Ulasan Buku Honjok: Seni Hidup Sendiri

Endah Wijayanti01 Feb 2021, 07:15 WIB
Diperbarui 01 Feb 2021, 07:15 WIB
honjok

Fimela.com, Jakarta Masih ada orang yang memandang orang yang serba apa-apa sendirian adalah orang yang kesepian atau menyedihkan. Bahkan pandangan terhadap orang yang makan sendirian di restoran atau menonton film sendirian di bioskop masih ada yang kurang bagus. Padahal tidak ada yang salah dengan melakukan banyak hal sendirian, termasuk tinggal sendirian.

Di Korea Selatan, ada yang istilahnya honjok. Apa itu honjok? "Hon" adalah kependekan dari "honja", artinya sendirian; "Jok" artinya suku. Jadi, "honjok" berarti "suku penyendiri". Seperti yang dijelaskan dalam buku Honjok: Seni Hidup Sendiri, meskipun tidak ada definisi sosiologis yang tepat untuk istilah atau kelompok yang diuraikannya, para honjok umumnya memilih untuk melakukan kegiatan sendirian dan memanfaatkan kemandirian mereka. 

Seni Hidup Sendiri

honjok 1
Honjok./Copyright Endah

Judul: Honjok: Seni Hidup Sendiri

Penulis: Crystal Tai & Francie Healey

Alih bahasa: Sofia Mansoor

Adaptasi sampul: Isran Febrianto

Tata letak isi: Mulyono

Foto/ilustrasi: Ji-en Lee, Dawool, Woocat, Yummyphotos, Lucy Palmer

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Honjok adalah istilah Korea Selatan untuk orang yang melakukan kegiatan sendirian. Praktik hidup sendiri dan berada sendirian adalah fenomena global yang sedang berkembang, sebagian karena isolasi yang disebabkan oleh media social dan teknologi, sebagian karena banyaknya individu yang memilih untuk tetap melajang lebih lama. Buku yang hadir tepat waktu ini menganalisis tren honjok dengan terlebih dahulu menjelaskan perbedaan antara kesepian dan sendirian. Lalu menawarkan strategi praktis untuk pergi sendirian—makan di luar, mengunjungi pameran, atau bepergian, misalnya—dan meneliti bagaimana introspeksi diri dapat menghadirkan peluang untuk menemukan diri kita yang sesungguhnya dan membangun harga diri, yang pada akhirnya akan menumbuhkan kebahagiaan dan kepuasan yang lebih besar. Dengan menyajikan dukungan praktis, psikologis, dan inspirasional, buku ini membantu mereka yang akan memulai petualangan solonya untuk merangkul kesendirian dan kemandirian dengan rasa percaya diri.

***

Buku Honjok: Seni Hidup Sendiri memuat latar belakang gerakan honjok di Korea Selatan hingga sejumlah panduan tentang menikmati kesendirian. Ada perbedaan antara kesepian dan kesendirian yang dijabarkan dalam buku ini. Bukan hanya orang bertemperamen introver saja yang butuh menyendiri. Orang ekstrover pun bisa saja sengaja meluangkan waktu untuk menyendiri atau memilih menjalani hidup sendirian.

Pada Bab Seni Mempertahankan Kesadaran di buku ini, kita diajak untuk lebih mengenal diri sendiri. Kembali menyelami diri dan perasaan kita. Hingga kembali untuk merenungkan nasib yang kita tentukan sendiri dan membangun harga diri. 

Sementara itu, pada Bab Menyendiri, ada sejumlah strategi, kiat, dan tips tentang melakukan banyak hal seorang diri. Sepertinya tips-tipsnya pun bisa dipraktikkan juga oleh orang-orang yang sedang butuh waktu sendiri (tidak harus menjadi bagian dari kaum honjok). Ada beberapa tips praktis yang bisa diaplikasikan saat kita butuh waktu atau jeda untuk melepas stres dengan menyendiri.

Rasanya buku ini akan lebih menarik jika dilengkapi dengan kisah-kisah atau cerita nyata dari kaum honjok. Akan menarik jika ada pemaparan pengalaman atau keseharian dari orang-orang Korea Selatan misalnya, yang memilih untuk menjadi keluarga tunggal atau bagian dari honjok. Sehingga bisa membuat kita mendapat gambaran nyata tentang kehidupan dan tantangan yang dihadapi kaum honjok. 

Walau sejumlah isu di balik gerakan honjok ditemukan di Korea Selatan, tapi gerakan ini juga berlangsung secara global. Gerakan suku penyendiri terus bermunculan di berbagai pelosok dunia. Melalui buku Honjok: Seni Hidup Sendiri ini kita mendapat wawasan baru tentang gerakan honjok serta berbagai strategi praktis yang bisa diterapkan untuk menikmati atau memilih kesendirian. 

#ElevateWomen

Lanjutkan Membaca ↓