruk dengan percakapan beberapa menit. Yang membuat dunia terasa lebih baik berkat kehadirannya.

Satu hal yang selalu aku kagumi dari sosok ibu, bukan hanya ibuku tapi seluruh ibu di dunia adalah nihilnya edukasi formal mengenai cara menjadi seorang malaikat penolong. Tidak pernah sekalipun kutemukan instansi yang mengajari ‘cara menjadi seorang ibu’. Namun terlepas dari itu semua, ibu bisa bertransformasi menjadi sosok luar biasa yang membuka jalan terang untuk hidup anaknya.

Apakah aku bisa menyampaikan hal ini secara eksplisit kepada ibu? Mengenai bagaimana aku bersyukur telah ditetapkan oleh Sang Pencipta menjadi anaknya. Mengenai betapa rindu masa kanak-kanak yang tenang, aman, tanpa rasa khawatir. Mengenai banyaknya rasa terima kasih yang ingin kusampaikan atas didikan kerasnya yang dulu sangat kubenci.

Bibirku selalu kelu setiap ingin melontarkan ucapan manis di depan ibu. Malu, aku malu.

Aku ingat bagaimana ibu selalu mendekapku ketika aku masih kecil, tapi kini kaku rasanya mendekap tubuh yang kian mungil itu di pelukanku.

Ibu mungkin jarang mendengarku mengucap kata sayang, tapi ketahuilah, Bu, aku selalu menyelipkan namamu di setiap sujudku. 

Oleh sebab itu kutulis surat ini, yang sekiranya akan dibaca oleh ibu. Surat yang ditulis dengan bahasa yang cantik karena lagi-lagi, anakmu ini masih malu untuk berkata gamblang.

Terima kasih telah memberi seluruh waktu dan masa mudamu untuk merawatku. Waktu adalah satu-satunya substansi yang tidak bisa ditukar oleh apa pun. 

Maaf bila keras kepalaku kadang membuatmu meneteskan air mata. Jika boleh jujur, banyak waktu kuhabiskan menyesali hal-hal yang tidak seharusnya kulakukan kepadamu.

Di sisa hidup kita yang batasnya hanya diketahui oleh Tuhan, aku janji akan membuatmu bahagia.

#ChangeMaker

Lanjutkan Membaca ↓