Seringkali Perempuan Menangis Bukan Minta Dikasihani, tapi Hanya Ingin Tenangkan Diri

Endah Wijayanti21 Jan 2021, 14:45 WIB
Diperbarui 21 Jan 2021, 14:45 WIB
menangis

Fimela.com, Jakarta Ada ucapan yang sangat membekas dari Sadness dalam film Inside Out. Sadness mengatakan, “Crying helps me slow down and obsess over the weight of life’s problems.” Apa yang dirasakan Sadness mewakili perasaan sebagian besar di antara kita bahwa menangis bisa membantu kita menenangkan diri.

Sebagai perempuan, kadang air mata kita masih disalahartikan sebagai cara untuk meminta perhatian atau malah meminta untuk dikasihani. Padahal tidak selalu begitu. Adakalanya seorang perempuan menangis karena memang ingin menenangkan diri, bukan untuk minta dikasihani.

 

Menangis Bisa Memberi Kelegaan Emosional

Menangis bisa menghadirkan katarsis. Ada kelegaan emosional yang dapat kita rasakan setelah menangis. Saat ada tekanan atau perasaan tak nyaman hadir dalam diri kita, memendamnya saja hanya akan menambah tingkat stres. Mengeluarkan air mata dan menangis meluapkan rasa sesak dan tertekan itu bisa membantu kita merasa lebih nyaman.

Menangis bisa cukup efektif untuk meredakan stres. William Frey, seorang ahli biokimia yang meneliti air mata menemukan dalam sebuah studi bahwa air mata emosional (seperti menangis karena sedang stres atau saat sedang berduka) mengandung lebih banyak produk sampingan beracun daripada air mata yang disebabkan oleh iritasi seperti ketika mengupas bawang bombay. Bukan berarti air mata kita beracun, ya. Akan tetapi dengan menangis maka racun yang tertumpuk karena stres bisa dikeluarkan. Sehingga menangis semacam terapi alami untuk redakan stres.

Menangis Membantu Mengurai Keaadan Penuh Tekanan

Menangis
Ilustrasi/copyrightshutterstock/9nong

Ada penelitian menarik. Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Emotion menemukan bahwa menangis mampu meregulasi sistem pernapasan selama menghadapi situasi penuh tekanan. Penelitian tersebut dilakukan di University of Queensland. Dalam penelitian itu, peneliti melakukan tes rasa dingin (Cold Pressor Stress Test) terhadap 197 perempuan untuk mengetahui reaksi emosional mereka. Dalam eksperimen penelitian tersebut, detak jantung dan aktivitas pernapasan mereka dimonitor. Apa hasil dari penelitian tersebut?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa para perempuan yang menangis memiliki detak jantung lebih stabil dan pernapasan lebih rileks karena mereka mengeluarkan emosi mereka melalui tangisan tersebut. Leah Sharman sebagai penulis penelitian memaparkan bahwa menangis mampu membantu menjaga tubuh kita stabil dan tenang dengan cara memperlambat dan mengatur pernapasan, sehingga detak jantung ikut melambat.

Saat kita merasa sedih, stres, atau berada di kondisi yang penuh tekanan, menangis bisa menjadi salah satu cara efektif untuk menenangkan diri. Bahkan kita bisa menangis puas sampai seakan tak bisa bernapas. Seperti kata Sadness, "We could cry until we can't breathe!" Kita boleh menangis sampai tak bisa bernapas. Tapi tentu saja setelah perasaan lebih baik, kita sudahi menangisnya ya.

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓